Total Tayangan Halaman

Jumat, 21 Maret 2014

Jangan Remehkan "Saran Penyajian"

Haloo readers, selamat malam. Ketemu lagi bareng gue di postingan blog gue. Yaa, semoga kalian para readers blog ini nggak bosen yaa baca postingan gue. Dan semoga kalian juga nggak bosen sama ucapan selamat malam dari gue. Iyaa, soalnya gue kalo pagi sibuk meras keringat cari duit buat beli sesuap nasi (di KFC) dan secangkir kopi (di Coffee Shop), jadi gue baru bisa posting di blog pas sore atau malam hari. Hahahahahaaaa *ketawa sombong*

Mungkin kalian para readers, ada yang jadi anak kost yang hidup-matinya di akhir bulan tergantung sama makanan instant semacem P*PMIE, ENERG*N, dll. Yaa walaupun nggak bisa bikin beneran kenyang, tapi makanan instant ini bisa memanipulasi perut untuk sementara waktu. Lumayan kenyang lah yaaa.

Kadang yang sering tergantung sama makanan instant  kayak gini udah hafal cara penyajiannya gimana. Kadang saking hafalnya jadi ngeremehin yang namanya "Saran Penyajian" atau bahasa kerennya "Serving Suggestion". Hal ini pernah terjadi sama gue. Gue pernah bikin kebodohan pas lagi bikin makanan instant yang-tinggal-tuang-air-panas-langsung-jadi. Kebodohan yang terjadi ini nggak lain dan nggak bukan karena gue sok paham dan akhirnya ngeremehin saran penyajian yang tertera di kemasan.

Jadi ceritanya, waktu itu lagi nggak ada orang di rumah. Mama sama papa lagi pergi, adek gue juga lagi ada kerja kelompok di rumah temennya. Nah, dalam keadaan sunyi sepi sendiri kayak gini, perut gue tiba-tiba laper dan protes minta diisi. Sialnya, di lemari makanan kebetulan kosong, cuma ada tiga bungkus IND*MIE instant sama satu cup P*PSIS. Karena gue males bikin mie instant, gue milih bikin P*PSIS (variant baru P*PMIE GORENG SOSIS) yang cara bikinnya simple banget, tinggal tuang air panas, tunggu beberapa menit, bisa deh dinikmati.

Gue dengan brutalnya langsung ngebuka tutup cup, gue keluarin bumbunya sama bahan pelengkapnya, dan gue tuang air panas ke dalam cup mie instant itu. Gue pede nggak ngebaca saran penyajiannya, gue tersugesti sama kata "GORENG" yang maksudnya mie cup itu nggak pake kuah. Dengan kata lain, air di cup itu harus dibuang. Setelah + 3 menit, gue cek mie di dalam cup dan kelihatan udah melembek dan mateng. Gue buang air panas yang ada disitu. Gue tuang-tuangin bumbu sama saos sambal yang ada disitu.

Pas lagi nuangin bumbu, gue baru sadar sesuatu. Harusnya ini bahan pelengkap kan direbus bareng mie di dalam cup tadi? Gimana bahan pelengkapnya bisa dimakan kalo masih kering begini? Sadar akan kebodohan ini, gue langsung stress. Gue gigitin sendok sampe bengkok. *itu lebay* Gue mendadak bete, tau gitu kan gue tadi bikin IND*MIE aja tadi. Bisa gue tambahin sayur sama telur juga. Waaasyeeeeemm !

Yaaa, akhirnya terpaksa gue makan mie cup sama bumbu doang tanpa sosis dan sayur pelengkapnya. Iyaaa, gue tau, ini sama aja kayak makan IND*MIE. Gue makan dengan terpaksa, gue nyoba nikmatin sesuap demi sesuap walaupun dengan perasaan dongkol. Gue nyesel, gue pengen ngambek tapi bingung mau ngambek ke siapa. Akhirnya gue curhat ke boneka koala gue. Tapi si koala ini diem aja nggak ngerespon. Yaudah gue tambah sebel. Belum abis kesebelan gue terhadap mie cup sialan yang ada di tangan gue, adek gue dateng dan langsung nyamperin gue.

