Bebiy : sayaaang.. aku lagi sakit nih. :(
Aku : sakit apa yaang? udah makan belum?
Bebiy : kecapekan sih. udah sayang. sayang udah makan belum?
Aku : ini lagi beli makan sekalian nyoba menu di cafe baru. yaudah, minum obat, trus istirahat yaa yaang biar cepet sembuh.. :*
Setelah pesan singkat melalui BBM yang terakhir aku kirimkan itu, tak ada respon. Hanya huruf R yang terlihat. Pertanda pesanku sudah dibaca. Lama aku menunggu balasan chat di BBM itu, namun hasilnya nihil. Yaa, aku rasa dia tertidur karena pengaruh obat. Mungkin dia sedang beristirahat. Namun ternyata, inilah awal dari hal buruk yang terjadi. Esok harinya, tak ada kabar, tak ada pesan. Tak ada sapaan, bahkan sekedar senyuman saat berpapasan. Aku bingung tentang apa yang sedang terjadi. Rasanya kemarin masih baik-baik saja. Tapi sekarang keadaan berubah seratus delapan puluh derajat. Kebanting abis.
Sehari tanpa kabar, dua hari tanpa kabar, hingga seminggu tanpa kabar. Tak ada pesan ataupun panggilan masuk. Aku mecoba mengirim pesan, tapi tak pernah ada balasan. Aku memberanikan diri menelepon dan aku bertanya ada apa sebenarnya.
"haloo.." sapanya datar dari jauh. "ada apa?"
"apa kabar yaang?" tanyaku. Suaranya sedikit mengobati rindu ini.
"aku baik-baik aja." jawabnya datar. Dingin.
"yaang, kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini ngilang gitu?" tanyaku to the point.
"aku nggak papa. Aku bosen aja. Lagi males." jawabnya dengan nada tetap dingin.
"bosen kenapa? Bosen sama siapa? sama aku?" tanyaku.
"yaa bosen sama semuanya. sama kamu, sama kerjaan, sama semuanya lah. rasanya pengen pergi jauh." jawabnya.
Hati terasa tertusuk ratusan pisau mendengar pernyataannya.
"kamu kenapa sih? kalo ada apa-apa cerita dong. Katanya harus saling terbuka, tapi kok kamu sekarang kayak gini?" tanyaku. Aku berusaha menahan emosi yang sebenarnya memaksa untuk diluapkan.
"nggak tau lah. udah yaa, aku lagi dirumah temen nih. Nggak enak sama temenku." dan telepon pun ditutup.
Aku mengumpat dalam hati. Aku marah atas perlakuannya. Airmata mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi. Namun, logika terkalahkan oleh cinta. Aku mengalah dan membiarkannya bebas berfikir selama beberapa waktu.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulanpun ikut berganti mengikuti. Hubunganku dengannya semakin memburuk. Bahkan bisa dibilang sedang mengalami mati suri. Mungkin bisa dibilang aku sedang merasakan yang namanya "Pacaran rasa Jomblo." Tapi aku masih tetap bersembunyi dalam senyum yang seolah mengatakan "kita baik-baik saja." yaaa, dibalik kita baik-baik saja telah ada kita ada diambang perpisahan.
Berbagai pikiran negatif dan bayangan akan hal buruk yang akan terjadi pun bermunculan. Flashback tentang kegagalan dalam hubungan yang lalu pun ikut muncul dengan tidak sopan. Siklus diabaikan, lalu muncul alasan mainstream dan absurd yang berending putus pun sempat terlintas. Oh Tuhan, jangan lagi. Jangan sampai siklus ini terjadi untuk ketiga kalinya.
Aku bercerita mengenai hal ini kepada sahabatku yang kebetulan sedang menginap dirumahku. Dia shock dan tidak terima sahabatnya ini diperlakukan seenaknya seperti ini. Dia menyuruhku untuk berbicara empat mata dengan pacarku. Sebenarnya aku enggan melakukannya karena aku merasa belum siap menerima hal buruk yang mungkin akan terjadi setelahnya. Aku belum siap kehilangan, tetapi aku juga tidak tahan dengan rasa sakitnya diabaikan.
"udah best, kamu ajak aja dia ketemu. Dimana gitu. Trus ajak ngobrol. Tanyain maunya apa." kata sahabatku.
"tapi best, aku masih belum siap nerima resikonya. Kalo dia ngajak putus gimana?" kataku mencoba menolak sarannya.
