Total Tayangan Halaman

Sabtu, 15 Agustus 2015

Tiga Dara Punya Cerita : Jodoh Kadang tak Terduga

Akhirnya long-weekend juga. Setelah lama berkutat dengan pekerjaan yang memusingkan, ada juga kesempatan untuk mendapatkan libur lumayan panjang. Kebetulan sekali, tanggal merah di kalender bulan ini jatuh pada hari Jumat. Resyana dan Sarah yang terikat tuntutan 5 hari kerja kini bisa bernafas lega. Mereka yang memang telah berencana menghabiskan long-weekend bertiga mulai bersiap packing beberapa keperluan yang dibutuhkan selama tiga hari kedepan.

Rencananya, Jumat pagi sekitar pukul tujuh Thalita, Resyana dan Sarah akan berangkat menuju Villa keluarga milik Sarah seperti biasanya.

"Syaa.. Buruan. Gue udah karatan nih nunggu di mobil. Astagaaaa.." teriak Thalita di telepon.

"Ah elah, iya. Ini juga gue udah mau keluar pintu kali. Sabar dikit dong. Tunggu situ aja, dua menit lagi gue sampe mobil." jawab Resyana sekenanya.

Ia bergegas mengunci pintu. Semua penghuni rumahnya masih dibuai mimpi indah kala itu. Untung saja malam sebelumnya Resyana sudah berpamitan terlebih dahulu, sehingga pagi ini ia tidak perlu lagi membangunkan orang rumah untuk sekedar berpamitan. Iapun bergegas menuju mobil sedan hitam yang sedari tadi klaksonnya berbunyi tanpa henti.

"yaakk. Lo hebat. Tepat dua menit." kata Thalita seraya melirik jam tangan baby-G yang tersemat di tangan kirinya.

"yaiaylah. Gimana enggak. Orang lo kan paling bisa bikin orang keburu-buru." jawab Resyana dengan nafas yang masih terengah-engah.

"Oke, kita cusss jemput Sarah nih ya? Estimasi gue sih kita berangkat jam tujuh tepat dari Rumah Sarah." kata Thalita yang lagi-lagi melirik jam tangannya. Resyana hanya mengangguk mengiyakan.

Sekitar kurang lebih sepuluh menit, mobil sedan hitam tersebut berhenti didepan sebuah rumah mewah bergaya modern. Lengkap dengan dua pilar besar nan kokoh yang menyangga sisi kanan-dan kirinya. Thalita membunyikan klakson pertanda ia sudah sampai di depan pintu rumah Sarah. Hanya berselang sekian detik, pintu terbuka dan Sarah sudah muncul dari baliknya. Sarah pun bergegas masuk ke jok belakang mobil, lengkap dengan barang bawaannya.

"Kan. Gue bilang juga apa. Bener kan estimasi waktu gue." kata Thalita kepada Resyana. Sementara matanya tetap fokus pada jalan depannya.

Resyana hanya diam dan tersenyum meremehkan. Tapi memang, diantara mereka bertiga, Thalita lah yang perhitungannya hampir selalu akurat. Entah itu estimasi waktu, estimasi keuangan, bahkan estimasi kesuksesan sebuah hubungan.

Di perjalanan, lagu-lagu cinta dari Maroon5 mengalun dengan indah. Suara seorang Adam Levine mampu memberikan efek bahagia dari pendengarnya.

Dipersimpangan jalan, ada pilihan jalan yang akan mereka lewati. Lewat jalan tol atau lewat jalan pegunungan. Biasanya, mereka bertiga selalu memilih untuk melewati jalan tol dengan alasan tidak terlalu banyak halangan di jalan. Namun kali ini, Resyana meminta Thalita untuk merubah arah yang biasanya. Resyana meminta agar mereka melewati jalan pegunungan yang naik-turun dan berkelok.

"Ngapain sih lewat jalan gunung, Syaa. Kan lebih enak lewat jalan tol. Nggak kebanyakan belok." protes Sarah.

"yaa nggak papa. Sekali-sekali. Lo nggak bosen apa lewat jalan tol melulu? Lurus-lurus aja nggak ada challenge-nya." jawab Resyana sekenanya.

"Yaelah, Syaa. Kalo ada jalan yang enak kenapa lo harus nyari jalan yang nggak enak sih?" Sarah tetap kekeuh memprotes.

"yaudah sih, Raaa.. Lo nggak usah kebanyakan protes dulu. Coba nikmatin jalannya aja. Kalo emang menurut lo nanti enakan lewat jalan tol, besok kita pulangnya lewat jalan tol." sahut Thalita.

Sarah hanya merengut kesal. Ia tidak biasa melewati jalan pegunungan yang naik-turun dan berkelok. Semakin jauh perjalanan, Sarah mulai berceloteh seperti anak kecil yang menemukan hal baru. Saat melihat hamparan hijau sawah terasering ia berkata "wiiih keren.." Beberapa puluh meter kemudian ia melihat hamparan tanaman bunga warna-warni. Ia takjub dan seketika menyuruh Thalita untuk berhenti.

"Taaaa, berhenti doong. Kiri.. Kiri." kata Sarah dengan nada sedikit keras dan mengagetkan.
Seketika itu Thalita menginjak rem. Mereka bertiga kaget ketika mobil berhenti tiba-tiba.

"Duuh lo apaan sih, Raa.. Gila lo, untung aja ini jalan lumayan rata. Coba kalo lo minta berhenti di tanjakan, pas tikungan pula. Bisa pulang tinggal nama kita." kata Thalita mengomel.

"hehehehe.. iyaa iyaa, sorry. Gue mau turun." kata Sarah seraya menyambar set kamera di sebelahnya."Syaa, lo turun dong. Fotoin gue."

Resyana hanya menghela nafas panjang dan kemudian turun dari mobil. Terjadilah sesi Photoshoot dadakan. Untung saja jalanan pagi itu masih lumayan sepi, hanya ada beberapa petani bunga dan sayur yang lewat membawa keranjang besar dari anyaman bambu.

Sekitar sepuluh menit sesi Photoshoot dadakan itu dilakukan, Thalita ikut turun dari mobil. Ia terlalu bosan menunggu sendirian. Setelah dirasa puas mengambil gambar, mereka mengakhiri sesi tersebut dengan foto selfie bertiga. Kemudian mereka kembali ke dalam mobil. Kini mereka bertiga bertukar posisi. Resyana duduk dibelakang kemudi, Thalita duduk di jok belakang, dan Sarah duduk di samping Resyana.

"Gue matiin aja ya AC-nya, lo buka aja kacanya. Biar kita dapet udara segar. Jarang-jarang kan kita dapet udara bersih bebas polusi kayak sekarang ini." kata Resyana.

"Ternyata asik juga ya lewat jalan gunung kayak gini. Udah udaranya seger, pemandangannya indah lagi." kata Sarah.

"iyeee. Makanya jangan suka protes dulu sebelum tau." sahut Thalita. Resyana hanya tersenyum dan berkonsentrasi pada jalan di depan.

Tangan Resyana meraba tombol radio, seperti biasa ia mencari saluran radio dimana biasanya menyiarkan informasi terkait lalu lintas. Kebetulan, radio tersebut sedang menyiarkan info terkait jalan tol yang biasa mereka lewati ketika akan menuju Villa. Ternyata, kondisinya macet parah. Panjang kemacetan sudah hampir 2 kilometer dan mobil hanya bisa bergerak perlahan. Diduga karena adanya long-weekend membuat volume kendaraan di jalan lebih banyak daripada biasanya.

"tuh, dengerin. Coba tadi kita lewat tol, pasti kita ikut jadi korban macet parah." kata Resyana. Sarah hanya nyengir kuda.

Sekitar pukul sembilan pagi, mereka sampai di villa. Dibantu penjaga villa, mereka menurunkan barang bawaan dan membawanya masuk. Setelah itu, mereka berguling-guling manja diatas tempat tidur di lantai dua. Mungkin karena mereka lelah dan hawa sekitar villa yang mendukung untuk memejamkan mata, mereka bertigapun tertidur pulas hingga sore harinya.

Resyana paling dulu terbangun karena suara handphone-nya. Telepon masuk dari bundanya, menanyakan posisinya sedang ada dimana. Memang, sekarang bundanya sedang sedikit posesif terhadapan dirinya. Semenjak dirinya dilarang terlalu dekat dengan Ardian, pacar yang sudah sekitar enam bulan dipacarinya. Bundanya tidak terlalu menyukai Ardian yang penampilannya agak Badboy.

"are you okay, best?" tanya Thalita yang bisa menangkap keresahan di wajah Resyana.

"yep. I'm okay." jawab Resyana datar. "oh no. I'm not okay at all." katanya seraya memeluk Thalita.

Sarah yang baru membuka mata ikut berpelukan. Sebelum benar-benar membuka mata, Sarah sudah sayup-sayup mendengar suara dua sahabatnya yang sudah lebih dulu terbangun.

"Sini, cerita sama kita." kata Sarah.

"yaaa, gitu lah. Bunda kelihatannya nggak setuju kalo gue sama Ardian. Padahal, gue udah yang yakin banget sama Ardian. Lo berdua kan tau, gue nggak pernah seyakin ini sama cowok." kata Resyana. Nada bicaranya sedikit berubah.Agaknya, ada titik sensitifnya yang sedang rapuh.

"Iyaa sih, gue ngerti. Sebelum gue beneran kenal dan ngobrol sama si Ardian, gue juga agak nggak setuju kalo lo sama dia. Tapi setelah gue ketemu langsung, dan ngobrol, gue rasa dia cocok kok sama lo." kata Thalita seraya menguncir rambutnya keatas.

"Hmm.. Gue setuju sama Thalita." sahut Sarah. "tapi kalo gue boleh tanya nih, lo kan banyak sih yang deketin, Syaa? Yang lebih segalanya dari si Adrian. Dan mama lo juga lebih welcome sama mereka. Oh iya, perasaan gue juga, lo kan dulu PDKTnya sama si Dhika, kenapa jadi pacarannya sama Ardian?"

"Mungkin ini yang disebut jodoh itu kadang tak terduga. Yang kelamaan PDKT kalah sama yang berani ngungkapin perasaan tanpa berbelit-belit." jawab Resyana. Ia menghela nafas panjang. Berbaring diatas bantal yang empuk.

"yaaa tapi kan, Syaa.. Si Dhika udah jelas-jelas bunda lo suka. Kalo lo sama si Dhika, udah pasti kan bunda lo setuju. Dan hubungan kalian juga bakal lebih mudah dijalanin." kata Sarah dengan nada memprotes.

"Raaa. Lo inget kan tadi pagi kita lewat mana. Lo yang paling kekeuh ngajak lewat jalan tol kan, dengan alasan jalannya lebih enak, nggak banyak gangguannya. Tapi, lo juga denger sendiri kan di radio kalo jalan tol macet parah? Nah, untuk kita lewat jalan pegunungan. Yaa emang sih jalanannya naik-turun belok-nikung gitu. Tapi indahkan? Dan lo seneng juga kan lewat jalan yang lo pikir nggak enak tadi? Waktunya juga lebih cepet dari biasanya." jawab Resyana. "sama kayak hubungan yang gue jalanin sekarang. Kalo misal gue sama Dhika, mungkin hubungan gue bakal terlihat lancar kayak jalan tol tadi. Tapi, gue nggak bahagia, Syaa."

"and then?" tanya Sarah penasaran dengan kelanjutan jawaban Resyana.

"yaa, kalo gue sama Ardian, yaa kayak jalan pegunugan tadi. Lebih challeging. Banyak rintangannya. Tapi indah. Gue bisa bahagia sama Ardian, Syaaa." kata Resyana. Airmatanya terlihat sudah berkumpul disudut matanya. Bersiap untuk tumpah. "maksud gue gini loh, Raaa.. Kalo jalannya lurus-lurus aja, apa yang bakal diperjuangin? Nggak bakal ada greget perjuangannya sama sekali. Sebenernya kalo gue mau, gue bisa aja main aman. Tapi gue mikir lagi, kalo gue main aman terus, kapan gue berani ambil resiko yang lebih 'worth it' hasil akhirnya? Ya gue tau sih semua pasti ada resikonya."

Sarah tidak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan Resyana. Sedikit butuh waktu untuknya mencerna apa maksud dari kata-kata Resyana.

"tau ah.. Gue bingung, gue pusing, gue bete, gue buntu." kata Resyana merengek.

"Kalo lo emang sayang dan udah yakin banget sama Ardian, lo bertahan sama dia ya, Syaa. Perjuangin dia, semampu lo. Tapi jangan mau kalo cuma lo aja yang berjuang, Ardian juga suruh berjuang ngeluluhin hatinya bunda gimanapun caranya." kalimat bijak Thalita pun meluncur dengan indah. "apapun asal itu baik buat lo kedepannya, gue pasti bakal dukung lo kok. Kita berdua bakal selalu ada disamping lo."

"Iyaa, bener, Syaaa." sahut Sarah dengan semangat empatlima.

Resyana menarik selimut dan membenamkan wajahnya di bantal. Ia tidak bisa lagi menahan badai air mata yang sedari tadi ingin tumpah. "kok gue gini banget sih?" gumamnya pelan.

Sarah dan Thalita saling beradu pandangan. Mereka bingung harus berbuat apa. Resyana adalah yang paling tegar dan jarang menangis diantara mereka bertiga. Mereka jarang sekali melihat Resyana menangis, yang paling sering malah mereka menangis dan ditenangkan oleh Resyana.

Sejurus kemudian, Thalita beranjak mengambil sesuatu dalam tasnya dan bergegas ke kamar mandi. Sarah tetap berada diatas tempat tidur sambil mengelus kepala Resyana pelan. Tak lama, Thalita keluar dari kamar mandi dan mencoba berbicara kepada Resyana.

"Syaaa.. Udah ya, jangan nangis terus. Gue tau ini berat buat lo, tapi kan kita kesini niatnya buat seneng-seneng sih, kok lo malah nangis gini?" tanya Thalita lembut.

Resyana perlahan membuka selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tak terkecuali wajahnya. Wajahnya sudah memerah, matanya juga terlihat sembab.

"lo mandi gih, berendam di bath-ub. Thalita udah siapin air anget buat lo berendam, plus lilin aroma therapy favorit lo." kata Sarah membujuk.

"yep. okay. Thank you so much, guys!" jawab Resyana seraya memeluk kedua sahabatnya. Kemudian ia menuju kamar mandi untuk sedikit relaksasi.

Dan setelah itu, mereka menghabiskan waktu untuk berbagi cerita ringan disebuah kedai teh dengan konsep rooftop langganan mereka. Sedikit melupakan tentang keluh-kesah, juga masalah hingga mereka lupa tentang hal buruk yang baru saja berlalu.

Jumat, 07 Agustus 2015

Doaku untuk "Kita"

Aku bukan ahli ibadah, hanya seorang pendosa.
Tapi tetap boleh kan aku berdoa untuk "kita"?
Meminta pada-Nya untuk mempersatukan kita pada mahrab-Nya.
Doaku tak banyak, hanya ingin bersama denganmu dengan sah.
Bercanda dan berbagi cerita, saling bercengkrama tanpa takut dosa.

Ya, aku memang bukan malaikat tanpa dosa.
Hanya seorang anak manusia yg sering berbuat salah.
Tapi, tak salah kan apabila aku selalu berdoa agar bisa jadi lebih baik saat nanti "kita" bersama?

Dalam sujudku aku tiada henti meminta agar Allah mempersatukan kita, bagaimanapun nanti kondisinya.
Memang terdengar sedikit memaksa, maka dari itu aku sedikit merubah doaku untuk "kita".

Yaa Allah.. Jika Engkau berkehendak aku bertakdir dengannya, maka persatukan kami dengan caraMu yg indah dan selalu sempurna.
Yaa Allah.. Apabila memang tak menghendaki aku bersamanya, maka pisahkan kami dengan caraMu yg indah pula.

Memang benar, doa tanpa usaha akan menjadi sia-sia. Pun sebaliknya.
Lalu bagaimana jika kita melakukannya bersama saja?

Aku dan kamu sama-sama berdoa dan berusaha untuk "kita".
Percayalah, niat baik akan selalu menemukan jalannya.
Akan ada hal indah menunggu didepan mata saat kita berhasil melewati semuanya.
Karena setiap hasil tak akan pernah menghianati prosesnya.

Pun jika nanti memang kita tidak digariskan untuk bersama, percayalah Allah sudah mempersiapkan yg lebih indah dari yg kita duga.
Tetaplah berusaha dan bertahan dalam "kita" hingga saatnya kita digariskan bersama atau berpisah.

Terimakasih telak memberiku cinta, aku mencintaimu juga. ♥

Menikah



Makin kesini makin banyak yg tanya "kapan nikah?" "kapan nyusul si ANU naik pelaminan?" dan yaaaa..... Pertanyaan sejenis itu.
Agak heran, kenapa orang-orang itu ngebet banget nyuruh buruan nikah. Apalagi orang-orang yg udah agak menua. Ribet sendiri.
Kalo udah gitu, kadang suka asal jawab "tahun Depan. Doain aja." Padahal dalam hati nerusin jawaban, "iya tahun depan, entah setahun kedepan, entah dua tahun kedepan, atau bahkan lima tahun kedepan."
Disadari atau enggak, sebenernya makin sering dicecar pertanyaan semacam itu, makin pengenlah buat cepet-cepet nikah.
Padahal awalnya mau seneng-seneng dulu, nggak buru-buru nikah.
Kadang, bukan karena emang udah siap nikah, tapi biar nggak ditanya-tanya lagi soal semacam itu.

Nikah itu nggak gampang, karena nikah itu nggak sehari-dua hari. Harapannya sih biar bisa selamanya, sampai akhir hayat ketika maut memisahkan kita. *eeeaaaa. Nikah bukan perkara menyatukan dua hati saja, tapi juga dua keluarga. Nikah itu nggak kayak pacaran yg kalo udah bosan sama hubungan, nggak sanggup bertahan, akhirnya putus. Nikah itu komitmen antara dua hati untuk saling melengkapi, saling menyemangati apapun yg terjadi.

Ada yang bilang nikah itu enaknya cuma 5% , yg 95% persen ENAK BANGET. Ada juga yg bilang nikah itu enak pada awalnya, selanjutnya ya harus bisa bertahan ketika badai besar menerpa.
Tujuan nikah itu ibadah, ya harapannya pasti semoga jadi keluarga yg Sakinah Mawadah Warahmah.

A : Kamu umur berapa sih?
B : Dua puluh satu tahun.
A : Udah buruan nikah, dulu istriku aja umur 19 tahun udah nikah.
B : Ya itukan istrimu, beda sama aku. Jangan disama-ratain. Mungkin istrimu yg emang ngebet nikah. Aku sih santai aja.
A : Eeeengh......

A : Kenapa nggak buruan nikah? Temen-temenmu udah pada nikah loh.
B : Yaudah sih, biarin. Yang nikah ya biar nikah, yg mau seneng-seneng biar seneng-seneng dulu.
A : Nikah itu seneng kok. 
B : Kalo pasangannya pengertian, kalo pasangannya ternyata banyak tuntutan? Gimana bisa seneng?
A : iya juga yaaa..

A : Kamu nggak pengen nyusul nikah temen-temenmu yg lainnya?
B : Yaelah bawel amat sih. Gini deh, oke aku nikah sekarang. Yang penting situ yang cariin jodoh, situ yang biayain semuanya, aku tinggal terima beres. Gimana? 
A : *diem*
B : Dikira nikah nggak ribet dan butuh biaya apa yaaa..

A : Kapan nikah?
B : Emang kenapa? Situ udah nikah?
A : Udah dong,
B : Kok gak kelihatan bahagia? 
A : *kemudian ngesot ke pojokan* 

Yah, diatas adalah beberapa percakapan seputar nikah berikut jawaban ngasalnya. Boleh dicoba bagi para lajang diluar sana yg udah eneg sama pertanyaan seputar kapan nikah.

Soal nikah, sebenernya nggak masalah kok sama usia, status sosial, status finansial, bahkan perbedaan keyakinan. Yang penting adalah perbedaan jenis kelamin, jangan sampai lah nikah sama sesama. Dosa. 

Semua balik lagi ke pribadi masing-masing dalam menyikapi masalah yg akan dihadapi sebelum memutuskan untuk menikah. Contohnya :

Perbedaan usia? It's not a big problem, selama bisa bersikap dewasa dan bijaksana dalam menyikapi masalah, semua bakal baik-baik aja. Semuda apapun umur kamu, kalo bisa ngambil sikap yg bener, semua aman. Pun sebaliknya, setua apapun umur kamu, tapi pas ada masalah nggak bisa bijaksana dalam bersikap, wassalam dah.

Perbedaan status sosial? Kalo udah cinta mau ngomong apa? Sometime, love is never fail. Setinggi apapun kastamu dalam tingkat sosial, kalo udah cinta, mau nikah ya nikah aja. Mikir apa kata orang? Duh, sampe berapa jauh sih orang ngomongin? Kalo udah capek paling juga mereka diem sendiri. Kalo emang cinta, nggak usah mikir gengsi, gengsi gak bikin kamu kenyang kok.