"Kak bikin p*psis yaa? Icip dong." dia dateng dan langsung ngerebut mie cup di tangan gue. Nggak lama dia komentar. "Lhaah ini sayur sama sosisnya mana? Udah kakak makan?"

"Udah jangan bawel, kalo mau icip makan aja. Itu tadi aku lupa masukin sayur pelengkap sama sosis keringnya. Harusnya kan tadi direbus air panas bareng sama mienya. Nah aku lupa. Nggak baca saran penyajiannya. Yaudah." gue ngejelasin dengan perasaan kesel, kecewa dan ngerasa bego.

Adek gue seketika ngakak dan hampir keselek mie cup. Dia ketawa ngakak nggak berhenti dan teriak "Dasar koplak!" Eeeh abis teriak dia lanjut ketawa. Duuuh, pengen gue sumpel aja tuh mulut pake kaos kaki yang belum gue cuci selama seminggu. Tapi sebagai kakak yang baik, gue urungkan niat jahat tersebut. Gue takut aja adek gue kena radang paru-paru dan ngalamin infeksi lidah kronis gara-gara kena kaos kaki busuk. Kan nanti gue juga yang repot.

Akhirnya gue cuma bisa gondok. Gue ngerasa bego abis. Gue merenung di kamar. Nggak jelas sih apa yang gue renungin. Tapi dari sini gue dapet pelajaran untuk jangan pernah meremehkan sebuah proses ketika melakukan "sesuatu" yang mungkin sering kita lakukan. Ada kalanya kita sesekali mengingat detail kecil dalam sebuah proses penyelesaian. 

Oke, gue rasa cukup buat postingan malam ini. Semoga bermanfaat bagi para readers semua. Good night, and see you on the next post. *Tarik Selimut*

Sabtu, 08 Maret 2014

New relationship ? Why not ?

Udah lama nggak buka nih blog. Sibuk sih soalnya.

Yaah, sibuk menata hati dan perasaan buat penghuni hati gue yg baru. Haha
Iya, udah lama nggak ngeshare apa-apa aja yg udah terjadi yaa. Jadi kelupaan juga kalo udah punya tambatan hati yg baru *tsaaah
Udah beberapa bulan nih jalan sama yg baru ini. Tapi nggak usah disebut yaa siapa namanya. :D
Di relationship kali ini lebih banyak godaannya, lebih banyak ujiannya. Kali ini, godaan datang dari apa kata orang soal hal hal negativenya pacar gue.
Telinga berasa panas denger hal semacam ini. Tapi gue berusaha buat calm down dan percaya sama pacar gue. Gue nggak tau kenapa, walaupun tampilannya semrawut tapi dia keliatan care dan sayang banget sama gue. Yaa, itu sih point pentingnya. Dari dulu emang gue nggak terlalu peduli sama penampilan pacar, karena gue rasa penampilan itu bisa di make over. Kalo sikap dan sifat kan nggak bisa. *aihsyedap
Oke, balik lagi. Tantangan relationship gue kali ini ada pada seberapa kuat gue jadi cewek yang tahan banting. Gue harus nebelin telinga dan nggak mudah on fire gegara nggak betah sama omongan dari mulut nganggur orang nggak jelas.
Gue percaya, semua bakal indah pada waktunya. Pilihannya cuma dua, bertahan buat pembuktian kalo perasaan gue itu kuat, nggak gampang goyah sama omongan orang. Dan pilihan kedua adalah gue nyerah sama keadaan yg artinya gue nunjukin kalo gue lemah dan kalah sama omongan orang.
*ini postingan lama pas gue masih punya pacar* *abaikan*

Untuk Ketiga Kalinya...

Bebiy : sayaaang.. aku lagi sakit nih. :(

Aku : sakit apa yaang? udah makan belum?

Bebiy : kecapekan sih. udah sayang. sayang udah makan belum?

Aku : ini lagi beli makan sekalian nyoba menu di cafe baru. yaudah, minum obat, trus istirahat yaa yaang biar cepet sembuh.. :*

Setelah pesan singkat melalui BBM yang terakhir aku kirimkan itu, tak ada respon. Hanya huruf R yang terlihat. Pertanda pesanku sudah dibaca. Lama aku menunggu balasan chat di BBM itu, namun hasilnya nihil. Yaa, aku rasa dia tertidur karena pengaruh obat. Mungkin dia sedang beristirahat. Namun ternyata, inilah awal dari hal buruk yang terjadi. Esok harinya, tak ada kabar, tak ada pesan. Tak ada sapaan, bahkan sekedar senyuman saat berpapasan. Aku bingung tentang apa yang sedang terjadi. Rasanya kemarin masih baik-baik saja. Tapi sekarang keadaan berubah seratus delapan puluh derajat. Kebanting abis.

Sehari tanpa kabar, dua hari tanpa kabar, hingga seminggu tanpa kabar. Tak ada pesan ataupun panggilan masuk. Aku mecoba mengirim pesan, tapi tak pernah ada balasan. Aku memberanikan diri menelepon dan aku bertanya ada apa sebenarnya.

"haloo.." sapanya datar dari jauh. "ada apa?"

"apa kabar yaang?" tanyaku. Suaranya sedikit mengobati rindu ini.

"aku baik-baik aja." jawabnya datar. Dingin.

"yaang, kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini ngilang gitu?" tanyaku to the point.

"aku nggak papa. Aku bosen aja. Lagi males." jawabnya dengan nada tetap dingin.

"bosen kenapa? Bosen sama siapa? sama aku?" tanyaku.

"yaa bosen sama semuanya. sama kamu, sama kerjaan, sama semuanya lah. rasanya pengen pergi jauh." jawabnya.

Hati terasa tertusuk ratusan pisau mendengar pernyataannya.

"kamu kenapa sih? kalo ada apa-apa cerita dong. Katanya harus saling terbuka, tapi kok kamu sekarang kayak gini?" tanyaku. Aku berusaha menahan emosi yang sebenarnya memaksa untuk diluapkan.

"nggak tau lah. udah yaa, aku lagi dirumah temen nih. Nggak enak sama temenku." dan telepon pun ditutup.

Aku mengumpat dalam hati. Aku marah atas perlakuannya. Airmata mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi. Namun, logika terkalahkan oleh cinta. Aku mengalah dan membiarkannya bebas berfikir selama beberapa waktu.

 Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulanpun ikut berganti mengikuti. Hubunganku dengannya semakin memburuk. Bahkan bisa dibilang sedang mengalami mati suri. Mungkin bisa dibilang aku sedang merasakan yang namanya "Pacaran rasa Jomblo." Tapi aku masih tetap bersembunyi dalam senyum yang seolah mengatakan "kita baik-baik saja." yaaa, dibalik kita baik-baik saja telah ada kita ada diambang perpisahan.

Berbagai pikiran negatif dan bayangan akan hal buruk yang akan terjadi pun bermunculan. Flashback tentang kegagalan dalam hubungan yang lalu pun ikut muncul dengan tidak sopan. Siklus diabaikan, lalu muncul alasan mainstream dan absurd yang berending putus pun sempat terlintas. Oh Tuhan, jangan lagi. Jangan sampai siklus ini terjadi untuk ketiga kalinya.

Aku bercerita mengenai hal ini kepada sahabatku yang kebetulan sedang menginap dirumahku. Dia shock dan tidak terima sahabatnya ini diperlakukan seenaknya seperti ini. Dia menyuruhku untuk berbicara empat mata dengan pacarku. Sebenarnya aku enggan melakukannya karena aku merasa belum siap menerima hal buruk yang mungkin akan terjadi setelahnya. Aku belum siap kehilangan, tetapi aku juga tidak tahan dengan rasa sakitnya diabaikan.

"udah best, kamu ajak aja dia ketemu. Dimana gitu. Trus ajak ngobrol. Tanyain maunya apa." kata sahabatku.

"tapi best, aku masih belum siap nerima resikonya. Kalo dia ngajak putus gimana?" kataku mencoba menolak sarannya.

"putus yaa putus best. Cari lagi lah. Jangan kayak cewek nggak laku deh. Kamu itu cantik, masa putus sama cowok model gitu aja takut?" jawabnya kesal.

"best, aku takut siklus dicuekin, dikasih alasan absurd berending putus terjadi lagi. Aku udah dua kali best ngalamin kejadian kayak gitu. Awalnya dicuekin berhari-hari sampe berbulan-bulan, trus endingnya putus dan alasannya itu nggak masuk akal banget, alasannya absurd." jelasku.

"udah pokoknya siang ini kamu ajak dia ketemu, dimana aja terserah. Pokoknya jangan di rumah best. Aku temenin kamu deh." katanya dengan nada terpaksa.

Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Siang hari, aku mendatangi rumah pacarku bersama sahabatku. Awalnya biasa saja. Sahabatku meninggalkan aku berdua dengan pacarku agak aku bisa melepaskan semua uneg-uneg dan beban hati. Tapi aku bingung harus memulai dari mana. Selama hampir satu jam kami hanya saling diam tanpa bicara. Hanya sekedar basa-basi ringan. Akhirnya aku mecoba memulai menjelaskan semua isi hati yang sudah menyesakkan selama ini.

"yaa udah, kita jalanin dulu aja. Liat aja nanti kedepannya kayak gimana. Kalo jodoh ya kita nikah, kalo enggak ya kita pisah." jawabnya enteng. Itu terasa seperti tamparan yang amat keras untukku.

"jadi kamu udah nggak sayang sama aku? Udah nggak cinta sama aku?" tanyaku. Aku mencoba untuk menahan emosi untuk kesekian kalinya.

"sayang sih masih, tapi udah nggak cinta." jawabnya singkat.

"kenapa?" tanyaku lagi. Aku masih belum bisa terima.

"kamu belum bisa dewasa. Masih kayak anak kecil. Contohnya waktu aku sakit kamu malah nongkrong di cafe kan sama temen kamu? Perhatiin aku kek, yaa walaupun nggak dateng kesini seenggaknya kamu nggak seneng-seneng sendiri pas aku lagi sakit." jawabnya agak ogah menjelaskan.

"hah? kayak gitu enggak dewasa? Aku kan udah bilang sama kamu, tapi kamu nggak ada respon. Yaa aku kira kamu istirahat soalnya kan lagi sakit." aku masih berusaha menstabilkan emosi yang sudah berstatus awas.

"kamu sih kebanyakan kira-kira. Dinalar lah makanya." jawabnya santai. "kita liat aja, kalo kamu udah bisa dewasa, mungkin aku bisa cinta lagi sama kamu. Sekarang jalanin biasa aja."

"kamu mau aku dewasa yang kayak gimana lagi sih?" tanyaku tak paham.

"dewasa itu bukan soal omongan, tapi sikap dan hati. Yah pokoknya aku nggak mau ngekang kamu jadi dewasa yang kayak gimana. Aku nggak mau dibilang nuntut kamu. Aku mau kamu dewasa apa adanya kamu."

Lagi-lagi logika terkalahkan oleh cinta. Cinta membuat aku merasa aku memang salah, aku memang belum bisa dewasa. Padahal jika dilogika, dialah yang belum dewasa, namun pandai membuat alasan yang bisa membuat aku seolah bersalah. Selama beberapa hari aku merenungi kejadian hari itu, aku memutuskan untuk mundur dari hubungan ini. Hubungan yang membuat aku sangat bahagia, dan juga sangat kecewa. Memang tak mudah untuk melogika semua alasan absurd yang telah terlontar, namun sahabat-sahabat terbaik yang ada disekitarku telah membantuku untuk bisa membuka mata dan melogika semuanya.

Untuk ketiga kalinya aku menjadi korban alasan absurd berending putus. Untuk ketiga kalinya pula, "aku yang merasa sebagai tulang rusuk yang ditemukan pemiliknya" berpikir bahwa "Aku masih hanya sebongkah tulang rusuk susu. Tulang rusuk susu yang menanti waktu untuk berubah menjadi tulang rusuk permanen."



*inspired by : Tulang Rusuk Susu ~ Indra Wijaya*

Rabu, 05 Maret 2014

Kejadian kampret di ATM

Hallo readers, selamat malam. Sebelum mulai postingan ini, mari kita putar lagunya mbak Madilyn Bailey dulu yaa. Judulnya Die In Your Arms. Ini sebenernya lagunya Justin Bieber, tapi dicover sama mbak Mady. Kalo nggak tau, seacrh aja gih di google.

Oke, malam ini gue mau cerita pengalaman kampret gue di ATM atau Anjungan Tunai Mandiri. Iyaa, mesin yang bisa ngeluarin duit itu loh. Dulu sempet pengen gue pacarin nih mesin, biar bisa belanjain gue kalo gue mau beli-beli apa gitu. Tapi berhubung nih mesin berat, nggak bisa diajak jalan, adem pula, keinginan gue buat macarin nih mesin jadi pupus.

Ini cuma ilustrasi. yang pake baju orange itu bukan gue. Sumpah !
 Cerita gue yang pertama itu, pas gue baru awal-awal gue kerja. Kalo nggak salah sih pas gaji kedua gue keluar. Gue excited banget. Pas malem, gue maunya nongkrong sama temen-temen gue. Kebetulan tempat nongkrong kita itu jalannya ngelewatin salah satu Bank yang kerjasama sama kantor gue ngurusin gaji para karyawannya. Mampirlah gue ke Bank itu buat ngambil uang. Pas gue masuk kesitu, ada kali lima mesin ATM baris disitu. Gue ngayal, pas masuk, itu lima mesin pada ngeluarin duit semua buat gue dan bilang "ini uang untukmu tuan putri, buatlah belanja sesukamu."

Tapi tiba-tiba pundak gue ditepuk sama temen gue dan dia bilang "best, gue tunggu diluar aja yaa. Jangan lama-lama." Seketika lamunan gue buyar. Padahal gue belum sempet ngambil duit yang dikeluarin para mesin ATM di khayalan gue. Kampret.

Karena gue buru-buru dan nggak enak kalo ngebiarin temen gue nunggu lama, gue langsung nyamperin salah satu mesin ATM tanpa ngeliat keadaan sekitar. Gue langsung main masukin kartu ATM gue. Pas kartu ATM gue udah masuk, gue baru ngeliat layar yang ada di Mesin dan gue baru nyadar kalo ada tulisan gede banget nempel disitu. Isi tulisannya "MAAF MESIN ATM SAAT INI TIDAK DAPAT DIGUNAKAN". Haaah? Tidaaaakk.. Gue cuma bisa melongo bego. Gue malu sama orang-orang sekitar gue.

Selain malu, gue juga panik. Kartu ATM gue belum keluar dari mesinnya. Aaaaaahhh. Kebayang kan gimana rasanya malu dan panik campur jadi satu? Hah. nggak bisa bayangin? Dasar nggak peka. Huh.

Akhrinya datenglah pak satpam bank tersebut. Dia ngejelasin kalo mesinnya bukan rusak, cuma nggak ada isinya aja. Soal kartu ATM, kalo nggak bisa keluar ya terpaksa nunggu besok pas banknya buka. Baru bisa ambil kartu ATMnya. Duh, gue berasa bego. Gue malu. Tapi gue juga panik. Nggak lama, kartu ATM gue keluar dengan elegan dari mesin ATM itu. Alhamdulillah. Gue langsung cengar-cengir nggak jelas.

Karena takut bikin temen gue nunggu lama, gue buru-buru ngambil uang di mesin ATM yang bisa dipake buat ngambil duit. Abis ngambil, gue langsung keluar nyamperin temen gue. Muka gue sih masih keliatan malu bercampur panik. Temen gue heran ngeliatin muka gue. Gue cuma diem dan bilang, "ntar aja deh gue ceritain kalo udah nyampe."

Akhirnya, sampailah gue ke tempat nongkrong faforit gue sama temen-temen gue. Sambil nunggu pesenan kita dateng, gue cerita soal hal bodoh yang gue alamin tadi. Temen gue langsung ngakak semua. Keras banget sampe semua pengunjung disitu ngeliatin kita. Gue cuma bisa nyengir nggak jelas.

