Akhirnya long-weekend juga. Setelah lama berkutat dengan pekerjaan yang memusingkan, ada juga kesempatan untuk mendapatkan libur lumayan panjang. Kebetulan sekali, tanggal merah di kalender bulan ini jatuh pada hari Jumat. Resyana dan Sarah yang terikat tuntutan 5 hari kerja kini bisa bernafas lega. Mereka yang memang telah berencana menghabiskan long-weekend bertiga mulai bersiap packing beberapa keperluan yang dibutuhkan selama tiga hari kedepan.
Rencananya, Jumat pagi sekitar pukul tujuh Thalita, Resyana dan Sarah akan berangkat menuju Villa keluarga milik Sarah seperti biasanya.
"Syaa.. Buruan. Gue udah karatan nih nunggu di mobil. Astagaaaa.." teriak Thalita di telepon.
"Ah elah, iya. Ini juga gue udah mau keluar pintu kali. Sabar dikit dong. Tunggu situ aja, dua menit lagi gue sampe mobil." jawab Resyana sekenanya.
Ia bergegas mengunci pintu. Semua penghuni rumahnya masih dibuai mimpi indah kala itu. Untung saja malam sebelumnya Resyana sudah berpamitan terlebih dahulu, sehingga pagi ini ia tidak perlu lagi membangunkan orang rumah untuk sekedar berpamitan. Iapun bergegas menuju mobil sedan hitam yang sedari tadi klaksonnya berbunyi tanpa henti.
"yaakk. Lo hebat. Tepat dua menit." kata Thalita seraya melirik jam tangan baby-G yang tersemat di tangan kirinya.
"yaiaylah. Gimana enggak. Orang lo kan paling bisa bikin orang keburu-buru." jawab Resyana dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Oke, kita cusss jemput Sarah nih ya? Estimasi gue sih kita berangkat jam tujuh tepat dari Rumah Sarah." kata Thalita yang lagi-lagi melirik jam tangannya. Resyana hanya mengangguk mengiyakan.
Sekitar kurang lebih sepuluh menit, mobil sedan hitam tersebut berhenti didepan sebuah rumah mewah bergaya modern. Lengkap dengan dua pilar besar nan kokoh yang menyangga sisi kanan-dan kirinya. Thalita membunyikan klakson pertanda ia sudah sampai di depan pintu rumah Sarah. Hanya berselang sekian detik, pintu terbuka dan Sarah sudah muncul dari baliknya. Sarah pun bergegas masuk ke jok belakang mobil, lengkap dengan barang bawaannya.
"Kan. Gue bilang juga apa. Bener kan estimasi waktu gue." kata Thalita kepada Resyana. Sementara matanya tetap fokus pada jalan depannya.
Resyana hanya diam dan tersenyum meremehkan. Tapi memang, diantara mereka bertiga, Thalita lah yang perhitungannya hampir selalu akurat. Entah itu estimasi waktu, estimasi keuangan, bahkan estimasi kesuksesan sebuah hubungan.
Di perjalanan, lagu-lagu cinta dari Maroon5 mengalun dengan indah. Suara seorang Adam Levine mampu memberikan efek bahagia dari pendengarnya.
Dipersimpangan jalan, ada pilihan jalan yang akan mereka lewati. Lewat jalan tol atau lewat jalan pegunungan. Biasanya, mereka bertiga selalu memilih untuk melewati jalan tol dengan alasan tidak terlalu banyak halangan di jalan. Namun kali ini, Resyana meminta Thalita untuk merubah arah yang biasanya. Resyana meminta agar mereka melewati jalan pegunungan yang naik-turun dan berkelok.
"Ngapain sih lewat jalan gunung, Syaa. Kan lebih enak lewat jalan tol. Nggak kebanyakan belok." protes Sarah.
"yaa nggak papa. Sekali-sekali. Lo nggak bosen apa lewat jalan tol melulu? Lurus-lurus aja nggak ada challenge-nya." jawab Resyana sekenanya.
"Yaelah, Syaa. Kalo ada jalan yang enak kenapa lo harus nyari jalan yang nggak enak sih?" Sarah tetap kekeuh memprotes.
"yaudah sih, Raaa.. Lo nggak usah kebanyakan protes dulu. Coba nikmatin jalannya aja. Kalo emang menurut lo nanti enakan lewat jalan tol, besok kita pulangnya lewat jalan tol." sahut Thalita.
Sarah hanya merengut kesal. Ia tidak biasa melewati jalan pegunungan yang naik-turun dan berkelok. Semakin jauh perjalanan, Sarah mulai berceloteh seperti anak kecil yang menemukan hal baru. Saat melihat hamparan hijau sawah terasering ia berkata "wiiih keren.." Beberapa puluh meter kemudian ia melihat hamparan tanaman bunga warna-warni. Ia takjub dan seketika menyuruh Thalita untuk berhenti.
"Taaaa, berhenti doong. Kiri.. Kiri." kata Sarah dengan nada sedikit keras dan mengagetkan.