Masalah finansial, ini emang agak ribet kalo dibahas. Gimanapun ini penting. Sebelum memutuskan buat nikah, pastiin dulu udah punya pekerjaan, juga penghasilan. Pekerjaan sama penghasilan kan emang sepaket. Apalagi buat para cowok, punya pekerjaan itu harus, wajib hukumnya. Kalo cewek sih hukumnya sunnah buat kerja. Nggak harus kerjaan yg wah kok, yg penting kerjaannya halal, biar berkah buat keluarga. Percayalah, ketika sudah menikah, rejeki mah bakal ada aja jalannya.

Perbedaan keyakinan/agama, ini yg bisa bikin orang gagal nikah. Kata orang sih nggak bisa, satu kapal dua nahkoda. Tapi, bisa juga sih kalo emang rela mengesampingkan ego demi bertoleransi dengan segala konsekuensi. Karena pada dasarnya semua keyakinan/agama tujuannya sama, membawa pada kebaikan. Semangatlah kalian para pasangan pejuang "LDR-love different religion".

Last but not least, Restu Orangtua. Ini adalah hal yg paling penting dipunya saat mau memutuskan untuk menikah. Banyak pasangan yg gagal nikah gara-gara kesandung restu orangtua. Ada yg maksa nikah walaupun gak dapet restu orangtua, lalu hidupnya gak bahagia. "Ridho Allah tergantung pada ridho orangtua", dalam agama Islam ada yang menyebutkan seperti itu. Yaa gimana ya, pada dasarnya mana ada sih orangtua yg pengen anaknya hidup susah? Semua orangtua pasti nggak mau anaknya jatuh ke pelukan orang yg salah. Jadi, semua sih tergantung kitanya, karena yg nantinya jalanin hidup juga kita. Kalo emang kita yakin bisa bahagia sama pilihan kita, yaudah, terusin aja. Perjuangin restunya. Ketika sudah menentukan pilihan, ingatlah ada konsekuensi di belakangnya. Baik atau buruk.
Buat para orangtua diluar sana, kalian memang berhak untuk menuntun mereka mendapat yg terbaik untuk masa depannya, tapi bukan berarti memaksa kehendak kalian untuk menuruti apa yg kalian minta. Ada kalanya membiarkan mereka menentukan pilihan untuk masa depannya.

Kayak udahan dulu lah ya bahas nikah-nikah. Hayati sudah terlalu lelah. Postingan ini cuma sekedar untuk seru-seruan aja. Ambil sisi baiknya, abaikan sisi buruknya. Hidup nggak udah dibikin susah. Oh iya, jangan lupa yaa doain penulis blog ini bisa segera ketemu jodoh kemudian diajak nikah. :P :D Bhaaaaayy!!!

Rabu, 20 Mei 2015

Random : Aku dan Kamu

Ciyeee.. Aku dan kamu sudah menjadi kita, nih..
Seneng banget dong, kan akhirnya aku dan kamu nggak sendiri lagi..
Aku dan kamu sekarang bisa berbagi kasih sayang, keluh kesah, canda tawa, juga sedih ceria..

Untuk kamu, makasih ya sudah mau menjadi bagian dari aku..
Makasih sudah mau menjadi pendengar keluh kesah yg sebenarnya tentang hal itu-itu saja..
Makasih sudah menjadi sandaran ternyaman untuk aku..
Tolong ya, jangan bergeser ketika aku sedang bersandar di kamu.. Nanti aku kejengkang..
Kamu nggak mau bikin aku kejengkang kan?

Aku sayang kamu. Kamu juga sayang aku kan?
Aku nggak mau kamu pergi. Kamu juga nggak mau aku pergi kan?
Kalo kita sama soal ini, Alhamdulillah yaa.
Kalo enggak..... Ya.. Sudahlah.. Tak apa.. Aku juga nggak akan maksa..

Tapi.. Kamu kenapa akhir-akhir ini suka banget nyuruh aku pergi mencari yang lebih baik dari kamu? Kamu nyuruh aku pergi buat mencari yang lebih bisa bikin aku bahagia..
Apa kamu nggak yakin bisa bikin aku bahagia?

Aku percaya kok, kamu bisa bikin aku bahagia. Buktinya selama ini aku bahagia terus sama kamu..
Kamu harus percaya ya sama diri kamu sendiri, aku yakin kamu bisa..

Kamu jangan bikin sia-sia kepercayaan yang aku kasih buat kamu..
Kamu jangan bikin aku kecewa yaa..

Iya, aku sadar aku banyak kurangnya.. Aku sadar aku kadang suka bikin kamu kesel.. Aku cerewet, aku banyak omong, aku suka ceroboh, dan kadang aku suka nggak mikir panjang kalo mau berbuat sesuatu..

Tapi, aku yakin kok sama kamu aku bisa jadi lebih baik. Kamu juga bisa jadi lebih baik. Yah, kita sama-sama lebih baik deh kalo berdua..

Kamu jangan suka mikir macem-macem soal aku yaa. Percaya deh sama aku, percaya sama Tuhan juga.. Yakin deh, niat baik hasilnya juga baik..
Niat baik pasti ada jalan, walaupun kadang menemui batu sandungan..

Stay with me ya, I Love You. ♥

Selasa, 21 April 2015

Tattoo

Adam Levine

Adam Levine, nikmat dan kecakepan mana lagi yang bisa didustakan dari ciptaan Tuhan satu ini? Ya, suami dari Behati Prinsloo ini memang amat sangat keren cetar membahana ulala. Udah brewok seksi menggemaskan, suaranya bikin melting,  ditambah banyak tato yang nempel di badannya, duuuuuh, bikin dia kelihatan amat sangat macho sekali. Iyaaa, gue tau ini berlebihan, tapi kenyataan emang gitu. Gak percaya? Coba deh kumpulin 10 orang cewek, gue jamin 9 dari 10 cewek bilang Adam Levine ini emang sosok idaman mereka. Gue rasa satu orang yang nolak pernyataan ini adalah lesbian. Hahahaha

Jujur gue suka banget liat cowok tatoan. Macho! Pengen gak punya pacar tatoan? Jujur gue pengen banget punya pacar tatoan. Tapi cowoknya harus rapi, bukan yang model preman. Sorry lah yaa!

Tapi, kalo gue ditanya maunya nikah sama cowok tatoan. gue bakal mikir seribu kali lagi. Gue emang suka, tapi gue nggak mau kalo orang yang gue sayang, apa lagi suami gue nanti orang yang tatoan. Karena, dalam agama gue, ibadah wajib nggak sah kalo ada tatonya gitu.

Cowok tatoan itu keren, kece abis, look like a badboy, cocok banget dipacarin, tapi nggak cocok dinikahin. Itu menurut gue sih ya, nggak tau kalo mas Anang. *lhooo

Gue pernah punya sahabat cowok, bisa dibilang teman kecil, karena gue kenal dia dari kecil. Kita deket banget, sampe akhirnya saling suka. Dia pernah bilang cinta, dan ngajak gue jadian, tapi dengan banyak pertimbangan gue akhirnya nolak. Asli, sebenernya gue juga suka sama dia. Gue juga sayang sama dia. Dia ganteng, manis banget kalo senyum, dan hidungnya itu loh mancung banget kayak perosotan anak TK.

Beberapa kali kita lost-contact, tapi ujung-ujungnya bisa nyambung lagi. Beberapa kali juga dia nyatain perasaan ke gue, beberapa kali itu juga gue jawab "sorry, aku nggak bisa." Alasannya simple sih sebenernya, gue takut ketika nanti gue pacaran sama dia trus putus ditengah jalan hubungan gue sama dia bakal memburuk dan nggak sebaik dulu. Gue nggak bisa kehilangan dia. Alasan mainstream yaa? Iyaa.

Sampe pada akhirnya, setelah lama gue lost-contact sama dia dan gue kangen, gue cek akun social medianya. Gue coba contact dia lagi, dan akhirnya berhasil. Gue seneng banget, asli. Makin kesini, gue makin mikir buat nyoba jalin hubungan sama dia. Gue berniat bakal jawab "iya" kalo misal nanti dia nembak gue buat kesekian kalinya.

Gue sempet beberapa kali jalan sama dia, main kerumahnya, ngobrol sama keluarganya. Asyiknya, seluruh anggota keluarganya welcome banget sama gue. *yaaaay* Gue pun makin intens komunikasi sama dia. Udah deket banget, pelan-pelan dia mulai jarang ngehubungin gue, gue mencoba paham, kita emang sama-sama sibuk.

Meskipun gue udah jarang contact sama dia, gue masih sering stalking akun dia. Pas lagi nikmatin aduhainya stalking, ada beberapa foto yang bikin gue diam ditempat, shock, susah nafas, berasa ditikam sama 10 buah pisau sekaligus beserta panah asmara Arjuna. *duuuh*

Kenapa gue bisa sampe kayak gitu? Foto apakah yang bikin gue diam tak berkata-kata? Yak, foto itu adalah foto topless dia. Enggak, bukannya gue napsu liat dia topless. Gue shock ngeliat banyak tattoo di beberapa bagian tubuhnya. Gue lemas, lelah, letih, lunglai. Udah mirip penderita anemia akut. Nggak terasa, gue netesin air mata. Gue nggak lagi kelilipan kecoa waktu itu, gue beneran nangis. Gue kecewa, kenapa harus dia. Dia yang gue sayang banget, kenapa? Kenapaaaaa? *lalu gue bershower*

Percaya nggak percaya, pas gue main kerumahnya dan nggak ada dia, nyokapnya cerita semuanya tentang dia. Tentang kebenaran tattoo itu, juga tentang alasan kenapa dia sampe mentattoo beberapa bagian tubuhnya,

Yep. Harapan gue pupus sudah. Gue cuma bisa ngubur harapan buat bisa sama-sama dia. Karena... Yaaa.. Gue emang suka sama cowok bertato, tapi gue nggak bakal terima orang yang gue sayang bikin tattoo di tubuhnya. Kan itu sama aja mereka nyakitin diri sendiri.

Iyaaa, gue ngerti. Kumpulan paragraf diatas berisi curhat colongan. Tapi emang, gue kecewa banget pas tau orang yang gue sayang ternyata bikin tato. Gue sih nggak masalah sebenernya, cuma gue mikir jauh ke depan aja. Bukannya gue nggak bisa terima dia apa-adanya, cuma gue juga mikir apa kata mama. Yaa walaupun mereka yang bertato nggak selamanya buruk, tapi stigma masyarakat luas tetep "bertato itu buruk."

Gue pribadi sih, yang bikin gue nggak suka adalah karena tato itu dilarang dalam agama gue (setau gue sih). Gue tau gue bukan orang suci. Gue sadar, gue bukan orang yang nggak pernah bikin dosa, malah sebaliknya, bisa dibilang gue pendosa. Mungkin mikir gue kejauhan, tapi emang sih gue udah mikir sampe sejauh "kalo gue nikah sama cowok bertato, trus shalatnya nggak sah kalo dia belum hapus tatonya, gimana nasib gue? Gimana nasib ibadah kita? Gimana kita dapet ridho-Nya?" Yak, walaupun gue termasuk makhluk ciptaan Tuhan yang penuh dosa, gue juga tetep pengen masuk surga.

Gue nggak ada maksud nyindir atau bilang kalo orang bertato itu buruk kok. Karena baik-buruknya orang nggak bisa diukur cuma sebatas fisik kelihatannya. Yang penampilannya berdasi-rapi kadang masih korupsi, pun sebaliknya. Yang bertato dan dandanannya nakutin bisa jadi lebih peduli sama kondisi sekitar. Yaa, gue cuma berbagi cerita.

*NB : kalo ada kritik ataupun saran keluhan, bisa tulis di kolom komentar yaa. Gnight, Readers! :*

Minggu, 25 Januari 2015

Tiga Dara Punya Cerita : Tahun Depan Nikah

Hari minggu sepertinya adalah hari yang tepat untuk menikmati waktu santai. Seperti yang dilakukan tiga dara ini. Disebuah rumah bertipe minimalis, di kawasan villa elit di kaki gunung ini tiga dara ini berkumpul.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang beranjak dari tempat tidur. Mereka masih setia diatas tempat tidur, menyembunyikan kaki mereka dibalik selimut. Berdasarkan aplikasi AccuWeather, suhu di daerah rumah tersebut menunjukkan angka 20 derajat celcius. Dingin, tapi udara yang dihirup terasa segar. Mungkin karena rumah ini berada di kaki gunung, di tengah kebun berbagai macam bunga milik penduduk setempat, dan daerahnya masih sepi dari hiruk-pikuk kota. Polusi udara yang dihasilkan di tempat ini juga lebih sedikit, karena penduduk sekitar juga jarang sekali menggunakan kendaraan bermotor.

Salah satu dari tiga dara ini meraba-raba meja kecil disamping tempat tidur mencari remote tv. Salah satu lainnya beranjak dari tempat tidur dan membuka tirai kamar. Sedikit demi sedikit cahaya matahari mulai menyeruak dan menyinari seisi ruangan. Yang terakhir yang masih di tempat tidurpun akhirnya dengan ogah membuka mata.

Thalita, perempuan yang bangun paling awal menyalakan televisi. Memencet remote berulang kali mencari acara televisi yang berkualitas. Ia beranjak dari tempat tidur dan pindah ke karpet bulu yang tebal dan lembut di depan tempat tidur.

Resyana, perempuan yang membuka korden tadi bergegas turun ke lantai satu dan mulai merebus air. Ia bersiap untuk membuat satu teko teh hijau untuk dinikmati bertiga di kamarnya yang ada di lantai dua. Tidak lupa pula ia menyiapkan beberapa lembar roti dan satu botol selai coklat untuk toppingnya. Setelah air mendidih dan satu teko teh hijau siap, Resyana meletakkannya di atas baki berdampingan dengan roti dan selai yang lebih dahulu disiapkan tadi. Iapun membawa baki tersebut ke kamarnya, di lantai dua.

"sarapan siap!" katanya seraya meletakkan baki tersebut di meja kecil di sisi ruangan.

"okeee thank you." Thalita bergegas menuang teh dari teko ke cangkir.

Sarah, dengan malas dia bangun dari tidurnya. Duduk sebentar bersandar di bantal empuk yang diletakkan di belakang punggungnya. Ia menguncir rambutnya dan beranjak membuka pintu pembatas antara kamar dan balkon. Ia berdiri lama, menikmati segarnya udara yang berhembus, sambil sesekali mengamati kegiatan penduduk sekitar mengurus kebun bunga.

"Wah gila, ini artis nikahannya mewah kok udah mau cerai aja sih? Duh sayang banget." celetuk Thalita yang berkomentar tentang infotainment.

Sarah yang mendengar celetuk Thalita kemudian masuk, mengambil secangkir teh, dan duduk di karpet. Tepat disamping Thalita. Resyana hanya nyengir dan melanjutkan kegiatannya membaca majalah di balkon.

"gue bakal tunangan bulan depan." kata Thalita. Matanya masih belum berpaling dari layar televisi.

"oh. bagus deh, akhirnya lo bisa jalanin hubungan yang lebih serius." sahut Resyana datar.

"Alhamdulillah. Akhirnya sahabat gue tunangan juga. Selamat, Thaaaaa!" Sarah heboh. Untungnya dia tidak melakukan hal diluar batas, salto misalnya.

"Trus lo nikah kapan? Tahun ini juga apa tahun depan?" tanya Resyana. Sejenak ia menutup majalahnya.

"yaaa rencana sih tahun depan aja, abis gue lulus kuliah tahun depan." jawab Thalita seraya mengunyah roti lapis isi selai coklat. Mulutnya sedikit penuh.

Kemudian mereka melanjutkan aktifitas masing-masing tanpa ada kata yang terucap lagi. Thalita memakan roti lapisnya sambil menekan-nekan remote televisi. Resyana melanjutkan aktifitasnya membaca majalah sambil sesekali menyesap secangkir teh disampingnya. Sedangkan Sarah sibuk dengan roti lapis di tangan kanan dan smartphone di tangan kirinya.

Suasana terasa hening, hanya ada suara musik dari televisi yang sedang memutar video clip Maps-Maroon5.

"Gue mau nikah tahun depan." kata Resyana. Ia beranjak dari balkon dan naik ke tempat tidur, melanjutkan membaca majalah.

"jokes?" tanya Thalita heran.

"No." jawab Resyana datar.

"are you sure?" tanya Sarah menegaskan.

"Yes." jawab Resyana. Nadanya masih tetap datar.

"Oh." Thalita dan Sarah menyahut bersamaan. Kemudian hening. Hingga beberapa saat.

"Lo serius mau nikah tahun depan?" tanya Sarah yang masih penasaran.

"Iyaa gue serius." jawab Resyana santai.

"Tapi kan lo......" Sarah tidak melanjutkan perkataannya. Ada sesuatu yang ditahan untuk dikatakan.

"Jomblooooo.." sahut Thalita. "trus lo mau nikah sama siapa, Sya?"

"Sama jodoh gue lah." jawab Resyana datar. "Niat gue kan baik. Dan gue percaya, niat baik pasti bakal dapet hasil yang baik pula."

"Iyaa deh percaya." jawab Sarah. "Emang niat lo apa? Kok lo bisa bilang niat lo baik?"

"Niat gue? Pertama sih niat ibadah." kata Resyana. Kemudian ia meneruskan, "yang kedua gue nggak mau kebanyakan dosa kalo pacaran kelamaan. Pegangan tangan doang aja dosa, apalagi yang lain. Sementara, kalo lo pacaran lama, nggak mungkin lo pacaran cuma pegangan tangan doang. Berani deh gue taruhan."

"Ciyeeee.. Ustadzah dadakan nih." kata Thalita seraya tertawa. "yaa tapi emang bener sih kata lo, Sya. Pacaran lama-lama, tahunan, dibawa kemana-mana nggak nikah-nikah. Pacaran apa kredit motor?"

"Iiihh lo jahat, Thaaaaa.. Gue kan pernah kayak gitu dulu." kata Sarah, raut wajahnya dibuat-buat seperti orang marah. Tetapi malah terlihat seperti peserta tahan tawa. Kocak. "By the way, gue juga sih. Kayaknya tahun depan ada yang mau ngajak gue nikah gitu. Udah kode-kode."

"Ciyeeee.. Udah laku lo, Raa?" canda Resyana.

"Yaelah. Berasa gue nggak laku banget sih, Syaa? Ih lo mah gitu." Sarah sok cemberut.

"Enggak, gue cuma bercanda, Raaa.." kata Resyana.

"Emang siapa yang kode-kode ngajak lo nikah?" tanya Thalita.

"Ada dua sih." kata Sarah pelan seraya mengacungkan dua jarinya.

"Buset. Kenceng juga lo. Nggak ada angin nggak ada hujan udah dua aja." kata Resyana. Kini ia semakin terlarut dalam perbincangan tiga dara ini. Ia benar-benar mengabaikan majalah yang tadi dibacanya.

"Heheheheheeee...." Sarah hanya menjawab dengan tawa. "Jadi, yang satu gue suka. Suka banget, tapi dia suka narik-ulur hati gue gitu deh. Kadang kayak iya, kadang kayak enggak. Gue kan kesel, Syaa, Thaa.."

"Terus yang satunya lagi?" tanya Thalita mulai bersemangat. Perbincangan kali ini semakin seru.

"Yang satu, gue nggak begitu suka sih. Cuma ya dia care sama gue, dia daridulu deket sama gue. Gue tau dia suka sama gue, tapi gue pura-pura aja nggak peka kalo dia suka sama gue. Dia berjuang banget, gue kan jadi luluh. Heheheehehe..." jawab Sarah seraya melirik kedua sahabatnya itu. Ia tersenyum malu-malu.

"yaaa lalu?" tanya Resyana datar.

"yaaa lalu.... Gue bingung. Gimana kalo misal mereka berdua ternyata sama-sama suka gue, terus sama-sama ngajak gue nikah? Gue harus nikah sama yang mana dong? Yakali gue nikahin dua-duanya?"

"Yaaa, boleh-boleh. Nggak papa, nggak papa. Kan enak kalo lo nikahin dua-duanya. Kalo mereka mati lo dapet warisan dua kali lipat. Lo jadi bisa nraktirin kita berdua liburan ke Eropa." kata Thalita sambil mengangguk. Raut wajah yang serius berpadu dengan kata-kata gila yang muncul membuat mereka bertiga tertawa.

"heh, gila lo. Masa temen sendiri diajarin matre?" kata Resyana tiba-tiba yang mendadak berhenti tertawa. Raut wajahnya mendadak serius. "Jangan liburan ke Eropa, warisannya buat beli apartement aja di Aussie, biar bisa kita tinggalin bareng."

Kemudian mereka tertawa.

Kemudian hening sejenak. Kemudian Sarah bertanya,"jadi gimana?"

"Apanya?" Thalita dan Resyana balik bertanya bersamaan.

"Yaa gue, gimana? Kalo gue diajak nikah sama mereka?" tanya Sarah, ia mendadak gelisah.

"Ah lo kepedean, GR lo." kata Thalita mencibir, tapi bercanda.

"Yaaa semoga aja sih gue kepedean." kata Sarah, nadanya mendadak datar.

"Gini deh, menurut gue, kalo misal emang beneran kejadian, saran gue lo pilih cowok kedua yang lo ceritain deh. Soalnya kan dia udah ketahuan sayang sama lo dari awal, dia berjuang buat lo juga. Yaaa meskipun lo nggak terlalu suka sama dia, seenggaknya lo hargai lah perjuangan dia gimana. Cinta kan ada karena terbiasa." kata Resyana menengahi. Entah ada angin apa, ia menjadi lebih bijak dari biasanya.

"trus cowok yang pertama gimana? gue sayangnya sama dia." tanya Sarah. Kali ini ia benar-benar cemberut, gelisah.

"Kalo menurut gue yaa, Raa, gue setuju sama si kampret satu ini." kata Thalita seraya memainkan kedua alisnya. "emang sih lo suka sama dia, tapi dia udah narik-ulur hati lo. Dia udah main-main sama perasaan lo. Udah ketahuan kan dia nggak gentle, dia nggak ada usahanya sama sekali buat bisa sama lo kan? yaa kan? Kalo pada akhirnya dia bilang dia nyesel nggak berjuang buat lo, itu salah dia sendiri."

"doesn't it mean i hurt him?" tanya Sarah.

"yaaa enggak lah, dia nggak ada perjuangannya buat lo, trus lo milih orang lain yang berjuang buat lo, trus dia bilang lo nyakitin dia? Mana sini, kalo dia emang bilang gitu biar gue gampar pake ujung high heels." mendadak Resyana kesal.

"Yaudah sih, Syaa. Santai aja, nggak usah berurat juga kalo ngomong." kata Thalita mengingatkan. Ia mengelus pundak Resyana.

"heheheheheee... Sorry, gue kebawa emosi." sahut Resyana. "oke, kembali ke topik. Kalo lo luluh ketika dibilang nyakitin dia, si cowok pertama, berarti lo jahat. Dan lo bukan temen gue lagi, karena gue anak baik, nggak mau gue temenan sama orang jahat, ntar gue dipenjara."

"Yaelah, Syaa.. Serius dong. Gue udah dengerin lo nih, ah elaaaah." keluh Thalita.

"Aduh, sorry, gue gagal fokus gara-gara ada Nassar-Muzdalifah di tv." Resyana nyengir. "Iyaaaa, lo bakal jadi orang jahat, Raa. Soalnya lo udah ngorbanin perasaan orang yang berjuang mati-matian buat lo demi orang yang ngakunya sayang sama lo tapi nggak ada perjuangannya sama sekali."

"Gitu ya?" akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Sarah.

"Dan orang yang berjuang mati-matian tapi lo sakitin, bisa jadi nanti dia depresi. Abis depresi dia nekat bunuh diri di pohon cabe. Pas udah mati, setannya gentayangin lo." kata Resyana. Kemudian hening. Hening sekali.

Kemudian mereka bertiga saling memandang tanpa makna satu sama lain. Kemudian Resyana melotot dan menjulurkan lidah layaknya zombie yang tercekik benang layang-layang. "hek...kek..kekk.." Dan merekapun tertawa.

Semakin lama, percakapan antara tiga dara ini semakin absurd. Tidak jelas kemana arahnya.

Selasa, 13 Januari 2015

Resolusi 2015

Selamat tahun baru, readers !
Apa kabar di tahun baru ini ? Semoga lebih baik yaa dari tahun kemarin. Yaa walaupun udah lewat beberapa hari sih ya. Kalo misal nggak lebih baik, atau tetep gitu-gitu aja, yaudah deh. Terima nasib aja yaa ! :D


Biasanya orang-orang dan anak gaul yang kekinian pasti bikin resolusi tiap tahun. Entah itu resolusi baru, ataupun lanjutan dari resolusi tahun sebelumnya. Contohnya : di tahun 2015 ini gue pengen ngelanjutin resolusi gue di tahun 2014 yang belum kelar yang sebenernya resolusi itu gue revisi di tahun 2013 karena ada perubahan resolusi dari 2012.

Di postingan gue sebelumnya, gue udah bahas beberapa pencapaian yang udah berhasil gue lakuin. Ada juga sih beberapa kegagalan yang gue alami. Yah, namanya juga hidup. Nggak mungkin sukses terus. Nggak mungkin berjalan mulus-semulus palanya oom Dedy Corbuzier.
Setelah apa yang gue lewati di tahun 2014 kemaren, ini nih beberapa resolusi yang pengen gue capai di tahun 2015.

Get more happiness. Yaa, gue pengen lebih bahagia dia di tahun ini. Bukan berarti tahun kemaren gue nggak bahagia, cuma terlalu banyak kesedihan yang bikin gue down tahun lalu.Senoga aja sih tahun ini orang jahat disekitar gue musnah, jadi gue bisa lebih bahagia lagi.

Stay Strong and Healthy.  Gue berharap bisa tetep sehat dan kuat. Baik jiwa-raga, jasmani-rohani. Nggak gampang sakit, baik sakit badan maupun sakit jiwa. Kuat disini bukan berarti gue berharap bisa ngangkat barbel 50kg pake kelingking yaa, tapi gue berharap daya tahan tubuh gue yang kuat, jadi nggak gampang drop kalo lagi kerja keras. Rohani juga, gue berharap rohani gue tetep sehat, nggak gampang baper, juga nggak gampang sakit hati. Agak susah sih, tapi dicoba aja deh. Eh tapi, soal sehatnya jiwa gue nggak yakin bisa jaga deh, soalnya kalo udah kumpul sohib jadi kumat gilanya. hahahahahaaa

More Travelling. Gue berharap tahun ini gue dapet ijin dari bokap-nyokap buat travelling ke tempat-tempat yang gue mau. Tanpa mereka tentunya. Karena kalo sama mereka pasti cuma bakal jadi sebuah wacana, nggak berangkat. Ya, gue ngaku, gue anak mama banget walaupun udah segede ini. 

Nggak ketemu tukang PHP dan sejenisnya. Gue udah capek ngadepin tukang PHP dan sejenisnya. Yang sukanya acting like they likes, but actually they don't. Duh muak banget deh. Ibarat mah pintu hati gue udah kebuka lebar-dia dateng-gue seneng-dia basa-basi sok mau masuk-berdiri lama depan pintu-menghalangi orang lain yang berusaha masuk-eeh ternyata in the end pergi entah kemana. Tahik banget kan cowok macem gini? Kalo ketemu cowok mecem gini sih gue bawaannya pengen masukin dia ke dalem karung, pukulin, tusuk-tusuk pake piso daging, buang ke laut, trus disantet.

Lebih banyak postingan di blog. Ini resolusi yang dari dulu belum bisa terealisasi dengan baik. Si Inuk-adek ketemu gede gue sering banget nodong gue buat buruan posting sesuatu di blog. Tapi ya gimana, maksud hati memeluk gunung, apa daya tanganku pendek. Ya, selain gue sibuk kerja, ide kreatif juga datangnya angin-anginan. Kayak kamu, iya kamu. *eeeh
Setiap gue nganggur di tempat kerja, gue pasti ada niat "ntar pulang kerja gue ngeblog ah." Eeh begitu sampe rumah, gue udah tepar. Yanasib. 

Dapet pacar, ketemu jodoh. Ini hal penting, karena gue capek ditanya "pacar lo siapa? Masih betah jomblo?" kalo kata anak gaul kekinian sih "adek lelah bang." "hayati sudah tidak kuat bang. Bunuh hayati di rawa-rawa." *lho?
Soal kriteria sih gue nggak muluk-muluk, walaupun nyokap pengen punya menantu mirip Rajo Langit-nya 7 Manusia Harimau dan bokap pengen punya menantu kayak Syaheer Nawaz, gue cuma pengen yang kayak Vidi Aldiano aja kok. Atau kalo enggak, adiknya Vidi juga boleh, si Vadie Akbar. :D

Yaaaa, gue rasa segini dulu deh resolusi yang bisa gue share. Buat para readers yang mau share resolusinya, bisa tulis di kolom komentar. Thank you ! :)

Oh iya, sebelum postingan ini kelar, ada games buat seru-seruan. Tiga kata pertama yang kalian lihat bakal jadi milik kalian di tahun 2015 ini. Coba share ya kata apa yang kalian dapet ! :D 

Kalo gue, kata yang gue dapet sih : Love, Money, and Happiness ! :D

Senin, 12 Januari 2015

(Tragedi) Upacara Bendera

 



Udah dua tahun lebih gue lulus sekolah (baca : SMA), dan udah hampir dua tahun gue kerja. Nah, selama dua tahun lebih gue lulus SMA gue udah nggak pernah lagi ngikutin yang namanya rutinitas upacara bendera di hari senin atau upacara peringatan hari apapun. Pernah sih, upacara 17an di perusahaan tempat gue kerja. Itu pun setahun sekali. 


Tahun 2014 kemarin, diadain lagi upacara bendera buat memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69. Seinget gue sih upacaranya tepat di hari minggu. Yaa, it's mean gue harus masuk kerja di hari minggu walaupun cuma buat upacara bendera aja. Huft. Ma-to-the-les, males. Bangeeet. Bukan karena gue nggak nasionalis, tapi karena hari minggu adalah hari ngebo buat gue. Biasanya kalo hari minggu dan gue nggak ada yang ngajak main, gue pasti bangun siang-cuci baju-tidur lagi-sore bangun-mandi-tiduran di kamar-tidur. Itu udah jadi rutinitas.

Malemnya, tanggal 16 Agustus itu kebetulan pas malming. Gue galau berat. Bukan, bukan gara-gara gue jomblo. Gue galau karena mikir, enaknya ikut upacara atau enggak. Gue merenung. Gue diem aja. Sesekali gue ngupil. Gue diem lagi, merenung lagi. Gitu terus sampe hujan coklat di ladang gandum. 

Setelah gue mengalami pertempuran hati yang begitu hebat, setan merah dan malaikat putih saling mempengaruhi kerja otak gue, gue akhirnya memutuskan untuk.......... Move on dari mantan. *Lho?
Enggak ding. Maksud gue, gue memutuskan buat ikut upacara bendera hari minggu, 17 Agustus 2014. Fix. Tentunya dengan berbagai pertimbangan, antara lain ; gue adalah pemudi yang berjiwa nasionalis, dan selain itu biasanya abis upacara dapet roti buat sarapan. Lumayan. *ketawa hina*

Pagi-pagi banget, abis shalat subuh gue udah buru-buru mandi. Rajin banget, padahal biasanya kalo hari minggu gue mandi sehari sekali udah cukup. Abis itu gue ngelakuin rutinitas sehabis mandi, contohnya pake baju, dandan, dan nyeruputin teh buatan mama. Wenak !

Jam setengah tujuh gue tancap gas, berangkat ke tempat kerja. Sebelumnya, gue mampir kerumah temen gue, soalnya dia bilang mau nebeng. Okee. 
Dijalan, pas nunggu temen gue ambil tas, perasaan gue mulai gak enak. Perut gue mules, mungkin karena efek hawa minggu pagi yang agak dingin kala itu. 

Jam tujuh kurang sepuluh, gue buru-buru jalan cepat ke lapangan karena katanya upacara mulai jam tujuh. Pas jalan di lapangan menuju ke barisan, kaki gue kecengklak. Di tanah lapangan yang penuh rumput, ternyata ada lubang bekas galian yang nggak kelihatan. Alhasil gue jatuh. Seketika itu juga semua mata tertuju ke gue. Klimaks!

Sumpah malu abis. Apalagi kebanyakan yang gue lewatin adalah para cowok. Tapi gue mencoba buat stay cool dan bilang "nggak papa, nggak papa kok." Padahal asli, pantat gue sakit banget. Gue jadi ngerasa bersalah, kenapa gue pake sepatu high heels yang tingginya 5cm. Dan upacarapun dimulai. Sejauh ini nggak ada hal aneh atau apapun terjadi. Cuma kedengeran beberapa mas-mas di bagian belakang yang ngobrol dan cengengesan. Sesekali gue senyum nahan ketawa kalo denger percakapan absurd mereka. 

Setelah berdiri lama, sampe kaki kejangkrikan (karena kesemutan terlalu kecil), akhirnya upacaranya kelar juga. Duuuuh legaaaa.. 
Abis upacara dan ambil kue, gue pulang. Sampe rumah gue ganti baju, terus tiduran. Nerusin aktifitas gue yang tertunda gara-gara upacara tadi. Gue baru sadar kalo gue belum buka HP sama sekali sejak upacara tadi. Gue ambil deh itu HP, gue coba cek apa ada chat BBM ataupun WhatsApp yang masuk. 

Mengejutkan. Banyak banget chat yang masuk ke gue. Kebanyakan dari temen-temen yang berbeda jenis kelamin. (re:cowok). Dan, kebanyakan isinya adalah pertanyaan seputar "kamu kenapa bisa jatuh sih?" "kamu nggak papa? jatuh kenapa tadi?" Antiklimaks!

Sumpah gue malu abis, gue lemes, mata gue melek merem. Iya, gue kaget plus nahan ngantuk. Gue ngerasa grade gue turun drastis. Memalukan. Tuhaaaaan, ganti wajahku jadi Audi Marissa sekarang jugaaaa. Aku malu Tuhaaan... 

Alhasil, gue jelasin deh ke mereka satu-satu. Gue ceritain kronologi yang sebenarnya. Ada yang bales chat pake kata "HAHAHAHAHAAA" ada juga yang balesnya care banget, macem "lain kali hati-hati yaa kalo jalan, biar nggak jatuh lagi." Padahal gue tau, yang balesnya sok care lagi ngakak baca kronologi tragedi upacara bendera gue. 

Gue diem. Gue masih kebayang tragedi upacara ini. Gue berasa bego banget deh. Malu abis. Gue geleng-gelengin kepala, berharap bisa lupa sama kejadian ini. Tapi yang ada gue malah pusing dan akhirnya tidur.

*SEKIAN*