 Kejadian ini nggak sekali aja terjadi. Gue udah tiga kali ngalamin hal bodoh yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Gue nggak baca tulisan "MAAF MESIN ATM SAAT INI TIDAK BISA DIGUNAKAN" sampe tiga kali. Kok bisa? Gue juga nggak tau. Ini mungkin gue yang bego, atau mungkin juga mesin ATMnya lebih pinter ngebegoin gue. Entahlah.

Cerita lainnya terjadi belum lama ini. Ada kali dua mingguan yang lalu pas gue mau ngambil duit di ATM depan tempat kerja gue. Kebetulan disitu lagi ada adegan pengisian ulang uang di mesin ATM. Iyaa, baru kali ini gue ngeliat adegan semacam ini. Dijaga polisi pula. Keren abis. Atau mungkin gue yang norak abis. Nggak tau deh.

Nah pas gue lagi nunggu adegan pengisian ini kelar, mas-mas teknisinya bilang "ini mesin yang pecahan limapuluh ribu udah bisa dipakai mbak. Barangkali mbaknya butuh banget, pake yang ini aja dulu."

Gue tanpa nunggu lagi akhirnya masuk dan menghampiri mesin ATM yang berisi uang pecahan lima puluh ribuan. Ternyata di dalem situ ada bapak polisi juga, bawa pistol laras panjang. Pas gue masuk, itu bapak polisi ngeliatin gue dengan agak bengong. Mungkin dia kaget liat ada bidadari masuk. *eeeeaaaaa

Sedetik kemudian itu bapak polisi nyeletuk,"duh, saya kira itu tadi Dewi Persik yang masuk. Saya sampe kaget." Denger itu gue langsung syok.

"Hah? Siapa yang bapak kira Dewi Persik? Saya?" gue pasang muka nggak percaya. Tapi yang sok manis gitu. *udah jangan dibayangin*

"yaiyalah mbak, siapa lagi. Tapi iya loh mbak, saya lihat-lihat mbak ini wajahnya mirip banget sama Dewi Persik." kata bapak polisi itu.

"Bapak orang kesekian yang bilang saya mirip Dewi Persik pak." gue jawab sekenanya. Biar terkesan ramah aja, tapi tetep asli bete.

Keluar dari ATM, gue ngedumel sendiri. Gue nanya-nanya sendiri. Kenapa semua orang bilang gue mirip Dewi Persik sih? Gue kan nggak kontroversial. Gue kan nggak bisa nyanyi dangdut, paling cuma beberapa lagu aja sih yang gue bisa. *lhoo . Gue juga nggak bisa goyang gergaji. Trus apa yang bikin gue mirip? Gue mikir sepanjang jalan. Gue mikir terus.

Sampe postingan ini diterbitin gue masih mikir, kenapa gue bisa berkali-kali ngelakuin hal bodoh di ATM? Kenapa juga gue masih aja dibilang mirip Dewi Persik? Entahlah. Yang jelas gue capek, gue mau tidur dulu. See you on the next post. :)

Selasa, 04 Maret 2014

Gue vs. Dewi Persik

Hallo, selamat malam readers semua. Apa kabar? Semoga baik-baik aja. Rasanya sih gue lama banget nggak ngepost, soalnya otak gue ketimbun sama abu vulkanik gunung Kelud yang meletus baru-baru ini. Jadinya yaa gue susah mikir. Gue nggak dapet ide mau bahas apa di blog. Sekalinya ada ide banyak, pas ngadep depan laptop idenya ilang. Duuh, bikin galau banget kaan.

Sekarang, gue mau bahas soal hal yang bikin gue agak kesel. Gue dimiripin sama Biduan fenomenal mbak Dewi Persik alias mbak DePe. Gue juga nggak tau miripnya dari bagian mananya. Gue agak ilfil sih dimiripin sama si mbak DePe ini. Yaa walaupun dia artis terkenal, tapi tetep aja gue nggak suka. Selain dimirip-miripin sama si mbak DePe, gue juga dimiripin sama Melinda, biduan pelantun lagu "Cinta Satu Malam", kalo gue pake jilbab juga ada yang bilang mirip Fatin Shidqia L. Terakhir, gue juga dikasih liat video Bokep yang pemeran ceweknya itu punya wajah yang mirip banget sama gue. Yaa Tuhan, nggak ada yaa artis yang agak beneran dikit yang bisa dimiripin sama aku? Tapi untung sih masih bisa mirip Fatin, ada nilai plusnya.

Jadi awalnya, boss gue si Mr. R iseng-iseng ngeliatin gue pas lagi kerja. Abis itu, tiba-tiba beliau nyeletuk bilang "kalo saya lihat-lihat, kamu ini mirip Dewi Persik loh yaa." trus beliaunya ketawa. Gue cuma bisa nganga goblok. "ha?" sumpah goblok abis. Kayaknya kalo ada yang ngefoto candid muka gue pasti kelihatan banget betapa congoknya muka gue waktu itu.

Nggak lama setelah Mr. R bilang gitu, temen-temen sekantor gue yang lain juga ngasih komentar yang sama. "eeh iyaa loh, wajah lo tuh mirip banget sama mbak DePe." Ada juga komentar yang kampret abis "eeh ada mbak DePe, goyang gergaji dong mbak." Denger itu gue langsung gondok. Gue bete. Gue sebel. Gue laper. Gue ngantuk. Gue nangis dibawah hujan *Dramatis

Pas lagi makan malem bareng keluarga, gue iseng nanya ke mama soal mirip atau enggak gue sama mbak DePe ini. Sontak mama langsung keselek sayur asem. Adek gue langsung ketawa ngakak nggak berhenti. Yaa, lagi-lagi gue gondok. Papa gue cuma senyum. Mama yang udah recovery dari keselek sayur asem langsung komentar "yaaa enggak laah. Siapa yang bilang? Mama nggak terima anak mama dibilang mirip sama biduan kontroversial gitu."

"woles maa, woles. Kan aku cuma nanya maa." kata gue. Kalem. Abis liat respon mama kayak gini, gue jadi nggak berani nanya lagi. Gue takut aja mama gue keselek terus kalo gue nanya soal ini. Kalo keselek aja sih nggak masalah, nah kalo sambil nyembur, ya repot. Kan kasian korban yang kena semburnya tadi.

Gue jadi sering ngaca semenjak dibilang mirip mbak DePe. Bagian mana dari gue yang mirip sama mbak DePe ini masih jadi misteri.Mr. R kalo gue tanya jawabnya "yaa mirip semuanya. Dari wajah, rambut, sampe postur tubuhmu." Temen-temen gue kalo gue tanya juga jawabnya sama. Katanya, kalo rambut gue lagi gue iket ala kuncir kuda tanpa poni, malah kelihatan banget miripnya. Terutama wajah.
 

Ini gambar mbak DePe :


Ini gambar gue :

 

Liat gambar mbak DePe, liat gambar Gue. Liat gambar mbak DePe, liat gambar Gue. Liat gambar mbak DePe, liat gambar gue. Udah ? Jadi gimana ? Lo udah nemuin persamaanya belum ? Kalo udah lo kasih tau gue yaa.

Akhirnya, seminggu yang lalu gue potong rambut gue jadi sebahu. Iya, ini emang ekstrim. Alasannya? Karena gue pengen tampil lebih fresh dan biar nggak dibilang mirip mbak DePe lagi sih. Tapi ternyata, gue tetep aja dibilang masih mirip sama si mbak DePe. Yaudah, gue akhirnya pasrah aja mau dibilang mirip siapa juga. Harapan gue yang awalnya "Semoga gue nggak dibilang mirip DePe lagi" akhirnya berubah jadi "Terserah deh mau dibilang mirip mbak DePe juga nggak papa. Rejekinya aja yang mirip, kelakuan sama kontroversinya jangan."

Okee, gue rasa cukup dulu yaa postingan hari ini. Gue udah capek. See you on the next post. :)

Senin, 03 Maret 2014

Mimpi

Banyak definisi tentang mimpi menurut sebagian orang. Maksud gue disini mimpi dalam arti yang sebenarnya ya, bukan "mimpi" yang berarti cita-cita.
Ada yang bilang mimpi itu kebalikan dari kenyataan. Kalo mimpi orang nangis, itu artinya yang nangis jadi bahagia. Kebalikannya, kalo mimpi bahagia, itu artinya yang bahagia bakal ngerasain sedih luar biasa sampe nangis.

Kalo mimpi orang mati, katanya orangnya bakal panjang umur. Gitu deh. Gue juga nggak paham darimana pendapat model begini bisa ada. Percaya nggak percaya deh.
Ada juga yang bilang mimpi itu bunga tidur. Gue nggak paham sama maksud dari pendapat ini. Apa kalo mimpi lagi tersesat di hutan penuh bunga mawar trus ketemu pangeran ganteng kayak Vicky Nitinegoro bisa disebut mimpi indah ? Trus kalo mimpinya di kebun bungan bangkai dan ketemu mantan bisa jadi mimpi buruk ? Nggak juga. 

Mimpi katanya juga gambaran masa depan, bisa jadi kenyataan. Apalagi kalo mimpinya tiga kali berturut-turut. Potensi buat jadi kenyataan itu lebih gede. Katanya sih gitu. Makanya, pas gue dua kali berturut-turut mimpi balikan sama mantan gue jaman SMA yang paling kece gue langsung berharap biar bisa mgmpi yang ketiga kalinya. Iyaa, jadi gue bisa balikan beneran sama dia. Hahahaa

Ngomongin soal mimpi, gue beberapa waktu lalu mimpi ditikung temen gue sendiri. Gue mimpi temen gue ini pacaran sama mantan gue yang mutusin gue pake alasan yang absurd banget. Gue nangis kecewa. Di mimpi gue, temen gue ini panik setengah mati takut ketahuan sama gue kalo dia pacaran sama mantan gue. Tapi akhirnya si temen gue ngaku juga kalo emang dia yang nikung gue. Gue nggak tau, mimpi gue pas ini rasanya nyata banget. Entah karena ini emang isyarat kenyataan, atau gimana. Menurut gue ini termasuk mimpi buruk sih. Dan kata orang tua jaman dulu, kalo punya mimpi buruk nggak boleh diceritain ke siapa-siapa. Katanya biar nggak jadi kenyataan. Gitu.
 
Tapi, gue bukan tipe orang yang percaya gituan, jadi gue cerita hal ini sama sahabat gue.
"Best, gue mimpi ditikung sama temen gue. Mimpinya berasa real banget deh." curhat gue lewat Voice Note BBM.

"Lo pasti terlalu mikir deh ini best. Iyaa nggak?" jawab dia lewat Voice Note.

"Iyaa sih dikit.."

"Nah makanya, udah jangan di pikirin lah masalah kek begini. Kayak nggak laku aja lo."

"Iyaa best. Gue nggak mikir kok. Gue mah mati satu tumbuh seribu. Hahahaha"

"Eeh tapi kalo mimpi lo beneran kejadian gimana best?" pertanyaan ini bikin gue cuma bisa nelen ludah. Sedetik gue diem. Gue bingung mau jawab apa.

"yaa gimana yaa best yaa. Gue ikhlasin aja deh kayaknya. Yaa mungkin emang bukan gue cewek yang dia mau. Gue nggak peduli, selama mereka baik sama gue yaa biarlah."

"Lo bisa ikhlas? Kalo gue jadi lo, gue udah kepet abis deh tuh cewe. Nggak tau malu banget jadi cewe." sahabat gue emosi

"yaa kan lo yang bilang, nggak udah dipikirin. kayak nggak laku aja."

"Yaiya sih. Yaelah best, lo emang pinter deh ngebalikin omongan orang. Dasar loo" 

Nggak ngerti kenapa, gue lega aja abis cerita soal mimpi gue itu ke sahabat gue. Mungkin, mimpi gue ini tadi adalah mimpi di taman bunga bangkai yang menjadi isyarat dan kelanjutan khayalan gue pas sebelum tidur.

yaa gitu deh. Absurd emang post gue kali ini. Gue mau semedi dulu biar bisa ngepost sesuatu yang kece. See you on my next post yaaa.. =))