Total Tayangan Halaman

Kamis, 26 Juli 2018

I'm Lucky and Blessed

Dalam hidup banyak hal kecil yang luput kita syukuri. Kebanyakan dari kita malah sibuk mengeluh tentang hal besar yang gagal kita dapatkan. Padahal kalo mau noleh kebelakang, merunut apa yang udah pernah kita lalui di waktu yang lalu, pasti banyak hal yang harusnya kita syukuri, namun terlewatkan. Baik dalam hal rejeki, pasangan, ataupun yang lainnya.

Kayak aku sekarang. Bersyukur banget dapet partner hidup kayak dia. Ngga pernah nuntut aku harus gimana, harus jadi apa, harus pake apa dan segala tuntutan yang biasanya dikeluhkan oleh sebagian wanita.

Dia nggak pernah ngatur. Do everything you want, as long as it's positive, I'll stand to support you. Selama aku suka dan itu bermanfaat, dia ngga akan ngelarang. Paling cuma ngingetin kalo aku udah mulai agak melenceng dari jalur.

Dalam menjalin hubungan juga nggak pernah banyak nuntut. Apalagi maksa. Karena kita juga sama-sama tau, dipaksa itu nggak enak. Jadi ya kalo misal nggak suka sama apa yang dilakuin pasangan, kita diskusiin. Ngobrol baik-baik, yang enak. So, we do it all by consest and never demanding each other.
Nggak pernah marah. Eh, bukan ngga pernah sih. Lebih ke jarang marah. Pun marah juga nggak sampe lama kayak yang berhari-hari diem. Ketika ada masalah, pasti sesegera mungkin dikelarin, dicari solusinya. Kalo aku bikin salah, dia negur dengan kasih sayang, tanpa emosi. Aku yang biasanya kalo diingetin batu banget, bisa luluh sama dia. Ego dan gengsi yang seringnya setinggi burj Khalifa, runtuh. :')
Kalo dia bikin salah, dia juga mau ditegur. Dia mau introspeksi, bukan malah balikin omongan yang akhirnya bikin pedebatan.

Sama dia aku jadi less drama. Jarang meribetkan hal sepele. Jarang mempermasalahkan hal kecil yang nggak penting. Dan bener, less drama bikin hidup lebih tenang dan nyaman. Lebih mudah dijalani juga. Nggak perlu makan hati karena insecure berlebihan. My life never felt this good before.

Kita saling melengkapi. Saling mengimbangi. Pas aku marah, atau bete, atau kesel, dia ambil alih mengademkan suasana. Begitupun sebaliknya. Tapi kayaknya sih dia jarang banget marah, bete ataupun kesel gitu. Dia pria tersabar yang pernah aku temui, selain ayahku tentunya. Ehehehe

Dia selalu biasa diajak ngobrol tentang apapun, dan dia adalah pendengar paling baik. Dari obrolan receh sampe ghibah, dia mendengar dengan seksama. Walaupun dia ngga paham aku ngobrol apa, dia selalu berusaha memahami sebisanya. Punya partner hidup yang bisa diajak ngobrol itu penting, karena nanti saat kita udah tua dan nggak bisa apa-apa, kita akan lebih banyak berbicara. Bercerita tentang apapun.

Dia adalah orang pertama yang merubah pandanganku terhadap suatu masalah ataupun kejadian. Positive thinking on everything. Sengeselin apapun kejadian yang menimpa, jadinya merunut dan mencari sumber masalah, trus lihat dari sudut pandang yang berbeda. Mencoba ambil hikmah dan pelajaran biar nggak kejadian lagi kedepannya. He change me to be a wise and person.

Setelah kita melalui perjalanan panjang dan melelahkan, barulah aku yakin bahwa he's the one I was looking for.
This end year, I will be marry him. Doakan ya agar semua berjalan dengan lancar dan less drama. Juga agar kita langgeng sampai usia senja. ❤

