Total Tayangan Halaman

Minggu, 25 Januari 2015

Tiga Dara Punya Cerita : Tahun Depan Nikah

Hari minggu sepertinya adalah hari yang tepat untuk menikmati waktu santai. Seperti yang dilakukan tiga dara ini. Disebuah rumah bertipe minimalis, di kawasan villa elit di kaki gunung ini tiga dara ini berkumpul.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang beranjak dari tempat tidur. Mereka masih setia diatas tempat tidur, menyembunyikan kaki mereka dibalik selimut. Berdasarkan aplikasi AccuWeather, suhu di daerah rumah tersebut menunjukkan angka 20 derajat celcius. Dingin, tapi udara yang dihirup terasa segar. Mungkin karena rumah ini berada di kaki gunung, di tengah kebun berbagai macam bunga milik penduduk setempat, dan daerahnya masih sepi dari hiruk-pikuk kota. Polusi udara yang dihasilkan di tempat ini juga lebih sedikit, karena penduduk sekitar juga jarang sekali menggunakan kendaraan bermotor.

Salah satu dari tiga dara ini meraba-raba meja kecil disamping tempat tidur mencari remote tv. Salah satu lainnya beranjak dari tempat tidur dan membuka tirai kamar. Sedikit demi sedikit cahaya matahari mulai menyeruak dan menyinari seisi ruangan. Yang terakhir yang masih di tempat tidurpun akhirnya dengan ogah membuka mata.

Thalita, perempuan yang bangun paling awal menyalakan televisi. Memencet remote berulang kali mencari acara televisi yang berkualitas. Ia beranjak dari tempat tidur dan pindah ke karpet bulu yang tebal dan lembut di depan tempat tidur.

Resyana, perempuan yang membuka korden tadi bergegas turun ke lantai satu dan mulai merebus air. Ia bersiap untuk membuat satu teko teh hijau untuk dinikmati bertiga di kamarnya yang ada di lantai dua. Tidak lupa pula ia menyiapkan beberapa lembar roti dan satu botol selai coklat untuk toppingnya. Setelah air mendidih dan satu teko teh hijau siap, Resyana meletakkannya di atas baki berdampingan dengan roti dan selai yang lebih dahulu disiapkan tadi. Iapun membawa baki tersebut ke kamarnya, di lantai dua.

"sarapan siap!" katanya seraya meletakkan baki tersebut di meja kecil di sisi ruangan.

"okeee thank you." Thalita bergegas menuang teh dari teko ke cangkir.

Sarah, dengan malas dia bangun dari tidurnya. Duduk sebentar bersandar di bantal empuk yang diletakkan di belakang punggungnya. Ia menguncir rambutnya dan beranjak membuka pintu pembatas antara kamar dan balkon. Ia berdiri lama, menikmati segarnya udara yang berhembus, sambil sesekali mengamati kegiatan penduduk sekitar mengurus kebun bunga.

"Wah gila, ini artis nikahannya mewah kok udah mau cerai aja sih? Duh sayang banget." celetuk Thalita yang berkomentar tentang infotainment.

Sarah yang mendengar celetuk Thalita kemudian masuk, mengambil secangkir teh, dan duduk di karpet. Tepat disamping Thalita. Resyana hanya nyengir dan melanjutkan kegiatannya membaca majalah di balkon.

"gue bakal tunangan bulan depan." kata Thalita. Matanya masih belum berpaling dari layar televisi.

"oh. bagus deh, akhirnya lo bisa jalanin hubungan yang lebih serius." sahut Resyana datar.

"Alhamdulillah. Akhirnya sahabat gue tunangan juga. Selamat, Thaaaaa!" Sarah heboh. Untungnya dia tidak melakukan hal diluar batas, salto misalnya.

"Trus lo nikah kapan? Tahun ini juga apa tahun depan?" tanya Resyana. Sejenak ia menutup majalahnya.

"yaaa rencana sih tahun depan aja, abis gue lulus kuliah tahun depan." jawab Thalita seraya mengunyah roti lapis isi selai coklat. Mulutnya sedikit penuh.

Kemudian mereka melanjutkan aktifitas masing-masing tanpa ada kata yang terucap lagi. Thalita memakan roti lapisnya sambil menekan-nekan remote televisi. Resyana melanjutkan aktifitasnya membaca majalah sambil sesekali menyesap secangkir teh disampingnya. Sedangkan Sarah sibuk dengan roti lapis di tangan kanan dan smartphone di tangan kirinya.

Suasana terasa hening, hanya ada suara musik dari televisi yang sedang memutar video clip Maps-Maroon5.

"Gue mau nikah tahun depan." kata Resyana. Ia beranjak dari balkon dan naik ke tempat tidur, melanjutkan membaca majalah.

"jokes?" tanya Thalita heran.

"No." jawab Resyana datar.

"are you sure?" tanya Sarah menegaskan.

"Yes." jawab Resyana. Nadanya masih tetap datar.

"Oh." Thalita dan Sarah menyahut bersamaan. Kemudian hening. Hingga beberapa saat.

"Lo serius mau nikah tahun depan?" tanya Sarah yang masih penasaran.

"Iyaa gue serius." jawab Resyana santai.

"Tapi kan lo......" Sarah tidak melanjutkan perkataannya. Ada sesuatu yang ditahan untuk dikatakan.

"Jomblooooo.." sahut Thalita. "trus lo mau nikah sama siapa, Sya?"

"Sama jodoh gue lah." jawab Resyana datar. "Niat gue kan baik. Dan gue percaya, niat baik pasti bakal dapet hasil yang baik pula."

"Iyaa deh percaya." jawab Sarah. "Emang niat lo apa? Kok lo bisa bilang niat lo baik?"

"Niat gue? Pertama sih niat ibadah." kata Resyana. Kemudian ia meneruskan, "yang kedua gue nggak mau kebanyakan dosa kalo pacaran kelamaan. Pegangan tangan doang aja dosa, apalagi yang lain. Sementara, kalo lo pacaran lama, nggak mungkin lo pacaran cuma pegangan tangan doang. Berani deh gue taruhan."

"Ciyeeee.. Ustadzah dadakan nih." kata Thalita seraya tertawa. "yaa tapi emang bener sih kata lo, Sya. Pacaran lama-lama, tahunan, dibawa kemana-mana nggak nikah-nikah. Pacaran apa kredit motor?"

"Iiihh lo jahat, Thaaaaa.. Gue kan pernah kayak gitu dulu." kata Sarah, raut wajahnya dibuat-buat seperti orang marah. Tetapi malah terlihat seperti peserta tahan tawa. Kocak. "By the way, gue juga sih. Kayaknya tahun depan ada yang mau ngajak gue nikah gitu. Udah kode-kode."

"Ciyeeee.. Udah laku lo, Raa?" canda Resyana.

"Yaelah. Berasa gue nggak laku banget sih, Syaa? Ih lo mah gitu." Sarah sok cemberut.

"Enggak, gue cuma bercanda, Raaa.." kata Resyana.

"Emang siapa yang kode-kode ngajak lo nikah?" tanya Thalita.

"Ada dua sih." kata Sarah pelan seraya mengacungkan dua jarinya.

"Buset. Kenceng juga lo. Nggak ada angin nggak ada hujan udah dua aja." kata Resyana. Kini ia semakin terlarut dalam perbincangan tiga dara ini. Ia benar-benar mengabaikan majalah yang tadi dibacanya.

"Heheheheheeee...." Sarah hanya menjawab dengan tawa. "Jadi, yang satu gue suka. Suka banget, tapi dia suka narik-ulur hati gue gitu deh. Kadang kayak iya, kadang kayak enggak. Gue kan kesel, Syaa, Thaa.."

"Terus yang satunya lagi?" tanya Thalita mulai bersemangat. Perbincangan kali ini semakin seru.

"Yang satu, gue nggak begitu suka sih. Cuma ya dia care sama gue, dia daridulu deket sama gue. Gue tau dia suka sama gue, tapi gue pura-pura aja nggak peka kalo dia suka sama gue. Dia berjuang banget, gue kan jadi luluh. Heheheehehe..." jawab Sarah seraya melirik kedua sahabatnya itu. Ia tersenyum malu-malu.

"yaaa lalu?" tanya Resyana datar.

"yaaa lalu.... Gue bingung. Gimana kalo misal mereka berdua ternyata sama-sama suka gue, terus sama-sama ngajak gue nikah? Gue harus nikah sama yang mana dong? Yakali gue nikahin dua-duanya?"

"Yaaa, boleh-boleh. Nggak papa, nggak papa. Kan enak kalo lo nikahin dua-duanya. Kalo mereka mati lo dapet warisan dua kali lipat. Lo jadi bisa nraktirin kita berdua liburan ke Eropa." kata Thalita sambil mengangguk. Raut wajah yang serius berpadu dengan kata-kata gila yang muncul membuat mereka bertiga tertawa.

"heh, gila lo. Masa temen sendiri diajarin matre?" kata Resyana tiba-tiba yang mendadak berhenti tertawa. Raut wajahnya mendadak serius. "Jangan liburan ke Eropa, warisannya buat beli apartement aja di Aussie, biar bisa kita tinggalin bareng."

Kemudian mereka tertawa.

Kemudian hening sejenak. Kemudian Sarah bertanya,"jadi gimana?"

"Apanya?" Thalita dan Resyana balik bertanya bersamaan.

"Yaa gue, gimana? Kalo gue diajak nikah sama mereka?" tanya Sarah, ia mendadak gelisah.

"Ah lo kepedean, GR lo." kata Thalita mencibir, tapi bercanda.

"Yaaa semoga aja sih gue kepedean." kata Sarah, nadanya mendadak datar.

"Gini deh, menurut gue, kalo misal emang beneran kejadian, saran gue lo pilih cowok kedua yang lo ceritain deh. Soalnya kan dia udah ketahuan sayang sama lo dari awal, dia berjuang buat lo juga. Yaaa meskipun lo nggak terlalu suka sama dia, seenggaknya lo hargai lah perjuangan dia gimana. Cinta kan ada karena terbiasa." kata Resyana menengahi. Entah ada angin apa, ia menjadi lebih bijak dari biasanya.

"trus cowok yang pertama gimana? gue sayangnya sama dia." tanya Sarah. Kali ini ia benar-benar cemberut, gelisah.

"Kalo menurut gue yaa, Raa, gue setuju sama si kampret satu ini." kata Thalita seraya memainkan kedua alisnya. "emang sih lo suka sama dia, tapi dia udah narik-ulur hati lo. Dia udah main-main sama perasaan lo. Udah ketahuan kan dia nggak gentle, dia nggak ada usahanya sama sekali buat bisa sama lo kan? yaa kan? Kalo pada akhirnya dia bilang dia nyesel nggak berjuang buat lo, itu salah dia sendiri."

"doesn't it mean i hurt him?" tanya Sarah.

"yaaa enggak lah, dia nggak ada perjuangannya buat lo, trus lo milih orang lain yang berjuang buat lo, trus dia bilang lo nyakitin dia? Mana sini, kalo dia emang bilang gitu biar gue gampar pake ujung high heels." mendadak Resyana kesal.

"Yaudah sih, Syaa. Santai aja, nggak usah berurat juga kalo ngomong." kata Thalita mengingatkan. Ia mengelus pundak Resyana.

"heheheheheee... Sorry, gue kebawa emosi." sahut Resyana. "oke, kembali ke topik. Kalo lo luluh ketika dibilang nyakitin dia, si cowok pertama, berarti lo jahat. Dan lo bukan temen gue lagi, karena gue anak baik, nggak mau gue temenan sama orang jahat, ntar gue dipenjara."

"Yaelah, Syaa.. Serius dong. Gue udah dengerin lo nih, ah elaaaah." keluh Thalita.

"Aduh, sorry, gue gagal fokus gara-gara ada Nassar-Muzdalifah di tv." Resyana nyengir. "Iyaaaa, lo bakal jadi orang jahat, Raa. Soalnya lo udah ngorbanin perasaan orang yang berjuang mati-matian buat lo demi orang yang ngakunya sayang sama lo tapi nggak ada perjuangannya sama sekali."

"Gitu ya?" akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Sarah.

"Dan orang yang berjuang mati-matian tapi lo sakitin, bisa jadi nanti dia depresi. Abis depresi dia nekat bunuh diri di pohon cabe. Pas udah mati, setannya gentayangin lo." kata Resyana. Kemudian hening. Hening sekali.

Kemudian mereka bertiga saling memandang tanpa makna satu sama lain. Kemudian Resyana melotot dan menjulurkan lidah layaknya zombie yang tercekik benang layang-layang. "hek...kek..kekk.." Dan merekapun tertawa.

Semakin lama, percakapan antara tiga dara ini semakin absurd. Tidak jelas kemana arahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar