Total Tayangan Halaman

Minggu, 02 Februari 2014

"rasa"

Piye perasaanmu? Gimana rasanya? Yaa bahagia, yaa deg-degan, yaa gitu deh.

Bukan hal yang penting sih, tapi berkesan. Banyak pertanyaan yg seketika muncul di otak.
 
Lo suka sama dia? Lo berharap bisa deket sama dia? Lo berharap jadian sama dia? Lo berharap dia jodoh lo? Lo berharap nanti dia yg bakal nikah sama lo?
 
Yaa, pertanyaan seperti itu yg penuh mengisi. Pertanyaan yg berkaitan dengan perasaan. Entahlah, gue bingung sendiri buat jawab pertanyaan itu.
 
Gue cuma mikir, gue kenal sama dia aja udah bahagia kok. Apalagi bisa deket gini sama dia. Gue nggak berharap bisa jadian sama dia. Apalagi nikah sama dia. Gue belum kepikiran buat nikah. Sama sekali. Gue sekarang lagi ada di zona nyaman gue bareng dia.
 
Tapi, lagi-lagi otak sama hati ini nggak mau kompromi. Otak sama hati yg bertentangan dan nggak sinkron ini bikin sisi munafik gue keluar.
 
Ketika otak gue berlogika dan bilang dengan deket aja gue bahagia, hati gue bilang nggak. Hati ini bilang gue harus bisa milikin dia. Disinilah sisi munafik gue muncul, dan gue benci hal ini. Gue suka tapi bilang biasa aja, gue cinta tapi nggak berani ngaku. Yaa, gue munafik. Gue bohong sama diri gue sendiri. Gue bohong soal gimana perasaan gue yg sebenarnya.
 
Sekarang gue harus gimana? Gue nggak tau. Gue masih belum bisa ngendaliin diri gue sendiri. Gue belum bisa bikin hati dan otak gue sinkron. Yaa, mungkin gue harus sembunyi dari kenyataan selama beberapa waktu. Juga harus jadi sosok yg munafik sampai nanti waktunya gue udah berani keluar dari zona munafik itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar