Total Tayangan Halaman

Senin, 03 Februari 2014

Sendu dalam Hujan

Malam ini rintik hujan yang turun seakan enggan untuk berhenti. Membawaku pada suasana sendu yang menyesakkan. Mengembalikan memoriku pada masa-masa indahku bersama Ezza, mantan pacarku. Yaa, aku dan dia berpisah tanpa sebab yang belum bisa aku terima secara logika. Hujan memang membuatku mejadi lebih sensitif. Seolah memberikan gaya gravitasi pada kelenjar airmata, ketika air hujan turun airmata ini jatuh menyertainya..

Ketika aku menikmati pergelutanku dengan sendunya malam karena hujan, Handphone pintarku berdering.

Nampak sebuah nama yang tak asing bagiku, Tania. Dia adalah salah satu sahabat terbaikku.

"Best, lo dimana? Ngopi yuuk? Gue suntuk nih." tanyanya di seberang sana.

"Eengh... Gue di rumah kok. Yaudah lo jemput gue kesini aja. Gue juga lagi nganggur kok nih." jawabku pelan menutupi suara sengau akibat menangis.

"Oke, gue otewe sekarang. Gue sampe lo harus udah ready to go." serunya semangat.

Lima belas menit kemudian, suara klakson mobil Tania berbunyi mengalahkan suara rintik hujan. Akupun bergegas keluar, mengunci pintu rumah dan menghampiri mobil Mazda 2 berwarna hijau milik Tania. Ketika memasuki mobil itu, aroma khas vanilla menusuk hidung. Aroma yang aku suka, bagiku menenangkan. Mobil pun melaju menembus titik hujan. Jalanan nampak sepi, tak seramai biasanya.

"Coba tiap hari jalanan sepi kayak gini. Kan asik, nggak perlu capek nahan emosi pas macet." celetuk Tania

"Bisa sih, tapi kalo yang bikin jalan ini kakek lo." jawabku sekenanya.

 Tania hanya tertawa kecil, kemudian menyalakan playlist faforitnya. It Will Rain milik Bruno Mars kini sedang diputar, menambah sendu suasana. Rasanya airmata ini ingin terjatuh untuk kesekian kalinya. Terlalu sulit untuk melupakan Ezza, terlebih karena waktuku bertemu dengannya amat sangat sering. Kami kuliah di fakultas yang sama, jurusan yang sama, dan juga mengambil beberapa kelas yang sama. Ditengah perasaanku yang berkecamuk, tiba-tiba mobil berhenti.

"Best, lo nggak turun?" tanya Tania padaku.

"Udah sampe yaa? Haha." jawabku seraya tertawa kecil.

Kami memasuki coffee shop langganan kami. Para barista yang telah mengenal kami sudah hafal apa yang akan kami pesan.

"Satu Hot Chocolate ekstra mint, satu Cappucino ekstra cinnamon, plus dua gelas air putih." seloroh pelayan coffee shop tersebut.

Tania hanya mengacungkan dua jempol seraya tersenyum manis kepada pelayan tersebut. Dia lalu menyusulku ke arah sofa berwarna merah-hitam dengan meja bundar yang berada di balkon lantai dua coffee shop itu. Sungguh nyaman. Rasanya sama seperti di rumah. Aku memandang ke jalan di bawah sana. Menikmati suara tetesan air hujan yang mulai mereda. Aroma tanah setelah hujan juga membuatku sedikit lebih tenang.

"Gimana lo sama Ezza? Udah baikan lagi atau tambah parah?" tanya Tania seraya menyalakan rokok L.A ice-nya.

"Gue nggak ngerti. Gue nyerah, terserah dia mau ngapain juga. Gue nggak peduli." jawabku. Aku pun ikut menyalakan rokok.

"Sejak kapan lo ngerokok, Best?" tanya Tania kaget. Alisnya terangkat.

"Haha.. Sejak gue putus sama Ezza." jawabku sekenanya. Kuhisap rokokku. Menahannya. Kemudian menghembuskannya. Beharap kenanganku bersama Ezza pergi seiring hembusan asap rokok itu.

"Lo gila. Gue nggak nyangka Ezza bisa bikin lo frustasi sampe segitunya." kata Tania

"Gue curiga dia ada main di belakang gue sama si Kee. Soalnya dia deket banget sama si Kee. Tapi pas gue tanya ada hubungan apa mereka, dua-duanya bilang nggak ada apa-apa."

"Hah? Si Kee? Dia kan yang paling deket sama lo. Sama si Ezza juga." tanya Tania kaget. "Nggak mungkin lah si Kee kayak gitu. Lagian kan dia juga lagi PDKT sama si Reza."

"Iyaa gue ngerti. Gue paham. Tapi lo tau kan, si Kee udah kenal lama sama si Ezza. Bahkan sebelum mereka kenal gue. Si Ezza juga sempet perhatian banget sama si Kee sebelum sama gue." jawabku. Kembali kuhisap dalam-dalam rokok di tanganku. "Tapi gue ngerasa deketnya mereka itu deket yang nggak wajar. Bayangin aja, mereka jalan bareng ke mall nyari barang entah apa, dan nggak ada satupun dari mereka yang pamit ke gue. Mereka tanpa rasa bersalah dan bersikap biasa aja sama gue walaupun gue udah mergokin mereka berdua jalan bareng."

"Elo serius? Lo nggak bohong? Gue nggak nyangka si Ezza kayak gitu. Yaaa berarti emang bener, bisa aja mereka punya hubungan lebih di belakang lo." kata Tania mulai ikut membenarkan. "Lo udah coba tanya ke mereka gitu soal hal ini?"

"Belum." jawabku singkat seraya mengaduk secangkir cappucino yang tersaji di depanku. Kuminum pelan.

"Yaa gue sih nyoba mikir positif aja sama mereka. Gue percaya mereka nggak ada niat buat nyakitin gue. Walaupun gue emang sakit sebenernya."

"Elo tuh terlalu polos jadi cewek. Lo jangan sebaik ini dong sama orang. Mikir positif itu bagus, tapi sekali-kali lo juga harus punya pikiran negatif sama semua orang di sekitar lo. Kalo lo ngalah terus, lo bakal dianggap remeh sama mereka. Harga diri lo bakal di injak-injak. Plis deh Adellinaaaaa, wake up!" kata Tania yang mulai kesal padaku. Wajahnya merah padam.

"yaaa terus gue harus gimana? Gue sayang sama mereka, gue nggak tega aja buat jujur nanya soal ini. Gue nggak mau tengkar."

"Adellinaaaaaa, my best friend yang paling cakep tapi bloon. Nih yaa gue kasih tau, lo itu jangan mikirin perasaan nggak tega ataupun nggak enak lo sama orang terus. Lo harus mikirin perasaan lo sendiri juga. Itu penting. Apa perlu gue yang ngomong sama mereka?" kata Tania seraya memelukku. Air mataku mulai jatuh perlahan. 

Aku hanya bisa terdiam dan berpikir. Aku merenungi semua yang dikatakan Tania padaku. Mungkin aku yang terlalu baik, mungkin aku yang terlalu bodoh. Terlalu memuja cinta yang akhirnya mengabaikan logika.

Menyakiti perasaanku sendiri dengan berbagai asumsi yang entah benar terjadi atau hanya sekedar ilusi.
Kuhabiskan malamku di coffee shop ini dengan lebih banyak diam. Mengamati rintik hujan yang turun kembali. Meneguk sisa-sisa pahitnya cappucino dan menghisap berbatang-batang rokok hanya demi sebuah penghapusan memori.

Bagaimana dengan Tania? Dia hanya terdiam, memberikan pelukan terhangat seorang sahabat. Aku tersenyum kecut dalam tangisan. Mencoba merengkuh ketenangan dalam pelukan, berdamai dengan perasaan.


Yaaah, oke readers, sekian cerita iseng yang gue bikin buat lo semua. Semoga lo nggak males bacanya. Good night and see you.... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar