Cinta dan luka. Dua hal yang sepertinya tidak akan bisa terpisah. Dimana ada cinta, pasti akan ada luka yang mengiringinya. Sama seperti cinta ini, kau berikan tanpa kau sadari, menyisakan luka untukku yang entah bagaimana aku mengobatinya.
Aku tidak pernah paham pada konsep cinta yang mempertemukan kita. Pertemuan yang akhirnya tak bisa bersama. Kita bertemu pada waktu yang salah, tapi bagiku tetap meninggalkan kesan indah yang rasanya susah untuk dilupakan begitu saja. Dunia kita berbeda. Kita sama-sama tak memberikan waktu untuk saling mencoba, mengenal satu sama lain. Mungkin itu sebabnya. Entahlah.
Rasa ini tidak sopan, datang tanpa mengetuk pintu hati lalu pergi begitu saja namun memberi bekas yang berarti. Cinta tidak mempedulikan estetika, terlebih pada logika. Sering logika ini terkalahkan oleh manisnya cinta yang sesungguhnya semu. Aku menikmati indahnya merindukanmu, bahagianya berangan tentangmu, bahkan sakitnya melihat tanpa bisa memilikimu.
Rasa ini membuatku terjebak dalam sebuah lingkaran kemunafikan. Lingkaran yang membuatku tersiksa, dan seringkali menjadikanku bukan diriku. Aku menjadi orang berbeda, karenamu. Karena cintamu. Aku bertingkah seolah membencimu karena meninggalkan luka ini, padahal sesungguhnya tidak.
Tumpukan kekecewaan ini, semakin bertambah setiap harinya. Rasa kecewa karena aku tak bisa memilikimu seutuhnya. Rasa cemburu juga tak luput menyiksaku. Cemburu karena bukan aku yang membahagiakanmu. Sungguh, ini menyakitkan.
Yaa, cinta memang rumit. Dan sakit. Namun, buatku cinta adalah sebuah tantangan yang harus ditaklukan, sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Sakit yang harus disembuhkan. Seperti sebuah ujian dalam petualangan. Inilah lika-liku luka dalam cinta.
Lantas apa yang harus aku lakukan pada cinta dan luka yang menyertainya? Entahlah. Mungkin aku hanya akan menikmatinya semanis-manisnya, dan juga sepahit-pahitnya.
Selamat malam, selamat beristirahat. ;;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar