Entahlah, aku tidak pernah mengerti mengapa aroma tanah ketika redanya hujan selalu membuatku tenang dan merasa bahagia. Sejenak menghilangkan penat yang menyesakkan dada.
Tetesan air hujan terdengar begitu syahdu.
Di awal musim penghujan ini, bunga-bunga flamboyan mulai bermekaran. Ya, bunga flamboyan yang mekar di awal musim penghujan ini memang menjadi pertanda berakhirnya musim kemarau dan tergantikan oleh musim hujan.
Sayang, indahnya bunga flamboyan yang mekar berbanding terbalik dengan cinta kita yang mulai layu. Layu, dan lama-lama akan mati.
Aku tidak pernah berharap kisah seperti ini terulang untuk kesekian kalinya. Dengan cara yang sama, alasan yang berbeda, dan akhir yg menorehkan luka.
Hingga saat ini, semua yang awalnya mengisi hati ternyata hanya singgah. Layaknya ketika hujan, datang untuk berteduh dan lalu pergi.
Yang awalnya terlihat tak akan pergi nyatanya menjauh dan menghilang seperti di telan bumi.
Ini menyakitkan, begitu menyiksa.
Ini menyakitkan, begitu menyiksa.
Siapa yang akan bertanggung jawab atas semua torehan luka yang menyakitkan ini ? Ketika kamu menjauh, pergi, dan menghilang, apa yang harus aku lakukan ?
Aku terombang-ambing dalam perasaan yang entah kusebut apa. Mengambang dalam ketidakpastian. Dan menanti akan seperti apa akhirnya.
Oh, tolonglah. Kali ini jangan hanya singgah,menetaplah. Aku hanya menuntut untukmu agar tidak pergi. Siapapun kamu yang nantinya menghuni relung hati ini, jangan hanya singgah, tapi menetaplah selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar