Hari minggu sepertinya adalah hari yang tepat untuk menikmati waktu santai. Seperti yang dilakukan tiga dara ini. Disebuah rumah bertipe minimalis, di kawasan villa elit di kaki gunung ini tiga dara ini berkumpul.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang beranjak dari tempat tidur. Mereka masih setia diatas tempat tidur, menyembunyikan kaki mereka dibalik selimut. Berdasarkan aplikasi AccuWeather, suhu di daerah rumah tersebut menunjukkan angka 20 derajat celcius. Dingin, tapi udara yang dihirup terasa segar. Mungkin karena rumah ini berada di kaki gunung, di tengah kebun berbagai macam bunga milik penduduk setempat, dan daerahnya masih sepi dari hiruk-pikuk kota. Polusi udara yang dihasilkan di tempat ini juga lebih sedikit, karena penduduk sekitar juga jarang sekali menggunakan kendaraan bermotor.
Salah satu dari tiga dara ini meraba-raba meja kecil disamping tempat tidur mencari remote tv. Salah satu lainnya beranjak dari tempat tidur dan membuka tirai kamar. Sedikit demi sedikit cahaya matahari mulai menyeruak dan menyinari seisi ruangan. Yang terakhir yang masih di tempat tidurpun akhirnya dengan ogah membuka mata.
Thalita, perempuan yang bangun paling awal menyalakan televisi. Memencet remote berulang kali mencari acara televisi yang berkualitas. Ia beranjak dari tempat tidur dan pindah ke karpet bulu yang tebal dan lembut di depan tempat tidur.
Resyana, perempuan yang membuka korden tadi bergegas turun ke lantai satu dan mulai merebus air. Ia bersiap untuk membuat satu teko teh hijau untuk dinikmati bertiga di kamarnya yang ada di lantai dua. Tidak lupa pula ia menyiapkan beberapa lembar roti dan satu botol selai coklat untuk toppingnya. Setelah air mendidih dan satu teko teh hijau siap, Resyana meletakkannya di atas baki berdampingan dengan roti dan selai yang lebih dahulu disiapkan tadi. Iapun membawa baki tersebut ke kamarnya, di lantai dua.
"sarapan siap!" katanya seraya meletakkan baki tersebut di meja kecil di sisi ruangan.
"okeee thank you." Thalita bergegas menuang teh dari teko ke cangkir.
Sarah, dengan malas dia bangun dari tidurnya. Duduk sebentar bersandar di bantal empuk yang diletakkan di belakang punggungnya. Ia menguncir rambutnya dan beranjak membuka pintu pembatas antara kamar dan balkon. Ia berdiri lama, menikmati segarnya udara yang berhembus, sambil sesekali mengamati kegiatan penduduk sekitar mengurus kebun bunga.
"Wah gila, ini artis nikahannya mewah kok udah mau cerai aja sih? Duh sayang banget." celetuk Thalita yang berkomentar tentang infotainment.
Sarah yang mendengar celetuk Thalita kemudian masuk, mengambil secangkir teh, dan duduk di karpet. Tepat disamping Thalita. Resyana hanya nyengir dan melanjutkan kegiatannya membaca majalah di balkon.
"gue bakal tunangan bulan depan." kata Thalita. Matanya masih belum berpaling dari layar televisi.
"oh. bagus deh, akhirnya lo bisa jalanin hubungan yang lebih serius." sahut Resyana datar.
"Alhamdulillah. Akhirnya sahabat gue tunangan juga. Selamat, Thaaaaa!" Sarah heboh. Untungnya dia tidak melakukan hal diluar batas, salto misalnya.
"Trus lo nikah kapan? Tahun ini juga apa tahun depan?" tanya Resyana. Sejenak ia menutup majalahnya.
"yaaa rencana sih tahun depan aja, abis gue lulus kuliah tahun depan." jawab Thalita seraya mengunyah roti lapis isi selai coklat. Mulutnya sedikit penuh.
Kemudian mereka melanjutkan aktifitas masing-masing tanpa ada kata yang terucap lagi. Thalita memakan roti lapisnya sambil menekan-nekan remote televisi. Resyana melanjutkan aktifitasnya membaca majalah sambil sesekali menyesap secangkir teh disampingnya. Sedangkan Sarah sibuk dengan roti lapis di tangan kanan dan smartphone di tangan kirinya.
Suasana terasa hening, hanya ada suara musik dari televisi yang sedang memutar video clip Maps-Maroon5.
"Gue mau nikah tahun depan." kata Resyana. Ia beranjak dari balkon dan naik ke tempat tidur, melanjutkan membaca majalah.
"jokes?" tanya Thalita heran.
"No." jawab Resyana datar.
"are you sure?" tanya Sarah menegaskan.
"Yes." jawab Resyana. Nadanya masih tetap datar.
"Oh." Thalita dan Sarah menyahut bersamaan. Kemudian hening. Hingga beberapa saat.
"Lo serius mau nikah tahun depan?" tanya Sarah yang masih penasaran.
"Iyaa gue serius." jawab Resyana santai.
"Tapi kan lo......" Sarah tidak melanjutkan perkataannya. Ada sesuatu yang ditahan untuk dikatakan.
"Jomblooooo.." sahut Thalita. "trus lo mau nikah sama siapa, Sya?"
"Sama jodoh gue lah." jawab Resyana datar. "Niat gue kan baik. Dan gue percaya, niat baik pasti bakal dapet hasil yang baik pula."
"Iyaa deh percaya." jawab Sarah. "Emang niat lo apa? Kok lo bisa bilang niat lo baik?"
"Niat gue? Pertama sih niat ibadah." kata Resyana. Kemudian ia meneruskan, "yang kedua gue nggak mau kebanyakan dosa kalo pacaran kelamaan. Pegangan tangan doang aja dosa, apalagi yang lain. Sementara, kalo lo pacaran lama, nggak mungkin lo pacaran cuma pegangan tangan doang. Berani deh gue taruhan."
"Ciyeeee.. Ustadzah dadakan nih." kata Thalita seraya tertawa. "yaa tapi emang bener sih kata lo, Sya. Pacaran lama-lama, tahunan, dibawa kemana-mana nggak nikah-nikah. Pacaran apa kredit motor?"
"Iiihh lo jahat, Thaaaaa.. Gue kan pernah kayak gitu dulu." kata Sarah, raut wajahnya dibuat-buat seperti orang marah. Tetapi malah terlihat seperti peserta tahan tawa. Kocak. "By the way, gue juga sih. Kayaknya tahun depan ada yang mau ngajak gue nikah gitu. Udah kode-kode."
"Ciyeeee.. Udah laku lo, Raa?" canda Resyana.
"Yaelah. Berasa gue nggak laku banget sih, Syaa? Ih lo mah gitu." Sarah sok cemberut.
"Enggak, gue cuma bercanda, Raaa.." kata Resyana.
"Emang siapa yang kode-kode ngajak lo nikah?" tanya Thalita.
"Ada dua sih." kata Sarah pelan seraya mengacungkan dua jarinya.
"Buset. Kenceng juga lo. Nggak ada angin nggak ada hujan udah dua aja." kata Resyana. Kini ia semakin terlarut dalam perbincangan tiga dara ini. Ia benar-benar mengabaikan majalah yang tadi dibacanya.
"Heheheheheeee...." Sarah hanya menjawab dengan tawa. "Jadi, yang satu gue suka. Suka banget, tapi dia suka narik-ulur hati gue gitu deh. Kadang kayak iya, kadang kayak enggak. Gue kan kesel, Syaa, Thaa.."
"Terus yang satunya lagi?" tanya Thalita mulai bersemangat. Perbincangan kali ini semakin seru.
"Yang satu, gue nggak begitu suka sih. Cuma ya dia care sama gue, dia daridulu deket sama gue. Gue tau dia suka sama gue, tapi gue pura-pura aja nggak peka kalo dia suka sama gue. Dia berjuang banget, gue kan jadi luluh. Heheheehehe..." jawab Sarah seraya melirik kedua sahabatnya itu. Ia tersenyum malu-malu.
"yaaa lalu?" tanya Resyana datar.
"yaaa lalu.... Gue bingung. Gimana kalo misal mereka berdua ternyata sama-sama suka gue, terus sama-sama ngajak gue nikah? Gue harus nikah sama yang mana dong? Yakali gue nikahin dua-duanya?"
"Yaaa, boleh-boleh. Nggak papa, nggak papa. Kan enak kalo lo nikahin dua-duanya. Kalo mereka mati lo dapet warisan dua kali lipat. Lo jadi bisa nraktirin kita berdua liburan ke Eropa." kata Thalita sambil mengangguk. Raut wajah yang serius berpadu dengan kata-kata gila yang muncul membuat mereka bertiga tertawa.
"heh, gila lo. Masa temen sendiri diajarin matre?" kata Resyana tiba-tiba yang mendadak berhenti tertawa. Raut wajahnya mendadak serius. "Jangan liburan ke Eropa, warisannya buat beli apartement aja di Aussie, biar bisa kita tinggalin bareng."
Kemudian mereka tertawa.
Kemudian hening sejenak. Kemudian Sarah bertanya,"jadi gimana?"
"Apanya?" Thalita dan Resyana balik bertanya bersamaan.
"Yaa gue, gimana? Kalo gue diajak nikah sama mereka?" tanya Sarah, ia mendadak gelisah.
"Ah lo kepedean, GR lo." kata Thalita mencibir, tapi bercanda.
"Yaaa semoga aja sih gue kepedean." kata Sarah, nadanya mendadak datar.
"Gini deh, menurut gue, kalo misal emang beneran kejadian, saran gue lo pilih cowok kedua yang lo ceritain deh. Soalnya kan dia udah ketahuan sayang sama lo dari awal, dia berjuang buat lo juga. Yaaa meskipun lo nggak terlalu suka sama dia, seenggaknya lo hargai lah perjuangan dia gimana. Cinta kan ada karena terbiasa." kata Resyana menengahi. Entah ada angin apa, ia menjadi lebih bijak dari biasanya.
"trus cowok yang pertama gimana? gue sayangnya sama dia." tanya Sarah. Kali ini ia benar-benar cemberut, gelisah.
"Kalo menurut gue yaa, Raa, gue setuju sama si kampret satu ini." kata Thalita seraya memainkan kedua alisnya. "emang sih lo suka sama dia, tapi dia udah narik-ulur hati lo. Dia udah main-main sama perasaan lo. Udah ketahuan kan dia nggak gentle, dia nggak ada usahanya sama sekali buat bisa sama lo kan? yaa kan? Kalo pada akhirnya dia bilang dia nyesel nggak berjuang buat lo, itu salah dia sendiri."
"doesn't it mean i hurt him?" tanya Sarah.
"yaaa enggak lah, dia nggak ada perjuangannya buat lo, trus lo milih orang lain yang berjuang buat lo, trus dia bilang lo nyakitin dia? Mana sini, kalo dia emang bilang gitu biar gue gampar pake ujung high heels." mendadak Resyana kesal.
"Yaudah sih, Syaa. Santai aja, nggak usah berurat juga kalo ngomong." kata Thalita mengingatkan. Ia mengelus pundak Resyana.
"heheheheheee... Sorry, gue kebawa emosi." sahut Resyana. "oke, kembali ke topik. Kalo lo luluh ketika dibilang nyakitin dia, si cowok pertama, berarti lo jahat. Dan lo bukan temen gue lagi, karena gue anak baik, nggak mau gue temenan sama orang jahat, ntar gue dipenjara."
"Yaelah, Syaa.. Serius dong. Gue udah dengerin lo nih, ah elaaaah." keluh Thalita.
"Aduh, sorry, gue gagal fokus gara-gara ada Nassar-Muzdalifah di tv." Resyana nyengir. "Iyaaaa, lo bakal jadi orang jahat, Raa. Soalnya lo udah ngorbanin perasaan orang yang berjuang mati-matian buat lo demi orang yang ngakunya sayang sama lo tapi nggak ada perjuangannya sama sekali."
"Gitu ya?" akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Sarah.
"Dan orang yang berjuang mati-matian tapi lo sakitin, bisa jadi nanti dia depresi. Abis depresi dia nekat bunuh diri di pohon cabe. Pas udah mati, setannya gentayangin lo." kata Resyana. Kemudian hening. Hening sekali.
Kemudian mereka bertiga saling memandang tanpa makna satu sama lain. Kemudian Resyana melotot dan menjulurkan lidah layaknya zombie yang tercekik benang layang-layang. "hek...kek..kekk.." Dan merekapun tertawa.
Semakin lama, percakapan antara tiga dara ini semakin absurd. Tidak jelas kemana arahnya.
Total Tayangan Halaman
Minggu, 25 Januari 2015
Selasa, 13 Januari 2015
Resolusi 2015
Selamat tahun baru, readers !
Apa kabar di tahun baru ini ? Semoga lebih baik yaa dari tahun kemarin. Yaa walaupun udah lewat beberapa hari sih ya. Kalo misal nggak lebih baik, atau tetep gitu-gitu aja, yaudah deh. Terima nasib aja yaa ! :D
Apa kabar di tahun baru ini ? Semoga lebih baik yaa dari tahun kemarin. Yaa walaupun udah lewat beberapa hari sih ya. Kalo misal nggak lebih baik, atau tetep gitu-gitu aja, yaudah deh. Terima nasib aja yaa ! :D
Biasanya orang-orang dan anak gaul yang kekinian pasti bikin resolusi tiap tahun. Entah itu resolusi baru, ataupun lanjutan dari resolusi tahun sebelumnya. Contohnya : di tahun 2015 ini gue pengen ngelanjutin resolusi gue di tahun 2014 yang belum kelar yang sebenernya resolusi itu gue revisi di tahun 2013 karena ada perubahan resolusi dari 2012.
Di postingan gue sebelumnya, gue udah bahas beberapa pencapaian yang udah berhasil gue lakuin. Ada juga sih beberapa kegagalan yang gue alami. Yah, namanya juga hidup. Nggak mungkin sukses terus. Nggak mungkin berjalan mulus-semulus palanya oom Dedy Corbuzier.
Setelah apa yang gue lewati di tahun 2014 kemaren, ini nih beberapa resolusi yang pengen gue capai di tahun 2015.
Get more happiness. Yaa, gue pengen lebih bahagia dia di tahun ini. Bukan berarti tahun kemaren gue nggak bahagia, cuma terlalu banyak kesedihan yang bikin gue down tahun lalu.Senoga aja sih tahun ini orang jahat disekitar gue musnah, jadi gue bisa lebih bahagia lagi.
Stay Strong and Healthy. Gue berharap bisa tetep sehat dan kuat. Baik jiwa-raga, jasmani-rohani. Nggak gampang sakit, baik sakit badan maupun sakit jiwa. Kuat disini bukan berarti gue berharap bisa ngangkat barbel 50kg pake kelingking yaa, tapi gue berharap daya tahan tubuh gue yang kuat, jadi nggak gampang drop kalo lagi kerja keras. Rohani juga, gue berharap rohani gue tetep sehat, nggak gampang baper, juga nggak gampang sakit hati. Agak susah sih, tapi dicoba aja deh. Eh tapi, soal sehatnya jiwa gue nggak yakin bisa jaga deh, soalnya kalo udah kumpul sohib jadi kumat gilanya. hahahahahaaa
More Travelling. Gue berharap tahun ini gue dapet ijin dari bokap-nyokap buat travelling ke tempat-tempat yang gue mau. Tanpa mereka tentunya. Karena kalo sama mereka pasti cuma bakal jadi sebuah wacana, nggak berangkat. Ya, gue ngaku, gue anak mama banget walaupun udah segede ini.
Nggak ketemu tukang PHP dan sejenisnya. Gue udah capek ngadepin tukang PHP dan sejenisnya. Yang sukanya acting like they likes, but actually they don't. Duh muak banget deh. Ibarat mah pintu hati gue udah kebuka lebar-dia dateng-gue seneng-dia basa-basi sok mau masuk-berdiri lama depan pintu-menghalangi orang lain yang berusaha masuk-eeh ternyata in the end pergi entah kemana. Tahik banget kan cowok macem gini? Kalo ketemu cowok mecem gini sih gue bawaannya pengen masukin dia ke dalem karung, pukulin, tusuk-tusuk pake piso daging, buang ke laut, trus disantet.
Lebih banyak postingan di blog. Ini resolusi yang dari dulu belum bisa terealisasi dengan baik. Si Inuk-adek ketemu gede gue sering banget nodong gue buat buruan posting sesuatu di blog. Tapi ya gimana, maksud hati memeluk gunung, apa daya tanganku pendek. Ya, selain gue sibuk kerja, ide kreatif juga datangnya angin-anginan. Kayak kamu, iya kamu. *eeeh
Setiap gue nganggur di tempat kerja, gue pasti ada niat "ntar pulang kerja gue ngeblog ah." Eeh begitu sampe rumah, gue udah tepar. Yanasib.
Setiap gue nganggur di tempat kerja, gue pasti ada niat "ntar pulang kerja gue ngeblog ah." Eeh begitu sampe rumah, gue udah tepar. Yanasib.
Dapet pacar, ketemu jodoh. Ini hal penting, karena gue capek ditanya "pacar lo siapa? Masih betah jomblo?" kalo kata anak gaul kekinian sih "adek lelah bang." "hayati sudah tidak kuat bang. Bunuh hayati di rawa-rawa." *lho?
Soal kriteria sih gue nggak muluk-muluk, walaupun nyokap pengen punya menantu mirip Rajo Langit-nya 7 Manusia Harimau dan bokap pengen punya menantu kayak Syaheer Nawaz, gue cuma pengen yang kayak Vidi Aldiano aja kok. Atau kalo enggak, adiknya Vidi juga boleh, si Vadie Akbar. :D
Soal kriteria sih gue nggak muluk-muluk, walaupun nyokap pengen punya menantu mirip Rajo Langit-nya 7 Manusia Harimau dan bokap pengen punya menantu kayak Syaheer Nawaz, gue cuma pengen yang kayak Vidi Aldiano aja kok. Atau kalo enggak, adiknya Vidi juga boleh, si Vadie Akbar. :D
Yaaaa, gue rasa segini dulu deh resolusi yang bisa gue share. Buat para readers yang mau share resolusinya, bisa tulis di kolom komentar. Thank you ! :)
Oh iya, sebelum postingan ini kelar, ada games buat seru-seruan. Tiga
kata pertama yang kalian lihat bakal jadi milik kalian di tahun 2015
ini. Coba share ya kata apa yang kalian dapet ! :D
![]() |
| Kalo gue, kata yang gue dapet sih : Love, Money, and Happiness ! :D |
Senin, 12 Januari 2015
(Tragedi) Upacara Bendera
Udah dua tahun lebih gue lulus sekolah (baca : SMA), dan udah hampir dua tahun gue kerja. Nah, selama dua tahun lebih gue lulus SMA gue udah nggak pernah lagi ngikutin yang namanya rutinitas upacara bendera di hari senin atau upacara peringatan hari apapun. Pernah sih, upacara 17an di perusahaan tempat gue kerja. Itu pun setahun sekali.
Tahun 2014 kemarin, diadain lagi upacara bendera buat memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69. Seinget gue sih upacaranya tepat di hari minggu. Yaa, it's mean gue harus masuk kerja di hari minggu walaupun cuma buat upacara bendera aja. Huft. Ma-to-the-les, males. Bangeeet. Bukan karena gue nggak nasionalis, tapi karena hari minggu adalah hari ngebo buat gue. Biasanya kalo hari minggu dan gue nggak ada yang ngajak main, gue pasti bangun siang-cuci baju-tidur lagi-sore bangun-mandi-tiduran di kamar-tidur. Itu udah jadi rutinitas.
Malemnya, tanggal 16 Agustus itu kebetulan pas malming. Gue galau berat. Bukan, bukan gara-gara gue jomblo. Gue galau karena mikir, enaknya ikut upacara atau enggak. Gue merenung. Gue diem aja. Sesekali gue ngupil. Gue diem lagi, merenung lagi. Gitu terus sampe hujan coklat di ladang gandum.
Setelah gue mengalami pertempuran hati yang begitu hebat, setan merah dan malaikat putih saling mempengaruhi kerja otak gue, gue akhirnya memutuskan untuk.......... Move on dari mantan. *Lho?
Enggak ding. Maksud gue, gue memutuskan buat ikut upacara bendera hari minggu, 17 Agustus 2014. Fix. Tentunya dengan berbagai pertimbangan, antara lain ; gue adalah pemudi yang berjiwa nasionalis, dan selain itu biasanya abis upacara dapet roti buat sarapan. Lumayan. *ketawa hina*
Pagi-pagi banget, abis shalat subuh gue udah buru-buru mandi. Rajin banget, padahal biasanya kalo hari minggu gue mandi sehari sekali udah cukup. Abis itu gue ngelakuin rutinitas sehabis mandi, contohnya pake baju, dandan, dan nyeruputin teh buatan mama. Wenak !
Jam setengah tujuh gue tancap gas, berangkat ke tempat kerja. Sebelumnya, gue mampir kerumah temen gue, soalnya dia bilang mau nebeng. Okee.
Dijalan, pas nunggu temen gue ambil tas, perasaan gue mulai gak enak. Perut gue mules, mungkin karena efek hawa minggu pagi yang agak dingin kala itu.
Jam tujuh kurang sepuluh, gue buru-buru jalan cepat ke lapangan karena katanya upacara mulai jam tujuh. Pas jalan di lapangan menuju ke barisan, kaki gue kecengklak. Di tanah lapangan yang penuh rumput, ternyata ada lubang bekas galian yang nggak kelihatan. Alhasil gue jatuh. Seketika itu juga semua mata tertuju ke gue. Klimaks!
Sumpah malu abis. Apalagi kebanyakan yang gue lewatin adalah para cowok. Tapi gue mencoba buat stay cool dan bilang "nggak papa, nggak papa kok." Padahal asli, pantat gue sakit banget. Gue jadi ngerasa bersalah, kenapa gue pake sepatu high heels yang tingginya 5cm. Dan upacarapun dimulai. Sejauh ini nggak ada hal aneh atau apapun terjadi. Cuma kedengeran beberapa mas-mas di bagian belakang yang ngobrol dan cengengesan. Sesekali gue senyum nahan ketawa kalo denger percakapan absurd mereka.
Setelah berdiri lama, sampe kaki kejangkrikan (karena kesemutan terlalu kecil), akhirnya upacaranya kelar juga. Duuuuh legaaaa..
Abis upacara dan ambil kue, gue pulang. Sampe rumah gue ganti baju, terus tiduran. Nerusin aktifitas gue yang tertunda gara-gara upacara tadi. Gue baru sadar kalo gue belum buka HP sama sekali sejak upacara tadi. Gue ambil deh itu HP, gue coba cek apa ada chat BBM ataupun WhatsApp yang masuk.
Mengejutkan. Banyak banget chat yang masuk ke gue. Kebanyakan dari temen-temen yang berbeda jenis kelamin. (re:cowok). Dan, kebanyakan isinya adalah pertanyaan seputar "kamu kenapa bisa jatuh sih?" "kamu nggak papa? jatuh kenapa tadi?" Antiklimaks!
Sumpah gue malu abis, gue lemes, mata gue melek merem. Iya, gue kaget plus nahan ngantuk. Gue ngerasa grade gue turun drastis. Memalukan. Tuhaaaaan, ganti wajahku jadi Audi Marissa sekarang jugaaaa. Aku malu Tuhaaan...
Alhasil, gue jelasin deh ke mereka satu-satu. Gue ceritain kronologi yang sebenarnya. Ada yang bales chat pake kata "HAHAHAHAHAAA" ada juga yang balesnya care banget, macem "lain kali hati-hati yaa kalo jalan, biar nggak jatuh lagi." Padahal gue tau, yang balesnya sok care lagi ngakak baca kronologi tragedi upacara bendera gue.
Gue diem. Gue masih kebayang tragedi upacara ini. Gue berasa bego banget deh. Malu abis. Gue geleng-gelengin kepala, berharap bisa lupa sama kejadian ini. Tapi yang ada gue malah pusing dan akhirnya tidur.
*SEKIAN*
Langganan:
Komentar (Atom)