Seketika itu Thalita menginjak rem. Mereka bertiga kaget ketika mobil berhenti tiba-tiba.
"Duuh lo apaan sih, Raa.. Gila lo, untung aja ini jalan lumayan rata. Coba kalo lo minta berhenti di tanjakan, pas tikungan pula. Bisa pulang tinggal nama kita." kata Thalita mengomel.
"hehehehe.. iyaa iyaa, sorry. Gue mau turun." kata Sarah seraya menyambar set kamera di sebelahnya."Syaa, lo turun dong. Fotoin gue."
Resyana hanya menghela nafas panjang dan kemudian turun dari mobil. Terjadilah sesi Photoshoot dadakan. Untung saja jalanan pagi itu masih lumayan sepi, hanya ada beberapa petani bunga dan sayur yang lewat membawa keranjang besar dari anyaman bambu.
Sekitar sepuluh menit sesi Photoshoot dadakan itu dilakukan, Thalita ikut turun dari mobil. Ia terlalu bosan menunggu sendirian. Setelah dirasa puas mengambil gambar, mereka mengakhiri sesi tersebut dengan foto selfie bertiga. Kemudian mereka kembali ke dalam mobil. Kini mereka bertiga bertukar posisi. Resyana duduk dibelakang kemudi, Thalita duduk di jok belakang, dan Sarah duduk di samping Resyana.
"Gue matiin aja ya AC-nya, lo buka aja kacanya. Biar kita dapet udara segar. Jarang-jarang kan kita dapet udara bersih bebas polusi kayak sekarang ini." kata Resyana.
"Ternyata asik juga ya lewat jalan gunung kayak gini. Udah udaranya seger, pemandangannya indah lagi." kata Sarah.
"iyeee. Makanya jangan suka protes dulu sebelum tau." sahut Thalita. Resyana hanya tersenyum dan berkonsentrasi pada jalan di depan.
Tangan Resyana meraba tombol radio, seperti biasa ia mencari saluran radio dimana biasanya menyiarkan informasi terkait lalu lintas. Kebetulan, radio tersebut sedang menyiarkan info terkait jalan tol yang biasa mereka lewati ketika akan menuju Villa. Ternyata, kondisinya macet parah. Panjang kemacetan sudah hampir 2 kilometer dan mobil hanya bisa bergerak perlahan. Diduga karena adanya long-weekend membuat volume kendaraan di jalan lebih banyak daripada biasanya.
"tuh, dengerin. Coba tadi kita lewat tol, pasti kita ikut jadi korban macet parah." kata Resyana. Sarah hanya nyengir kuda.
Sekitar pukul sembilan pagi, mereka sampai di villa. Dibantu penjaga villa, mereka menurunkan barang bawaan dan membawanya masuk. Setelah itu, mereka berguling-guling manja diatas tempat tidur di lantai dua. Mungkin karena mereka lelah dan hawa sekitar villa yang mendukung untuk memejamkan mata, mereka bertigapun tertidur pulas hingga sore harinya.
Resyana paling dulu terbangun karena suara handphone-nya. Telepon masuk dari bundanya, menanyakan posisinya sedang ada dimana. Memang, sekarang bundanya sedang sedikit posesif terhadapan dirinya. Semenjak dirinya dilarang terlalu dekat dengan Ardian, pacar yang sudah sekitar enam bulan dipacarinya. Bundanya tidak terlalu menyukai Ardian yang penampilannya agak Badboy.
"are you okay, best?" tanya Thalita yang bisa menangkap keresahan di wajah Resyana.
"yep. I'm okay." jawab Resyana datar. "oh no. I'm not okay at all." katanya seraya memeluk Thalita.
Sarah yang baru membuka mata ikut berpelukan. Sebelum benar-benar membuka mata, Sarah sudah sayup-sayup mendengar suara dua sahabatnya yang sudah lebih dulu terbangun.
"Sini, cerita sama kita." kata Sarah.
"yaaa, gitu lah. Bunda kelihatannya nggak setuju kalo gue sama Ardian. Padahal, gue udah yang yakin banget sama Ardian. Lo berdua kan tau, gue nggak pernah seyakin ini sama cowok." kata Resyana. Nada bicaranya sedikit berubah.Agaknya, ada titik sensitifnya yang sedang rapuh.
"Iyaa sih, gue ngerti. Sebelum gue beneran kenal dan ngobrol sama si Ardian, gue juga agak nggak setuju kalo lo sama dia. Tapi setelah gue ketemu langsung, dan ngobrol, gue rasa dia cocok kok sama lo." kata Thalita seraya menguncir rambutnya keatas.
"Hmm.. Gue setuju sama Thalita." sahut Sarah. "tapi kalo gue boleh tanya nih, lo kan banyak sih yang deketin, Syaa? Yang lebih segalanya dari si Adrian. Dan mama lo juga lebih welcome sama mereka. Oh iya, perasaan gue juga, lo kan dulu PDKTnya sama si Dhika, kenapa jadi pacarannya sama Ardian?"