Minggu, 31 Desember 2017

Bahagia yang Sederhana

Jaman sekarang, sosial media sudah menjadi tolak ukur kebahagiaan sebagian umat. Padahal, kebanyakan yang terpampang di sosial media sama sekali berbeda dengan realita di dunia nyata. Banyak yang terlihat wah, padahal tunggakan di mana-mana. Kelihatannya aja bahagia harta berlimpah, padahal sebenarnya mumet mikir gimana bayar cicilannya. Mau kelihatan bahagia, malah hati merana. Huhuhu ciyaaan.. :(
Tapi, makin kesini aku makin bersyukur sih. Ternyata jalan mencapai bahagiaku cukup sederhana. Sesederhana berbagi jokes receh sambil ngopi bareng pasangan menikmati hari. Atau sesederhana bangun siang di hari libur. Makin dewasa makin sadar, kadang hidup nggak sesuai ekpektasi. Daripada stress mikirin ekpektasi yang nggak tercapai, mending dijalani apa adanya aja. Syukur-syukur kalo dapet pencapaian diluar ekspektasi.
Dulu, standar bahagiaku tinggi banget. Harus ada achievement di segala segi kehidupan. Punya pacar ganteng nan mapan, bisa beli ini itu pake duit hasil keringat sendiri, bisa bebas ngapain aja and the breee and the breeeuuuww.
Seiring waktu, semua berubah. Pandangan yang dulunya cuma berorientasi pada materi, sekarang nggak lagi. Lebih mikir achievement jangka panjang untuk bekal masa depan. *tsaaaaelaahh
Sekarang, nggak butuh pacar yang ganteng nan mapan. Yang penting enak dipandang, bisa dibawa kondangan, dan mau mengusahakan saat dibutuhkan. Kan percuma ya ganteng, kalo masih suka flirting ke cewek-cewek lain. Apalagi flirting ke dedek-dedek emeesh masa kini. Nggak bikin bangga malah bikin makan hati. Dan juga, percuma mapan kalo nggak punya waktu buat quality time berduaan. Mapan bisa dicari berdua.
Dulu banyak banget pengennya. Ada sepatu lucu pengen dibeli, ada tas model baru pengen cepet-cepet dimiliki. Nggak ada habisnya. Padahal rasanya pas sudah  kebeli ya bangga sebentar aja. Abis itu yasudah. Kalo sekarang, bisa bayar lunas biaya sekolah adik, nggak punya tunggakan utang maupun cicilan, bangganya melebihi apapun. Lega. Bahagia.
Mungkin benar kata orang, makin dewasa bahagia makin sederhana.
Buatlah bahagiamu sesederhana mungkin, nggak perlu punya standar tinggi kalo memang nggak memungkinkan buat dicapai. Jangan menggantungkan bahagiamu sama orang lain. Biar kalo ditinggalin kamu nggak gila karena nggak bisa bahagia tanpa dia. Bahagia itu kamu sendiri yang nyiptain.
Love yourself first. Have a nice Day!

Kamis, 30 Maret 2017

Ke-KOREA-an (part 1)

Gue adalah tipe orang menjunjung tinggi totalitas. Makanya, kalo lagi ngapa-ngapain harus sampai kelar. Tapi kadang juga kalo nggak sreg dari awal ya nggak dikelarin, atau bisa jadi dikelarin tapi lama. Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa gue bakal ngelarin sesuatu kalo menurut gue menarik. Eh itu termasuk totalitas nggak sih? Hehehe

Oke deh, back to the point. Beberapa bulan terakhir ini, gue jadi suka sesuatu yg ke-Korea-an. Padahal dulu gue nggak seberapa suka sama hal-hal yang berbau Korea gini. Inget ya, NGGAK SEBERAPA SUKA, bukan nggak suka. Itu beda.

Berawal dari akhir tahun kemaren, waktu habis migrasi jaringan dari 3G ke 4G. Waktu habis migrasi, dapet bonus Kuota 10GB, juga pas beli paket data dapet juga bonus 10GB lagi. Nah, karena dapet bonus kuota segitu banyak dan cuma berlaku sebulan, bingung dong ngabisinnya gimana. Akhirnya gue download aplikasi streaming film dan serial drama gitu lah. Pada waktu itu gue dowloadnya IFLIX, sejenis HOOQ gitu cuma di IFLIX lebih banyak pilihan drama Asianya.

Setelah gue bimbang memilih diantara banyak film dan serial berseason-season, akhirnya pilihan gue jatuh kepada "CITY HUNTER". Drama Korea tahun 2011 yang pemeran utamanya Lee Min Ho sama Park Min Young. Sungguh pilihan yang anti mainstream padahal banyak film yang lebih mainstream untuk dipilih. *ehgimana?

Kenapa CITY HUNTER? Karena berdasarkan cerita temen gue yang pernah nonton, ini bukan drama cinta-cintaan. Ini drama detektif-detektifan (ya walaupun ada unsur cinta-cintaannya sih dikit) yang pake tembak-tembakan (pake pistol, bukan pake gombalan). Karena ada unsur senjata inilah gue akhirnya nonton. Gue suka dramanya, bahkan sampai ikut baper waktu nonton. Daebak.

Karena drama Korea pertama yang gue tonton sukses bikin gue terkesima, gue akhirnya kepo tentang drama-drama lain yang bergenre serupa (action, berbau detektif). Naaah, ditengah kekepoan gue ini, gue sempet liat di IG stories salah satu temen gue, dia lagi nonton drama Korea judulnya THE K2. Mau nonton lewat IFLIX, eeh aplikasinya lola banget. Nggak jadi nonton deh. Galau deh. :(

Bete, gue nyari hiburan di twitter. Dan dari twitter gue menemukan pencerahan. Ada selebtwit yang nanya ke followersnya, streaming Drakor (drama-Korea) enaknya pake aplikasi apa. Banyak yang jawab pake VIU. Kebetulan, provider gue ngasih bonus streming Video lewat HOOQ sama VIU. Dan Kebetulan lagi, bonusnya belum pernah kepake, jadi akumulasi hingga beberapa GB. Aaah sungguh keberuntungan yang bertubi-tubi.

Abis download VIU, ternyata bener, drakor The K2 lagi trending. Artinya, banyak yang nonton. Nontonlah gue. FYI, pemeran utamanya Ji Chang Wook. He is the one person who got my heart since the first second I saw him. Dari episode pertama, ngelihat aksi-aksi berantemnya, gue ngeces. Apalagi pas dia lagi shirtless, OMG gue ngiler sekolam liat badannya yang six-pack dan ada tattoo nya. OMG OMG OMG. He's so hot. ❤

Setelah itu, gue rela kurang tidur demi ngelarin episode per episode. Fix, gue kecanduan Drakor. Habis gimana, kalo nggak dilanjutin malah bikin penasaran. Jam tidur gue berkurang 3-5 jam, begitu juga jam chat gue sama pacar gue. Jadi, buat para cowok, kalo cewek kalian dulunya nggak suka nonton drakor trus tiba-tiba suka ngilang lama, jangan negatif thinking dulu. Mungkin dia lagi kecanduan drakor, bukannya lagi selingkuh.

Tamat dua judul drakor, gue mutusin buat udahan dulu drakorannya. Gue nggak mau jatuh terlalu dalam di dunia perdrakoran. Tapi, keputusan gue berubah ketika gue ngubek-ngubek file di laptop adek gue dan ternyata nemu ada beberapa file drakor. Fix, gue kecanduan lagi, dan makin parah. Hahaha

Dan, dari yang awalnya gue cuma mau nonton yang genrenya action/detektif doang, gue jadi mau nonton yang genrenya cinta-cintaan, sampe fantasi absurd gitu. Awalnya gue kira genre cinta-cintaan ini terlalu menye-menye dan menyedihkan, eh malah gue yang jadi kebaperan.

Sejauh ini gue udah namatin beberapa judul drakor :
- City Hunter
- The K2
- The Heirs
- Pinocchio
- You're All Surrounded
- Healer
- Goblin

Buat gue, 7 judul udah lumayan banyak. Banyak menyita waktu, banyak menyita kuota buat streaming (ini bikin bangkrut juga sih). Tapi, dibalik itu semua, banyak juga kok pelajaran yang bisa diambil dari drakor-drakor yang gue tonton itu. Walaupun ada yang terlalu dramatis, kadang ada yang masalahnya 11:12 sama masalah di hidup gue. Hidup kita juga kayaknya.

Jadi, gue rasa, nggak ada yang salah kok sama orang yang suka drama Korea. Yang salah itu kalo elo suka drama Korea, jadi kebawa di kehidupan lo. Hidup lo jadi terlalu drama dan show off soal masalah yang lo hadapi. Sok-sokan jadi orang paling sedih dimuka bumi ini, sok-sokan jadi orang paling teraniaya demi dapet perhatian orang sekitar. *uups

Segini dulu aja bahasan gue soal Drama Korea. Bahasan lain soal Ke-Korea-an bakal gue posting di postingan berikutnya. Babaaayy..

Rabu, 29 Maret 2017

Dulu

Kita pernah sedekat nadi, sebelum jadi sejauh matahari.
Kita pernah saling mencari, hingga akhirnya saling bersembunyi.
Kita pernah berbagi tawa dan luka, namun sekarang hanya cerita yang tersisa.
Pada dekap itu aku pernah merasa nyaman, sebelum akhirnya kita memilih untuk tidak saling menemukan.
Memang, hidup penuh misteri dan candaan yang kadang tak sepenuhnya lucu.
Paling tidak aku pernah merasakan tenangnya didekapmu.
Paling tidak kamu pernah menjadi tempat sampah segala keluhanku.
Dengan siapapun kamu, dengan siapapun aku, semoga masing-masing dari kita menemukan bahagia.

Selasa, 28 Februari 2017

Jangan terlalu Benci

Hidup itu nggak selalu bisa berjalan sesuai yg kamu kehendaki. Sedetail apapun planning yg kamu buat, ketika Tuhan nggak mengizinkan untuk terjadi ya nggak akan terjadi. Sebaliknya, walaupun kamu nggak bikin planning apapun, kalo Tuhan maunya ada sesuatu terjadi di hidupmu ya pasti bakal kejadian.

Kadang kita nggak bisa memilih apa yg kita mau untuk dijalanin. Beberapa hal ada yg kita jalani karena terpaksa, karena udah itu jalannya. Percaya aja, semua akan indah pada waktunya. Tuhan juga nggak akan menguji diluar batas kemampuan umatnya.

Oke, stop dulu sok alim bawa-bawa Tuhan. Marilah kita berbicara tentang problematika yg sering mampir di hidup kita. Saatnya sejenak merenung dan merabai hal-hal yg terkadang bikin hidup jadi berat.

Banyak hal yg bikin hidup berjalan melenceng dari rencana. Hidup nggak melulu tentang hal yg kita cintai, kadang juga tentang belajar berdamai dengan hal yg kita benci.

Hidup itu berputar kayak roda. Jadi, jangan terlalu cinta sama sesuatu, nanti sekalinya kecewa, bisa jadi benci seketika. Jangan juga terlalu benci sama sesuatu, bisa jadi hal yg dibenci jadi hal paling dirindu.

Dulu, pas aku mulai capek dan dilanda stress kebanyakan kerja, aku jadi bosen dirumah. Bawaannya kalo udah waktunya pulang, males aja. Benci sama rumah, pengen pindah dari rumah itu. Akhirnya terkabul, beberapa bulan kemudian aku pindah rumah. Tapi ternyata, setelah pindah jadi kangen sama rumah lama. Kangen berbagi kamar sama adik, kangen sama the anak tetangga yg biasanya main kerumah, kangen nonton TV bareng sekeluarga. Banyak hal yg bikin benci ternyata jadi kenangan indah tanpa disadari.

Dulu, awal masuk kerja dapet boss yg galak, tegas, suka marah-marah, tapi sebenernya orangnya baik. Awalnya ikut kesel kalo denger beliau marah. Kalo misal bikin salah ke beliau, harus siap dengerin dia ngomel dari pagi sampe sore. Tiga tahun lebih kerja bareng, selama itu pula aku nyoba berdamai sama keadaan. Jadi, akhirnya terbiasa denger beliau ngomel pas lagi marah. Tapi, berdamai sama keadaan bukan berarti selalu enjoy. Ada juga saat-saat aku merasa terganggu sama omelannya, sampe benci banget pengen pindah dari tempat itu. Biar nggak dengerin omelannya beliau lagi, biar nggak dimarah-marahin lagi. Daaaan, lagi-lagi terkabul. Aku pindah tempat kerja, nggak sama beliau lagi.
Tapi ternyata (lagi), sedikit banyak aku rindu tempat kerja lama. Rindu denger omelannya boss yg dari pagi sampe sore, rindu tegurannya yg langsung tepat sasaran dan ngena pas aku emang lagi bikin salah. Rindu wejangannya yg dulu cuma "o aja yakan" tapi memang bermanfaat buat aku.

Dua cerita diatas cuma sekedar contoh pengalaman pribadi sih. Pengalaman yg mengajarkan agar tidak terlalu membenci apa yg sedang terjadi maupun apa yg sedang dijalani. Mari, belajar berdamai dengan keadaan. Mari belajar menerima bahwa hidup nggak semulus wajahnya oppa oppa di Drama Korea.

Xoxo,

R. Anggraini 😊

Sabtu, 15 Agustus 2015

Tiga Dara Punya Cerita : Jodoh Kadang tak Terduga

Akhirnya long-weekend juga. Setelah lama berkutat dengan pekerjaan yang memusingkan, ada juga kesempatan untuk mendapatkan libur lumayan panjang. Kebetulan sekali, tanggal merah di kalender bulan ini jatuh pada hari Jumat. Resyana dan Sarah yang terikat tuntutan 5 hari kerja kini bisa bernafas lega. Mereka yang memang telah berencana menghabiskan long-weekend bertiga mulai bersiap packing beberapa keperluan yang dibutuhkan selama tiga hari kedepan.

Rencananya, Jumat pagi sekitar pukul tujuh Thalita, Resyana dan Sarah akan berangkat menuju Villa keluarga milik Sarah seperti biasanya.

"Syaa.. Buruan. Gue udah karatan nih nunggu di mobil. Astagaaaa.." teriak Thalita di telepon.

"Ah elah, iya. Ini juga gue udah mau keluar pintu kali. Sabar dikit dong. Tunggu situ aja, dua menit lagi gue sampe mobil." jawab Resyana sekenanya.

Ia bergegas mengunci pintu. Semua penghuni rumahnya masih dibuai mimpi indah kala itu. Untung saja malam sebelumnya Resyana sudah berpamitan terlebih dahulu, sehingga pagi ini ia tidak perlu lagi membangunkan orang rumah untuk sekedar berpamitan. Iapun bergegas menuju mobil sedan hitam yang sedari tadi klaksonnya berbunyi tanpa henti.

"yaakk. Lo hebat. Tepat dua menit." kata Thalita seraya melirik jam tangan baby-G yang tersemat di tangan kirinya.

"yaiaylah. Gimana enggak. Orang lo kan paling bisa bikin orang keburu-buru." jawab Resyana dengan nafas yang masih terengah-engah.

"Oke, kita cusss jemput Sarah nih ya? Estimasi gue sih kita berangkat jam tujuh tepat dari Rumah Sarah." kata Thalita yang lagi-lagi melirik jam tangannya. Resyana hanya mengangguk mengiyakan.

Sekitar kurang lebih sepuluh menit, mobil sedan hitam tersebut berhenti didepan sebuah rumah mewah bergaya modern. Lengkap dengan dua pilar besar nan kokoh yang menyangga sisi kanan-dan kirinya. Thalita membunyikan klakson pertanda ia sudah sampai di depan pintu rumah Sarah. Hanya berselang sekian detik, pintu terbuka dan Sarah sudah muncul dari baliknya. Sarah pun bergegas masuk ke jok belakang mobil, lengkap dengan barang bawaannya.

"Kan. Gue bilang juga apa. Bener kan estimasi waktu gue." kata Thalita kepada Resyana. Sementara matanya tetap fokus pada jalan depannya.

Resyana hanya diam dan tersenyum meremehkan. Tapi memang, diantara mereka bertiga, Thalita lah yang perhitungannya hampir selalu akurat. Entah itu estimasi waktu, estimasi keuangan, bahkan estimasi kesuksesan sebuah hubungan.

Di perjalanan, lagu-lagu cinta dari Maroon5 mengalun dengan indah. Suara seorang Adam Levine mampu memberikan efek bahagia dari pendengarnya.

Dipersimpangan jalan, ada pilihan jalan yang akan mereka lewati. Lewat jalan tol atau lewat jalan pegunungan. Biasanya, mereka bertiga selalu memilih untuk melewati jalan tol dengan alasan tidak terlalu banyak halangan di jalan. Namun kali ini, Resyana meminta Thalita untuk merubah arah yang biasanya. Resyana meminta agar mereka melewati jalan pegunungan yang naik-turun dan berkelok.

"Ngapain sih lewat jalan gunung, Syaa. Kan lebih enak lewat jalan tol. Nggak kebanyakan belok." protes Sarah.

"yaa nggak papa. Sekali-sekali. Lo nggak bosen apa lewat jalan tol melulu? Lurus-lurus aja nggak ada challenge-nya." jawab Resyana sekenanya.

"Yaelah, Syaa. Kalo ada jalan yang enak kenapa lo harus nyari jalan yang nggak enak sih?" Sarah tetap kekeuh memprotes.

"yaudah sih, Raaa.. Lo nggak usah kebanyakan protes dulu. Coba nikmatin jalannya aja. Kalo emang menurut lo nanti enakan lewat jalan tol, besok kita pulangnya lewat jalan tol." sahut Thalita.

Sarah hanya merengut kesal. Ia tidak biasa melewati jalan pegunungan yang naik-turun dan berkelok. Semakin jauh perjalanan, Sarah mulai berceloteh seperti anak kecil yang menemukan hal baru. Saat melihat hamparan hijau sawah terasering ia berkata "wiiih keren.." Beberapa puluh meter kemudian ia melihat hamparan tanaman bunga warna-warni. Ia takjub dan seketika menyuruh Thalita untuk berhenti.

"Taaaa, berhenti doong. Kiri.. Kiri." kata Sarah dengan nada sedikit keras dan mengagetkan.
Seketika itu Thalita menginjak rem. Mereka bertiga kaget ketika mobil berhenti tiba-tiba.

"Duuh lo apaan sih, Raa.. Gila lo, untung aja ini jalan lumayan rata. Coba kalo lo minta berhenti di tanjakan, pas tikungan pula. Bisa pulang tinggal nama kita." kata Thalita mengomel.

"hehehehe.. iyaa iyaa, sorry. Gue mau turun." kata Sarah seraya menyambar set kamera di sebelahnya."Syaa, lo turun dong. Fotoin gue."

Resyana hanya menghela nafas panjang dan kemudian turun dari mobil. Terjadilah sesi Photoshoot dadakan. Untung saja jalanan pagi itu masih lumayan sepi, hanya ada beberapa petani bunga dan sayur yang lewat membawa keranjang besar dari anyaman bambu.

Sekitar sepuluh menit sesi Photoshoot dadakan itu dilakukan, Thalita ikut turun dari mobil. Ia terlalu bosan menunggu sendirian. Setelah dirasa puas mengambil gambar, mereka mengakhiri sesi tersebut dengan foto selfie bertiga. Kemudian mereka kembali ke dalam mobil. Kini mereka bertiga bertukar posisi. Resyana duduk dibelakang kemudi, Thalita duduk di jok belakang, dan Sarah duduk di samping Resyana.

"Gue matiin aja ya AC-nya, lo buka aja kacanya. Biar kita dapet udara segar. Jarang-jarang kan kita dapet udara bersih bebas polusi kayak sekarang ini." kata Resyana.

"Ternyata asik juga ya lewat jalan gunung kayak gini. Udah udaranya seger, pemandangannya indah lagi." kata Sarah.

"iyeee. Makanya jangan suka protes dulu sebelum tau." sahut Thalita. Resyana hanya tersenyum dan berkonsentrasi pada jalan di depan.

Tangan Resyana meraba tombol radio, seperti biasa ia mencari saluran radio dimana biasanya menyiarkan informasi terkait lalu lintas. Kebetulan, radio tersebut sedang menyiarkan info terkait jalan tol yang biasa mereka lewati ketika akan menuju Villa. Ternyata, kondisinya macet parah. Panjang kemacetan sudah hampir 2 kilometer dan mobil hanya bisa bergerak perlahan. Diduga karena adanya long-weekend membuat volume kendaraan di jalan lebih banyak daripada biasanya.

"tuh, dengerin. Coba tadi kita lewat tol, pasti kita ikut jadi korban macet parah." kata Resyana. Sarah hanya nyengir kuda.

Sekitar pukul sembilan pagi, mereka sampai di villa. Dibantu penjaga villa, mereka menurunkan barang bawaan dan membawanya masuk. Setelah itu, mereka berguling-guling manja diatas tempat tidur di lantai dua. Mungkin karena mereka lelah dan hawa sekitar villa yang mendukung untuk memejamkan mata, mereka bertigapun tertidur pulas hingga sore harinya.

Resyana paling dulu terbangun karena suara handphone-nya. Telepon masuk dari bundanya, menanyakan posisinya sedang ada dimana. Memang, sekarang bundanya sedang sedikit posesif terhadapan dirinya. Semenjak dirinya dilarang terlalu dekat dengan Ardian, pacar yang sudah sekitar enam bulan dipacarinya. Bundanya tidak terlalu menyukai Ardian yang penampilannya agak Badboy.

"are you okay, best?" tanya Thalita yang bisa menangkap keresahan di wajah Resyana.

"yep. I'm okay." jawab Resyana datar. "oh no. I'm not okay at all." katanya seraya memeluk Thalita.

Sarah yang baru membuka mata ikut berpelukan. Sebelum benar-benar membuka mata, Sarah sudah sayup-sayup mendengar suara dua sahabatnya yang sudah lebih dulu terbangun.

"Sini, cerita sama kita." kata Sarah.

"yaaa, gitu lah. Bunda kelihatannya nggak setuju kalo gue sama Ardian. Padahal, gue udah yang yakin banget sama Ardian. Lo berdua kan tau, gue nggak pernah seyakin ini sama cowok." kata Resyana. Nada bicaranya sedikit berubah.Agaknya, ada titik sensitifnya yang sedang rapuh.

"Iyaa sih, gue ngerti. Sebelum gue beneran kenal dan ngobrol sama si Ardian, gue juga agak nggak setuju kalo lo sama dia. Tapi setelah gue ketemu langsung, dan ngobrol, gue rasa dia cocok kok sama lo." kata Thalita seraya menguncir rambutnya keatas.

"Hmm.. Gue setuju sama Thalita." sahut Sarah. "tapi kalo gue boleh tanya nih, lo kan banyak sih yang deketin, Syaa? Yang lebih segalanya dari si Adrian. Dan mama lo juga lebih welcome sama mereka. Oh iya, perasaan gue juga, lo kan dulu PDKTnya sama si Dhika, kenapa jadi pacarannya sama Ardian?"

"Mungkin ini yang disebut jodoh itu kadang tak terduga. Yang kelamaan PDKT kalah sama yang berani ngungkapin perasaan tanpa berbelit-belit." jawab Resyana. Ia menghela nafas panjang. Berbaring diatas bantal yang empuk.

"yaaa tapi kan, Syaa.. Si Dhika udah jelas-jelas bunda lo suka. Kalo lo sama si Dhika, udah pasti kan bunda lo setuju. Dan hubungan kalian juga bakal lebih mudah dijalanin." kata Sarah dengan nada memprotes.

"Raaa. Lo inget kan tadi pagi kita lewat mana. Lo yang paling kekeuh ngajak lewat jalan tol kan, dengan alasan jalannya lebih enak, nggak banyak gangguannya. Tapi, lo juga denger sendiri kan di radio kalo jalan tol macet parah? Nah, untuk kita lewat jalan pegunungan. Yaa emang sih jalanannya naik-turun belok-nikung gitu. Tapi indahkan? Dan lo seneng juga kan lewat jalan yang lo pikir nggak enak tadi? Waktunya juga lebih cepet dari biasanya." jawab Resyana. "sama kayak hubungan yang gue jalanin sekarang. Kalo misal gue sama Dhika, mungkin hubungan gue bakal terlihat lancar kayak jalan tol tadi. Tapi, gue nggak bahagia, Syaa."

"and then?" tanya Sarah penasaran dengan kelanjutan jawaban Resyana.

"yaa, kalo gue sama Ardian, yaa kayak jalan pegunugan tadi. Lebih challeging. Banyak rintangannya. Tapi indah. Gue bisa bahagia sama Ardian, Syaaa." kata Resyana. Airmatanya terlihat sudah berkumpul disudut matanya. Bersiap untuk tumpah. "maksud gue gini loh, Raaa.. Kalo jalannya lurus-lurus aja, apa yang bakal diperjuangin? Nggak bakal ada greget perjuangannya sama sekali. Sebenernya kalo gue mau, gue bisa aja main aman. Tapi gue mikir lagi, kalo gue main aman terus, kapan gue berani ambil resiko yang lebih 'worth it' hasil akhirnya? Ya gue tau sih semua pasti ada resikonya."

Sarah tidak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan Resyana. Sedikit butuh waktu untuknya mencerna apa maksud dari kata-kata Resyana.

"tau ah.. Gue bingung, gue pusing, gue bete, gue buntu." kata Resyana merengek.

"Kalo lo emang sayang dan udah yakin banget sama Ardian, lo bertahan sama dia ya, Syaa. Perjuangin dia, semampu lo. Tapi jangan mau kalo cuma lo aja yang berjuang, Ardian juga suruh berjuang ngeluluhin hatinya bunda gimanapun caranya." kalimat bijak Thalita pun meluncur dengan indah. "apapun asal itu baik buat lo kedepannya, gue pasti bakal dukung lo kok. Kita berdua bakal selalu ada disamping lo."

"Iyaa, bener, Syaaa." sahut Sarah dengan semangat empatlima.

Resyana menarik selimut dan membenamkan wajahnya di bantal. Ia tidak bisa lagi menahan badai air mata yang sedari tadi ingin tumpah. "kok gue gini banget sih?" gumamnya pelan.

Sarah dan Thalita saling beradu pandangan. Mereka bingung harus berbuat apa. Resyana adalah yang paling tegar dan jarang menangis diantara mereka bertiga. Mereka jarang sekali melihat Resyana menangis, yang paling sering malah mereka menangis dan ditenangkan oleh Resyana.

Sejurus kemudian, Thalita beranjak mengambil sesuatu dalam tasnya dan bergegas ke kamar mandi. Sarah tetap berada diatas tempat tidur sambil mengelus kepala Resyana pelan. Tak lama, Thalita keluar dari kamar mandi dan mencoba berbicara kepada Resyana.

"Syaaa.. Udah ya, jangan nangis terus. Gue tau ini berat buat lo, tapi kan kita kesini niatnya buat seneng-seneng sih, kok lo malah nangis gini?" tanya Thalita lembut.

Resyana perlahan membuka selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tak terkecuali wajahnya. Wajahnya sudah memerah, matanya juga terlihat sembab.

"lo mandi gih, berendam di bath-ub. Thalita udah siapin air anget buat lo berendam, plus lilin aroma therapy favorit lo." kata Sarah membujuk.

"yep. okay. Thank you so much, guys!" jawab Resyana seraya memeluk kedua sahabatnya. Kemudian ia menuju kamar mandi untuk sedikit relaksasi.

Dan setelah itu, mereka menghabiskan waktu untuk berbagi cerita ringan disebuah kedai teh dengan konsep rooftop langganan mereka. Sedikit melupakan tentang keluh-kesah, juga masalah hingga mereka lupa tentang hal buruk yang baru saja berlalu.

Jumat, 07 Agustus 2015

Doaku untuk "Kita"

Aku bukan ahli ibadah, hanya seorang pendosa.
Tapi tetap boleh kan aku berdoa untuk "kita"?
Meminta pada-Nya untuk mempersatukan kita pada mahrab-Nya.
Doaku tak banyak, hanya ingin bersama denganmu dengan sah.
Bercanda dan berbagi cerita, saling bercengkrama tanpa takut dosa.

Ya, aku memang bukan malaikat tanpa dosa.
Hanya seorang anak manusia yg sering berbuat salah.
Tapi, tak salah kan apabila aku selalu berdoa agar bisa jadi lebih baik saat nanti "kita" bersama?

Dalam sujudku aku tiada henti meminta agar Allah mempersatukan kita, bagaimanapun nanti kondisinya.
Memang terdengar sedikit memaksa, maka dari itu aku sedikit merubah doaku untuk "kita".

Yaa Allah.. Jika Engkau berkehendak aku bertakdir dengannya, maka persatukan kami dengan caraMu yg indah dan selalu sempurna.
Yaa Allah.. Apabila memang tak menghendaki aku bersamanya, maka pisahkan kami dengan caraMu yg indah pula.

Memang benar, doa tanpa usaha akan menjadi sia-sia. Pun sebaliknya.
Lalu bagaimana jika kita melakukannya bersama saja?

Aku dan kamu sama-sama berdoa dan berusaha untuk "kita".
Percayalah, niat baik akan selalu menemukan jalannya.
Akan ada hal indah menunggu didepan mata saat kita berhasil melewati semuanya.
Karena setiap hasil tak akan pernah menghianati prosesnya.

Pun jika nanti memang kita tidak digariskan untuk bersama, percayalah Allah sudah mempersiapkan yg lebih indah dari yg kita duga.
Tetaplah berusaha dan bertahan dalam "kita" hingga saatnya kita digariskan bersama atau berpisah.

Terimakasih telak memberiku cinta, aku mencintaimu juga. ♥