Total Tayangan Halaman

Minggu, 31 Desember 2017

Bahagia yang Sederhana

Jaman sekarang, sosial media sudah menjadi tolak ukur kebahagiaan sebagian umat. Padahal, kebanyakan yang terpampang di sosial media sama sekali berbeda dengan realita di dunia nyata. Banyak yang terlihat wah, padahal tunggakan di mana-mana. Kelihatannya aja bahagia harta berlimpah, padahal sebenarnya mumet mikir gimana bayar cicilannya. Mau kelihatan bahagia, malah hati merana. Huhuhu ciyaaan.. :(
Tapi, makin kesini aku makin bersyukur sih. Ternyata jalan mencapai bahagiaku cukup sederhana. Sesederhana berbagi jokes receh sambil ngopi bareng pasangan menikmati hari. Atau sesederhana bangun siang di hari libur. Makin dewasa makin sadar, kadang hidup nggak sesuai ekpektasi. Daripada stress mikirin ekpektasi yang nggak tercapai, mending dijalani apa adanya aja. Syukur-syukur kalo dapet pencapaian diluar ekspektasi.
Dulu, standar bahagiaku tinggi banget. Harus ada achievement di segala segi kehidupan. Punya pacar ganteng nan mapan, bisa beli ini itu pake duit hasil keringat sendiri, bisa bebas ngapain aja and the breee and the breeeuuuww.
Seiring waktu, semua berubah. Pandangan yang dulunya cuma berorientasi pada materi, sekarang nggak lagi. Lebih mikir achievement jangka panjang untuk bekal masa depan. *tsaaaaelaahh
Sekarang, nggak butuh pacar yang ganteng nan mapan. Yang penting enak dipandang, bisa dibawa kondangan, dan mau mengusahakan saat dibutuhkan. Kan percuma ya ganteng, kalo masih suka flirting ke cewek-cewek lain. Apalagi flirting ke dedek-dedek emeesh masa kini. Nggak bikin bangga malah bikin makan hati. Dan juga, percuma mapan kalo nggak punya waktu buat quality time berduaan. Mapan bisa dicari berdua.
Dulu banyak banget pengennya. Ada sepatu lucu pengen dibeli, ada tas model baru pengen cepet-cepet dimiliki. Nggak ada habisnya. Padahal rasanya pas sudah  kebeli ya bangga sebentar aja. Abis itu yasudah. Kalo sekarang, bisa bayar lunas biaya sekolah adik, nggak punya tunggakan utang maupun cicilan, bangganya melebihi apapun. Lega. Bahagia.
Mungkin benar kata orang, makin dewasa bahagia makin sederhana.
Buatlah bahagiamu sesederhana mungkin, nggak perlu punya standar tinggi kalo memang nggak memungkinkan buat dicapai. Jangan menggantungkan bahagiamu sama orang lain. Biar kalo ditinggalin kamu nggak gila karena nggak bisa bahagia tanpa dia. Bahagia itu kamu sendiri yang nyiptain.
Love yourself first. Have a nice Day!

Kamis, 30 Maret 2017

Ke-KOREA-an (part 1)

Gue adalah tipe orang menjunjung tinggi totalitas. Makanya, kalo lagi ngapa-ngapain harus sampai kelar. Tapi kadang juga kalo nggak sreg dari awal ya nggak dikelarin, atau bisa jadi dikelarin tapi lama. Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa gue bakal ngelarin sesuatu kalo menurut gue menarik. Eh itu termasuk totalitas nggak sih? Hehehe

Oke deh, back to the point. Beberapa bulan terakhir ini, gue jadi suka sesuatu yg ke-Korea-an. Padahal dulu gue nggak seberapa suka sama hal-hal yang berbau Korea gini. Inget ya, NGGAK SEBERAPA SUKA, bukan nggak suka. Itu beda.

Berawal dari akhir tahun kemaren, waktu habis migrasi jaringan dari 3G ke 4G. Waktu habis migrasi, dapet bonus Kuota 10GB, juga pas beli paket data dapet juga bonus 10GB lagi. Nah, karena dapet bonus kuota segitu banyak dan cuma berlaku sebulan, bingung dong ngabisinnya gimana. Akhirnya gue download aplikasi streaming film dan serial drama gitu lah. Pada waktu itu gue dowloadnya IFLIX, sejenis HOOQ gitu cuma di IFLIX lebih banyak pilihan drama Asianya.

Setelah gue bimbang memilih diantara banyak film dan serial berseason-season, akhirnya pilihan gue jatuh kepada "CITY HUNTER". Drama Korea tahun 2011 yang pemeran utamanya Lee Min Ho sama Park Min Young. Sungguh pilihan yang anti mainstream padahal banyak film yang lebih mainstream untuk dipilih. *ehgimana?

Kenapa CITY HUNTER? Karena berdasarkan cerita temen gue yang pernah nonton, ini bukan drama cinta-cintaan. Ini drama detektif-detektifan (ya walaupun ada unsur cinta-cintaannya sih dikit) yang pake tembak-tembakan (pake pistol, bukan pake gombalan). Karena ada unsur senjata inilah gue akhirnya nonton. Gue suka dramanya, bahkan sampai ikut baper waktu nonton. Daebak.

Karena drama Korea pertama yang gue tonton sukses bikin gue terkesima, gue akhirnya kepo tentang drama-drama lain yang bergenre serupa (action, berbau detektif). Naaah, ditengah kekepoan gue ini, gue sempet liat di IG stories salah satu temen gue, dia lagi nonton drama Korea judulnya THE K2. Mau nonton lewat IFLIX, eeh aplikasinya lola banget. Nggak jadi nonton deh. Galau deh. :(

Bete, gue nyari hiburan di twitter. Dan dari twitter gue menemukan pencerahan. Ada selebtwit yang nanya ke followersnya, streaming Drakor (drama-Korea) enaknya pake aplikasi apa. Banyak yang jawab pake VIU. Kebetulan, provider gue ngasih bonus streming Video lewat HOOQ sama VIU. Dan Kebetulan lagi, bonusnya belum pernah kepake, jadi akumulasi hingga beberapa GB. Aaah sungguh keberuntungan yang bertubi-tubi.

Abis download VIU, ternyata bener, drakor The K2 lagi trending. Artinya, banyak yang nonton. Nontonlah gue. FYI, pemeran utamanya Ji Chang Wook. He is the one person who got my heart since the first second I saw him. Dari episode pertama, ngelihat aksi-aksi berantemnya, gue ngeces. Apalagi pas dia lagi shirtless, OMG gue ngiler sekolam liat badannya yang six-pack dan ada tattoo nya. OMG OMG OMG. He's so hot. ❤

Setelah itu, gue rela kurang tidur demi ngelarin episode per episode. Fix, gue kecanduan Drakor. Habis gimana, kalo nggak dilanjutin malah bikin penasaran. Jam tidur gue berkurang 3-5 jam, begitu juga jam chat gue sama pacar gue. Jadi, buat para cowok, kalo cewek kalian dulunya nggak suka nonton drakor trus tiba-tiba suka ngilang lama, jangan negatif thinking dulu. Mungkin dia lagi kecanduan drakor, bukannya lagi selingkuh.

Tamat dua judul drakor, gue mutusin buat udahan dulu drakorannya. Gue nggak mau jatuh terlalu dalam di dunia perdrakoran. Tapi, keputusan gue berubah ketika gue ngubek-ngubek file di laptop adek gue dan ternyata nemu ada beberapa file drakor. Fix, gue kecanduan lagi, dan makin parah. Hahaha

Dan, dari yang awalnya gue cuma mau nonton yang genrenya action/detektif doang, gue jadi mau nonton yang genrenya cinta-cintaan, sampe fantasi absurd gitu. Awalnya gue kira genre cinta-cintaan ini terlalu menye-menye dan menyedihkan, eh malah gue yang jadi kebaperan.

Sejauh ini gue udah namatin beberapa judul drakor :
- City Hunter
- The K2
- The Heirs
- Pinocchio
- You're All Surrounded
- Healer
- Goblin

Buat gue, 7 judul udah lumayan banyak. Banyak menyita waktu, banyak menyita kuota buat streaming (ini bikin bangkrut juga sih). Tapi, dibalik itu semua, banyak juga kok pelajaran yang bisa diambil dari drakor-drakor yang gue tonton itu. Walaupun ada yang terlalu dramatis, kadang ada yang masalahnya 11:12 sama masalah di hidup gue. Hidup kita juga kayaknya.

Jadi, gue rasa, nggak ada yang salah kok sama orang yang suka drama Korea. Yang salah itu kalo elo suka drama Korea, jadi kebawa di kehidupan lo. Hidup lo jadi terlalu drama dan show off soal masalah yang lo hadapi. Sok-sokan jadi orang paling sedih dimuka bumi ini, sok-sokan jadi orang paling teraniaya demi dapet perhatian orang sekitar. *uups

Segini dulu aja bahasan gue soal Drama Korea. Bahasan lain soal Ke-Korea-an bakal gue posting di postingan berikutnya. Babaaayy..

Rabu, 29 Maret 2017

Dulu

Kita pernah sedekat nadi, sebelum jadi sejauh matahari.
Kita pernah saling mencari, hingga akhirnya saling bersembunyi.
Kita pernah berbagi tawa dan luka, namun sekarang hanya cerita yang tersisa.
Pada dekap itu aku pernah merasa nyaman, sebelum akhirnya kita memilih untuk tidak saling menemukan.
Memang, hidup penuh misteri dan candaan yang kadang tak sepenuhnya lucu.
Paling tidak aku pernah merasakan tenangnya didekapmu.
Paling tidak kamu pernah menjadi tempat sampah segala keluhanku.
Dengan siapapun kamu, dengan siapapun aku, semoga masing-masing dari kita menemukan bahagia.

Selasa, 28 Februari 2017

Jangan terlalu Benci

Hidup itu nggak selalu bisa berjalan sesuai yg kamu kehendaki. Sedetail apapun planning yg kamu buat, ketika Tuhan nggak mengizinkan untuk terjadi ya nggak akan terjadi. Sebaliknya, walaupun kamu nggak bikin planning apapun, kalo Tuhan maunya ada sesuatu terjadi di hidupmu ya pasti bakal kejadian.

Kadang kita nggak bisa memilih apa yg kita mau untuk dijalanin. Beberapa hal ada yg kita jalani karena terpaksa, karena udah itu jalannya. Percaya aja, semua akan indah pada waktunya. Tuhan juga nggak akan menguji diluar batas kemampuan umatnya.

Oke, stop dulu sok alim bawa-bawa Tuhan. Marilah kita berbicara tentang problematika yg sering mampir di hidup kita. Saatnya sejenak merenung dan merabai hal-hal yg terkadang bikin hidup jadi berat.

Banyak hal yg bikin hidup berjalan melenceng dari rencana. Hidup nggak melulu tentang hal yg kita cintai, kadang juga tentang belajar berdamai dengan hal yg kita benci.

Hidup itu berputar kayak roda. Jadi, jangan terlalu cinta sama sesuatu, nanti sekalinya kecewa, bisa jadi benci seketika. Jangan juga terlalu benci sama sesuatu, bisa jadi hal yg dibenci jadi hal paling dirindu.

Dulu, pas aku mulai capek dan dilanda stress kebanyakan kerja, aku jadi bosen dirumah. Bawaannya kalo udah waktunya pulang, males aja. Benci sama rumah, pengen pindah dari rumah itu. Akhirnya terkabul, beberapa bulan kemudian aku pindah rumah. Tapi ternyata, setelah pindah jadi kangen sama rumah lama. Kangen berbagi kamar sama adik, kangen sama the anak tetangga yg biasanya main kerumah, kangen nonton TV bareng sekeluarga. Banyak hal yg bikin benci ternyata jadi kenangan indah tanpa disadari.

Dulu, awal masuk kerja dapet boss yg galak, tegas, suka marah-marah, tapi sebenernya orangnya baik. Awalnya ikut kesel kalo denger beliau marah. Kalo misal bikin salah ke beliau, harus siap dengerin dia ngomel dari pagi sampe sore. Tiga tahun lebih kerja bareng, selama itu pula aku nyoba berdamai sama keadaan. Jadi, akhirnya terbiasa denger beliau ngomel pas lagi marah. Tapi, berdamai sama keadaan bukan berarti selalu enjoy. Ada juga saat-saat aku merasa terganggu sama omelannya, sampe benci banget pengen pindah dari tempat itu. Biar nggak dengerin omelannya beliau lagi, biar nggak dimarah-marahin lagi. Daaaan, lagi-lagi terkabul. Aku pindah tempat kerja, nggak sama beliau lagi.
Tapi ternyata (lagi), sedikit banyak aku rindu tempat kerja lama. Rindu denger omelannya boss yg dari pagi sampe sore, rindu tegurannya yg langsung tepat sasaran dan ngena pas aku emang lagi bikin salah. Rindu wejangannya yg dulu cuma "o aja yakan" tapi memang bermanfaat buat aku.

Dua cerita diatas cuma sekedar contoh pengalaman pribadi sih. Pengalaman yg mengajarkan agar tidak terlalu membenci apa yg sedang terjadi maupun apa yg sedang dijalani. Mari, belajar berdamai dengan keadaan. Mari belajar menerima bahwa hidup nggak semulus wajahnya oppa oppa di Drama Korea.

Xoxo,

R. Anggraini 😊