"putus yaa putus best. Cari lagi lah. Jangan kayak cewek nggak laku deh. Kamu itu cantik, masa putus sama cowok model gitu aja takut?" jawabnya kesal.
"best, aku takut siklus dicuekin, dikasih alasan absurd berending putus terjadi lagi. Aku udah dua kali best ngalamin kejadian kayak gitu. Awalnya dicuekin berhari-hari sampe berbulan-bulan, trus endingnya putus dan alasannya itu nggak masuk akal banget, alasannya absurd." jelasku.
"udah pokoknya siang ini kamu ajak dia ketemu, dimana aja terserah. Pokoknya jangan di rumah best. Aku temenin kamu deh." katanya dengan nada terpaksa.
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Siang hari, aku mendatangi rumah pacarku bersama sahabatku. Awalnya biasa saja. Sahabatku meninggalkan aku berdua dengan pacarku agak aku bisa melepaskan semua uneg-uneg dan beban hati. Tapi aku bingung harus memulai dari mana. Selama hampir satu jam kami hanya saling diam tanpa bicara. Hanya sekedar basa-basi ringan. Akhirnya aku mecoba memulai menjelaskan semua isi hati yang sudah menyesakkan selama ini.
"yaa udah, kita jalanin dulu aja. Liat aja nanti kedepannya kayak gimana. Kalo jodoh ya kita nikah, kalo enggak ya kita pisah." jawabnya enteng. Itu terasa seperti tamparan yang amat keras untukku.
"jadi kamu udah nggak sayang sama aku? Udah nggak cinta sama aku?" tanyaku. Aku mencoba untuk menahan emosi untuk kesekian kalinya.
"sayang sih masih, tapi udah nggak cinta." jawabnya singkat.
"kenapa?" tanyaku lagi. Aku masih belum bisa terima.
"kamu belum bisa dewasa. Masih kayak anak kecil. Contohnya waktu aku sakit kamu malah nongkrong di cafe kan sama temen kamu? Perhatiin aku kek, yaa walaupun nggak dateng kesini seenggaknya kamu nggak seneng-seneng sendiri pas aku lagi sakit." jawabnya agak ogah menjelaskan.
"hah? kayak gitu enggak dewasa? Aku kan udah bilang sama kamu, tapi kamu nggak ada respon. Yaa aku kira kamu istirahat soalnya kan lagi sakit." aku masih berusaha menstabilkan emosi yang sudah berstatus awas.
"kamu sih kebanyakan kira-kira. Dinalar lah makanya." jawabnya santai. "kita liat aja, kalo kamu udah bisa dewasa, mungkin aku bisa cinta lagi sama kamu. Sekarang jalanin biasa aja."
"kamu mau aku dewasa yang kayak gimana lagi sih?" tanyaku tak paham.
"dewasa itu bukan soal omongan, tapi sikap dan hati. Yah pokoknya aku nggak mau ngekang kamu jadi dewasa yang kayak gimana. Aku nggak mau dibilang nuntut kamu. Aku mau kamu dewasa apa adanya kamu."
Lagi-lagi logika terkalahkan oleh cinta. Cinta membuat aku merasa aku memang salah, aku memang belum bisa dewasa. Padahal jika dilogika, dialah yang belum dewasa, namun pandai membuat alasan yang bisa membuat aku seolah bersalah. Selama beberapa hari aku merenungi kejadian hari itu, aku memutuskan untuk mundur dari hubungan ini. Hubungan yang membuat aku sangat bahagia, dan juga sangat kecewa. Memang tak mudah untuk melogika semua alasan absurd yang telah terlontar, namun sahabat-sahabat terbaik yang ada disekitarku telah membantuku untuk bisa membuka mata dan melogika semuanya.
Untuk ketiga kalinya aku menjadi korban alasan absurd berending putus. Untuk ketiga kalinya pula, "aku yang merasa sebagai tulang rusuk yang ditemukan pemiliknya" berpikir bahwa "Aku masih hanya sebongkah tulang rusuk susu. Tulang rusuk susu yang menanti waktu untuk berubah menjadi tulang rusuk permanen."
*inspired by : Tulang Rusuk Susu ~ Indra Wijaya*
iyee emang.. diputusin dengan alasan absurb itu kagak enak.. pake banget..
BalasHapus-______-"
tapi mau nggak mau harus nerima :)
BalasHapus