"Mungkin ini yang disebut jodoh itu kadang tak terduga. Yang kelamaan PDKT kalah sama yang berani ngungkapin perasaan tanpa berbelit-belit." jawab Resyana. Ia menghela nafas panjang. Berbaring diatas bantal yang empuk.
"yaaa tapi kan, Syaa.. Si Dhika udah jelas-jelas bunda lo suka. Kalo lo sama si Dhika, udah pasti kan bunda lo setuju. Dan hubungan kalian juga bakal lebih mudah dijalanin." kata Sarah dengan nada memprotes.
"Raaa. Lo inget kan tadi pagi kita lewat mana. Lo yang paling kekeuh ngajak lewat jalan tol kan, dengan alasan jalannya lebih enak, nggak banyak gangguannya. Tapi, lo juga denger sendiri kan di radio kalo jalan tol macet parah? Nah, untuk kita lewat jalan pegunungan. Yaa emang sih jalanannya naik-turun belok-nikung gitu. Tapi indahkan? Dan lo seneng juga kan lewat jalan yang lo pikir nggak enak tadi? Waktunya juga lebih cepet dari biasanya." jawab Resyana. "sama kayak hubungan yang gue jalanin sekarang. Kalo misal gue sama Dhika, mungkin hubungan gue bakal terlihat lancar kayak jalan tol tadi. Tapi, gue nggak bahagia, Syaa."
"and then?" tanya Sarah penasaran dengan kelanjutan jawaban Resyana.
"yaa, kalo gue sama Ardian, yaa kayak jalan pegunugan tadi. Lebih challeging. Banyak rintangannya. Tapi indah. Gue bisa bahagia sama Ardian, Syaaa." kata Resyana. Airmatanya terlihat sudah berkumpul disudut matanya. Bersiap untuk tumpah. "maksud gue gini loh, Raaa.. Kalo jalannya lurus-lurus aja, apa yang bakal diperjuangin? Nggak bakal ada greget perjuangannya sama sekali. Sebenernya kalo gue mau, gue bisa aja main aman. Tapi gue mikir lagi, kalo gue main aman terus, kapan gue berani ambil resiko yang lebih 'worth it' hasil akhirnya? Ya gue tau sih semua pasti ada resikonya."
Sarah tidak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan Resyana. Sedikit butuh waktu untuknya mencerna apa maksud dari kata-kata Resyana.
"tau ah.. Gue bingung, gue pusing, gue bete, gue buntu." kata Resyana merengek.
"Kalo lo emang sayang dan udah yakin banget sama Ardian, lo bertahan sama dia ya, Syaa. Perjuangin dia, semampu lo. Tapi jangan mau kalo cuma lo aja yang berjuang, Ardian juga suruh berjuang ngeluluhin hatinya bunda gimanapun caranya." kalimat bijak Thalita pun meluncur dengan indah. "apapun asal itu baik buat lo kedepannya, gue pasti bakal dukung lo kok. Kita berdua bakal selalu ada disamping lo."
"Iyaa, bener, Syaaa." sahut Sarah dengan semangat empatlima.
Resyana menarik selimut dan membenamkan wajahnya di bantal. Ia tidak bisa lagi menahan badai air mata yang sedari tadi ingin tumpah. "kok gue gini banget sih?" gumamnya pelan.
Sarah dan Thalita saling beradu pandangan. Mereka bingung harus berbuat apa. Resyana adalah yang paling tegar dan jarang menangis diantara mereka bertiga. Mereka jarang sekali melihat Resyana menangis, yang paling sering malah mereka menangis dan ditenangkan oleh Resyana.
Sejurus kemudian, Thalita beranjak mengambil sesuatu dalam tasnya dan bergegas ke kamar mandi. Sarah tetap berada diatas tempat tidur sambil mengelus kepala Resyana pelan. Tak lama, Thalita keluar dari kamar mandi dan mencoba berbicara kepada Resyana.
"Syaaa.. Udah ya, jangan nangis terus. Gue tau ini berat buat lo, tapi kan kita kesini niatnya buat seneng-seneng sih, kok lo malah nangis gini?" tanya Thalita lembut.
Resyana perlahan membuka selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tak terkecuali wajahnya. Wajahnya sudah memerah, matanya juga terlihat sembab.
"lo mandi gih, berendam di bath-ub. Thalita udah siapin air anget buat lo berendam, plus lilin aroma therapy favorit lo." kata Sarah membujuk.
"yep. okay. Thank you so much, guys!" jawab Resyana seraya memeluk kedua sahabatnya. Kemudian ia menuju kamar mandi untuk sedikit relaksasi.
Dan setelah itu, mereka menghabiskan waktu untuk berbagi cerita ringan disebuah kedai teh dengan konsep rooftop langganan mereka. Sedikit melupakan tentang keluh-kesah, juga masalah hingga mereka lupa tentang hal buruk yang baru saja berlalu.
